Program Pesantren: “Kalau Nggak Mau Masuk Pesantren Nggak Usah Masuk UIN!”

Ilustrasi: Nadia Nur Khasanah.

lpmrhetor.com, UIN – Jumat (20/7), warung kopi seperti biasa begitu ramai, suasana terlihat terang benerang karena banyak lampu LED terpasang di langit-langit atapnya. Banyak anak muda yang saling berkumpul beradu rindu bersama kawan-kawan, saling bertukar pikiran hingga saling sibuk menatap handphone masing-masing entah sibuk mengabari sang kekasih atau hanya sekedar bermain game online yang sekarang banyak di gandrungi berbagai pemuda dari berbagai kalangan. Setidaknya demikian tradisi ‘ngopi’ bagi anak muda zaman sekarang.

Pukul 19.08 WIB, saya sampai di warung kopi Basabasi. Sebelumnya saya telah membuat janji wawancara dengan mahasiswa baru, Adelia Fridha Iffani. Saya mengenalnya dari Pemimpin Redaksi saya, Fahri Hilmi, karena Adel merupakan salah satu mahasiswa baru yang mengajukan keberatan atas program pesantren selama dua semester dan karena itu, ia mendapat sambutan yang kurang baik dari bagian kemahasiswaan.

Seperti malam-malam kemarin, Yogyakarta sedang dilanda hawa dingin yang begitu menusuk. Dengan ditemani segelas menuman hangat, saya menunggu Adel yang sebelumnya bilang datang sedikit terlambat.

“Aku masih jaga stand kak, aku masih belum selesai,” ujarnya via pesan Whatsapp.

Tepat pukul 20.00 Adel mengabari bahwa ia sudah menunggu di depan, “Kak, di mana? Aku udah di sini, pakek jaket jeans ijo.” Saya langsung bergegas meninggalakan kursi dan menengok ke arah tempat parkir, saya lambaikan tangan kepada gadis itu sebagai isyarat menunjukkan keberadaan tempat di mana saya berada.

Kami bertemu dan bersalaman, ia tampak begitu manis tak terlihat riasan neko-neko di wajahnya, tampak begitu natural dan gaya bicaranya yang cukup menyenangkan.

“Adel,” ia memperkenalkan diri sambil mengulirkan tangannya kepada saya. mahasiswa baru Fakultas Adab dan Budaya jurusan Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Gadis dengan dengan semangat juang tanpa batas.

“Kak, ini nanti bakal lama nggak, ya?” ucapnya sebelum duduk dengan ekspresi senyum malu yang terlihat begitu khas di raut wajahnya. Tak ingin membuang waktunya saya langsung melakukan wawancara.

Ia menceritakan berbagai hal mengenai keberatannya terhadap program pesantren di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, seperti berikut:

Saat verifikasi terakhir (Adel lupa saat di tanya kapan hari dan waktunya)  untuk mengumpulkan berkas dan kesanggupan bayar UKT, ia tiba-tiba ditanyai asal sekolah oleh petugas verifikasi dan ketika petugas mengetahui bahwa Adel berasal dari sekolah umum, tiba-tiba ia dihimbau untuk mengisi namanya dalam sebuah blanko, tanpa ada penjelasan apa pun dari sang petugas.

“Pas Adel verifikasi terakhir buat ngumpulin berkas dan kesanggupan bayar UKT, itu ditanyain sama mbak-mbak, ‘Dari mana?’ Adel jawab dari SMK 5, terus tiba-tiba Adel di uruh ngisi, dan mbaknya nunjuk dan adel suruh ke sana buat ngisi yang katanya itu kertas buat pendaftaran pesantren tanpa di jelaskan apa pun. Di Pesantren Nawesa dan di kasih kayak brosur gitu. Adel di suruh ngisi tapi Adel nggak kumpulin. Kayak brosur pendaftaran gitu, di Jalan Wonosari, jauh tempatnya. Terus yaudah Adel pulang,” tegasnya.

Senin (16/07) sekitar pukul 09.00 pagi, ia kembali ke kampus untuk memberikan surat keberatan mengikuti program wajib pesantren selama 2 semester, Adel tak mendapat sambutan dan tak mendapatkan penjelasan apa pun  ketika datang di bagian kemahasiswaan UIN Suka.

“Saya ke bagian kemahasiswaan, itu tu ada 3 cewek, sama 1 cowok. Bapak-bapak kan sama ibu-ibu. Tapi yang satunya ibu-ibu nya kayak ke belakang gitu lho. Terus ditanya mau ngapain? Habis itu, Adel jawab,  mau ngasih surat keberatan terus habis itu, kenapa gara-garanya, saya jawab biaya, yang ibu-ibu itu ngomong gini, ‘Kalau misalnya nggak mau masuk pesantren nggak usah masuk UIN!”,  yaudah habis itu Adel cuma diem aja,” jelas Adel dengan wajah pucat pasi.

“Terus habis itu ibu-ibunya pokoknya ya ngomong kayak gitu terus, terlihat judes, dia maskeran si jadi Adel ga begitu tau,” imbuhnya.

Setelah menyerahkan surat keberatan yang telah di tanda-tangani ibunya, ia tak mendapatkan penjelasan atau pun jalan keluar yang bisa menjadi buah tangan untuk ibunya ketika pulang ke rumah.

“Pokoknya ibunya cuma jelasin kalo pesantren itu wajib, tidak ada penjelasan apa pun setelah itu. Belum ada pemberitahuan lagi. Jadi kayak Adel merasa ini itu gimana gitu. Sempet gimana yaa maksudnya kalau misalnya kayak gitu kenapa tindakannya dikeluarin setelah UKT keluar,” jelasnya.

Adel mengaku sebenarnya ia tak merasa keberatan dengan program wajib pesantren tapi karena faktor ekonomi dan kondisi keluarga tak mampu lagi untuk membayar.

“Adel nggak merasa keberatan sama program pesantrennya, cuma karena kondisi keluarga saja,” ungkapnya.

Kondisi keluarga yang kurang dalam perekonomian tak mematahkan semangat adel untuk dapat terus mengenyam pendidikan hingga bangku perkuliahan, meski harus di-sambi bekerja siang dan malam. Adel gadis pekerja keras yang tak ingin menyusahkan orangtuanya karena ia sadar, ia masih mempunyai 2 adik yang masih duduk di bangku sekolah dan pastinya membutuhkan biaya yang extra pula, ayahnya yang hanya driver ojek online dan ibunya bekerja di bidang admistrasi sekolah dasar di bagian tata usaha.

“Biar nggak nambahin tanggungan orangtua juga. Adek adel juga masih pada sekolah, yang satu SMK yang satu baru masuk kelas 1 SD mana semua swasta dan butuh biaya semua. Jadi, ya gitu extra, papa adel cuma driver, driver gojek tapi kalo ada panggilan nyupir yaa nyupir. Ibu kerja di bagian admistrasi TU di SD IT (sekolah dasar islam terpadu-Red),” ungkap adel.

Program wajib mondok selama 2 semester membuat Adel galau dan risau.  Bagaimana tidak? Ia sudah merencanakan bahwa ia akan bekerja sembari kuliah.

“Maunya itu kerja sambil kuliah. Lha ini karena ada program pesantren, mikirnya gimana ini, mana kan 1 tahun, 1 tahun kan juga nggak bentar to, satu tahun 12 bulan, 12 bulan udah bisa ngasilin berapa, mungkin Adel downnya di situ” tutup Adel []

 

Reporter: Itsna Rahmah N.

Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW