Puisi-puisi Naspadina: Tak Lagi Sama

onehearthforonelove.blogspot.com

Di Suatu Malam

Tuhan

Suatu malam, di depan rumah-Mu

Ku saksikan orang berbondong-bondong

Bertamu

Menemui-Mu

Dengan senyuman, haru kerinduan, sesal, juga keluh.

Mereka saling bertegur, menjabat tangan,

Tergesa-gesa, menata sendal,

Lalu memasuki pintu.

Tetapi tak satupun riuh terdengar

Hanya hening juga suara tetesan air

Yang jatuh tiap dua detiknya

Menghentikan lamunanku

Membawa pada kenyataan

Bahwa semua hanya halusinasi.

Ramadan kali ini benar-benar berbeda.

Masjid-masjid sepi, berganti takbir yang terdengar sayu

dari rumah-rumah manusia.

Aku duduk termenung,

Sementara suara tetesan air dari keran wudhu yang rusak

Masih saja jatuh perlahan.

 

Masih tentang mu, Buk

Masih tentang mu, Buk

Tentang suara air keran di sepertiga malam

Yang bukan lagi hanya soal tahajud yang tak alpa kau lakukan

Tetapi juga suara air cucian beras, juga sayur persiapan sahur untuk kami.

Masih tentang mu, Buk

Tentang wajah dengan pancaran ketulusannya,

Juga belaian lembut tangan mu,

Saat membangunkan kami

Sedang, kami masih sibuk melajutkan tidur,

Lantas dengan sayu terdengar di telinga kami.

“Nak, bangun Sayang. Sudah waktunya sahur”

Masih tentang mu, Buk

Tentang piring di dapur yang saling beradu

Kerap kali saat senja mulai menampakkan diri

Dan azan maghrib pertanda buka tak lama lagi berkumandang.

Masih tentang mu, Buk

Tentang do’a yang selalu kau rapalkan sehabis sholat.

Katamu, ramadan kali ini

Do’a tak lagi hanya soal keluh kesah dan peraduan dosa,

Tapi juga agar semua ini cepat pulih.

Terlalu lelah menahan jabat,

Dan menebar senyum di balik masker.

Ucapmu, sambil mengenang hari-hari kemarin

Saat pandemi tak menjadi cerita panjang

Juga keluhan manusia di tiap harinya.

 

Dunia

Dunia adalah sangkar

Pembelenggu kehidupan sejati.

Ia adalah sangkar,

Di dalam sangkar yang lebih besar bernama akhirat.

Sebuah kehidupan terakhir

Sebelum semuanya lenyap dalam ketiadaan sejati.

 

Hidup

Hidup adalah perjalanan melepaskan

Sangkar demi sangkar

Dari diri yang fana, menuju diri yang sejati

Dari ketiadaan, menuju ketiadaan sejati

Dari kenikmatan, menuju kenikmatan sejati

Dari kebahagiaan, menuju kebahagiaan sejati.

 

You may also like

Puisi-puisi Kusharditya Albi

Toilet Terima kasih untuk Tuhan yang telah sudi