Puisi-puisi Fajrul Karnavian

//google.com

Sajak Pelajar

Kami adalah pelajar

Serupa tahanan politik, para petani tanam

paksa yang diperintah Jenderal Van Den Bosch,

Para buruh perusahaan.

 

Kami buta oleh persoalan-persoalan kebutuhan

Diakibatkan tembok menjulang,

Jam belajar yang seperti kerja rodi

Pada masa penjajahan.

 

Kami tak tahu

Apa yang terjadi di Papua-Kalimantan

Kami tak tahu

Apa yang terjadi di malam mencekam 30 September 1965

Kami tak mengenal

Munir, Wiji Tukul, Marsinah, dan Salim Kancil

 

Kami dipaksa untuk menguasai mesin industri

Kami dipaksa  memahami rumus phytagoras,

Logaritma, dan lain sebagainya.

Kami dibungkam berpendapat

Bahwa kebebasan adalah dongeng santa claus

Lalu kami dianggap gagal

Atas dalil dan standar moralitas

yang mereka tentukan

 

Nyanyian untuk Burung 

Wahai burung-burung yang dipenjara sangkar besi

apakah amarahmu berkobar?

 

jika mereka membakar hutan-hutanmu

tempat dulu kau bercumbu dengan betinamu

mereka menyihirnya menjadi sebuah tambang-tambang

dan mencemari wajah ibumu yang biru dengan asap,

 

jika mereka mengeruk gunung-gunung mu

seperti sebuah luka saudaramu

yang ditembaki oleh senapan

dan mati di lubang tambang

demi melindungi ibu semesta,

 

jika sanak saudaramu

tidur di sebuah atap menara gereja

dipenuhi ketakutan-ketakutan gaib

dan ia menatap bintang-bintang yang menggigil di kejauhan itu

sambil bertanya-tanya dalam hati, esok hari giliran siapa yang akan gugur?

 

Wahai burung-burung yang dipenjari oleh sangkar besi

luapkan amarah mu dan keluarlah dari sangkar itu

 

jadilah seperti burung ababil

lalu habisi musuh-musuhmu dengan kemarahan neraka

 

atau jadilah burung phoenix

dan buat barisan di muka langit dan matahari sebagai simbol perlawanan

 

atau kamu hanya diam di dalam sangkar besi itu

patuh pada tuanmu

dan rela didandani

 

Sepucuk Surat Buat Max Haveelar

Max,

Aku takut dan marah

Ketika kelaparan, penindasan, dan pembunuhan

Bagai tangan-tangan gaib mengetuk-ngetuk jendela rumahku

 

Max,

Aku telah membaca cerita duka

Saidjah dan Adinda

Bagaimana pemerintah merampas dan menyembelih

Kerbau kerbau yang tidak berdosa itu

Bahkan mereka meyembelih nyawa Ayahnya dan Tunangannya Saidjah

 

Namun, Max.

Penindasan adalah warisan

Kesewenang-wenangan adalah keturunan para Borjuis atau para Politikus.

Mayat-mayat yang ditembak dan dibakar

Dari zaman ke zaman

Adalah penengak keadilan

Seperti kau, Max.

 

Max,

Engkau telah meninggalkan tanah Hindia atau Indonesia

Bersama kolonial yang merampas hasil panen petani pada masa penjajahan

Namun, kini para petani dan buruh

Masih belum merasakan kemerdekaan

Mereka para pemegang kekuasaan,

merampas lahan petani, menindas para buruh,

Dan pahlawan-pahlawan kami

Seperti Wiji Thukul, Marsinah, Salim Kancil dan masih banyak yang lain

Habis terbunuh oleh senjata-senjata pribumi

Bukan senjata kolonial, Max

 

Max,

Kaum petani, buruh, dan para penengak keadilan

Masih terus merasakan penjajahan

Tetapi mereka yang memegang kekuasaan

Menuangkan anggur ke gelas masing-masing

Dan merayakannya dengan bersulang

Sedangkan jeritan kelaparan, mayat, dan tangisan. berbaris di depan istana mereka

Max, Apakah kau mengutuk mereka?!

Fajrul Karnavian, Seorang penyair muda, asal Polewali Mandar yang pernah bersekolah di Yogyakarta.

You may also like

Puisi-puisi Kusharditya Albi

Toilet Terima kasih untuk Tuhan yang telah sudi