Sajak Pelajar
Kami adalah pelajar
Serupa tahanan politik, para petani tanam
paksa yang diperintah Jenderal Van Den Bosch,
Para buruh perusahaan.
Kami buta oleh persoalan-persoalan kebutuhan
Diakibatkan tembok menjulang,
Jam belajar yang seperti kerja rodi
Pada masa penjajahan.
Kami tak tahu
Apa yang terjadi di Papua-Kalimantan
Kami tak tahu
Apa yang terjadi di malam mencekam 30 September 1965
Kami tak mengenal
Munir, Wiji Tukul, Marsinah, dan Salim Kancil
Kami dipaksa untuk menguasai mesin industri
Kami dipaksa memahami rumus phytagoras,
Logaritma, dan lain sebagainya.
Kami dibungkam berpendapat
Bahwa kebebasan adalah dongeng santa claus
Lalu kami dianggap gagal
Atas dalil dan standar moralitas
yang mereka tentukan
Nyanyian untuk Burung
Wahai burung-burung yang dipenjara sangkar besi
apakah amarahmu berkobar?
jika mereka membakar hutan-hutanmu
tempat dulu kau bercumbu dengan betinamu
mereka menyihirnya menjadi sebuah tambang-tambang
dan mencemari wajah ibumu yang biru dengan asap,
jika mereka mengeruk gunung-gunung mu
seperti sebuah luka saudaramu
yang ditembaki oleh senapan
dan mati di lubang tambang
demi melindungi ibu semesta,
jika sanak saudaramu
tidur di sebuah atap menara gereja
dipenuhi ketakutan-ketakutan gaib
dan ia menatap bintang-bintang yang menggigil di kejauhan itu
sambil bertanya-tanya dalam hati, esok hari giliran siapa yang akan gugur?
Wahai burung-burung yang dipenjari oleh sangkar besi
luapkan amarah mu dan keluarlah dari sangkar itu
jadilah seperti burung ababil
lalu habisi musuh-musuhmu dengan kemarahan neraka
atau jadilah burung phoenix
dan buat barisan di muka langit dan matahari sebagai simbol perlawanan
atau kamu hanya diam di dalam sangkar besi itu
patuh pada tuanmu
dan rela didandani
Sepucuk Surat Buat Max Haveelar
Max,
Aku takut dan marah
Ketika kelaparan, penindasan, dan pembunuhan
Bagai tangan-tangan gaib mengetuk-ngetuk jendela rumahku
Max,
Aku telah membaca cerita duka
Saidjah dan Adinda
Bagaimana pemerintah merampas dan menyembelih
Kerbau kerbau yang tidak berdosa itu
Bahkan mereka meyembelih nyawa Ayahnya dan Tunangannya Saidjah
Namun, Max.
Penindasan adalah warisan
Kesewenang-wenangan adalah keturunan para Borjuis atau para Politikus.
Mayat-mayat yang ditembak dan dibakar
Dari zaman ke zaman
Adalah penengak keadilan
Seperti kau, Max.
Max,
Engkau telah meninggalkan tanah Hindia atau Indonesia
Bersama kolonial yang merampas hasil panen petani pada masa penjajahan
Namun, kini para petani dan buruh
Masih belum merasakan kemerdekaan
Mereka para pemegang kekuasaan,
merampas lahan petani, menindas para buruh,
Dan pahlawan-pahlawan kami
Seperti Wiji Thukul, Marsinah, Salim Kancil dan masih banyak yang lain
Habis terbunuh oleh senjata-senjata pribumi
Bukan senjata kolonial, Max
Max,
Kaum petani, buruh, dan para penengak keadilan
Masih terus merasakan penjajahan
Tetapi mereka yang memegang kekuasaan
Menuangkan anggur ke gelas masing-masing
Dan merayakannya dengan bersulang
Sedangkan jeritan kelaparan, mayat, dan tangisan. berbaris di depan istana mereka
Max, Apakah kau mengutuk mereka?!
Fajrul Karnavian, Seorang penyair muda, asal Polewali Mandar yang pernah bersekolah di Yogyakarta.










