Perang Dunia: Manusia vs Virus

harianmerapi.com

Perang Dunia: Manusia vs Virus

Sebelum menyebarluasnya Corona Virus Disease – 19 (Covid-19), banyak pembicaraan tentang perang dunia ketiga. Bahkan, pada tahun 2018 di channel Youtube ApexTV, seseorang mengaku sebagai time traveler. Ia mengatakan bahwa tahun 2020 akan terjadi perang dunia ketiga yang akan berlangsung selama tiga tahun.

Terlepas dari percaya atau tidak percaya terhadap pernyataan time traveler tersebut, biarkan saya mengartikan bahwa perang yang dimaksud adalah antara manusia dan virus. Dua makhluk hidup ini memang selalu hidup berdampingan dan tak ada yang menyangka, sojoli itu bisa menjadi musuh besar.

Dalam perang melawan Covid-19, per 05 Juni 2020, total sudah ada 29.521 manusia yang terserang di Indonesia. Dari angka tersebut, setidaknya 1.770 manusia telah gugur dalam medan perang. Seperti yang kita tahu, Covid-19 tidak pandang bulu. Ia dapat menyerang siapa saja. Tidak tanggung-tanggung, ia akan semakin membabi-buta kala manusia berperilaku masa bodoh.

Masih jelas dalam ingatan, sebelum hari raya tiba, media sosial dihebohkan dengan sekumpulan manusia yang berjubel di mall, swalayan, dan tempat penjualan sejenisnya. Nampaknya, manusia itu lebih takut tak punya baju baru daripada melawan Covid-19. Menurut saya pribadi, tindakan tersebut tidak lah bijak. Pasalnya, saat itu bukanlah waktu yang tepat.

Sampai saat ini, vaksin pun belum ditemukan. Sehingga, manusia belum mempunyai backup-an untuk melawan virus. Maka siap tidak siap, manusia harus terjun ke medan perang dengan hanya membawa baju zirah berupa kekebalan tubuh.

Padahal tak setiap manusia memiliki kekebalan tubuh yang sama kuatnya untuk dibawa ke medan perang. Saat itu, barulah tersadar bahwa jarak antara hidup dan mati sangatlah dekat. Jika pada awal genderang perang ditabuh, manusia sudah menyiapkan amunisi seperti: hidup sehat, menjaga jarak, dan tidak meremehkan, maka tidak akan menjadi perang besar dengan jumlah korban yang membeludak.

Beginikah Perang Dunia 2020?

Perang dunia adalah perang yang melibatkan negara-negara di seluruh dunia. Kekuatan dalam perang diukur dengan serangan dan pertahanan komprehensif: ekonomi, militer, sikap strategis, kebijakan atau diplomasi luar negeri, dan sebuah pemerintahan. Jika melihat fakta yang terjadi di lapangan, maka Covid-19 telah menghantam kekuatan tersebut. Memang, ada beberapa negara yang berhasil “mengalahkan” virus tersebut, tetapi nyatanya masih banyak negara yang kewalahan.

Menurut saya, hal yang membedakan antara “perang ini” dengan perang dunia kesatu dan kedua adalah medan perangnya. Kali ini perang terjadi di setiap lekuk bumi, tanpa ledakan bom dan letupan senjata api. Terlebih lagi, yang dilawan oleh semua manusia adalah makhluk tak kasatmata.

Melihat kondisi di beberapa negara yang kini semakin parah. Akhirnya, WHO mengeluarkan “strategi” yang diberi nama Herd Immunity. Hal tersebut menyinggung pembahasan mengenai seberapa kebal tubuh manusia menahan serangan virus, artinya ketika seseorang yang telah terserang berhasil selamat, maka ia tidak akan terserang kembali.

Dengan hal tersebut, diharapkan kekebalan tubuh yang bagus dan meluas dapat menjadi jalan keluar dari perang [red: pandemi], bahkan dianggap dapat memenangkannya. Secara sederhana, ketika manusia menjadi kebal terhadap Covid-19, maka penyebarannya akan berhenti, karena virus akan kehabisan target baru yang rentan.

Namun, mendapatkan kekebalan tanpa vaksin tidak sesederhana ide Herd Immunity itu sendiri. Menilik fakta bahwa Covid-19 ini terlalu mudah tersebar: terlalu menular; terlalu baru untuk bergantung pada kekebalan tubuh. Maka, kekebalan tubuh yang didapat secara alami bukanlah jawaban. Perlu adanya usaha di dalam diri untuk menguatkan amunisi melawan virus, seperti gaya hidup sehat atau semacamnya.

Herd Immunity Menabuh Genderang Perang Lebih Kencang

WHO sebagai patokan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang bermaksud “hanya yang kuat yang akan bertahan”. Pemerintah yang dibantu oleh media pun telah kencang menebar wacana“New Normal” sebagai jalan memerangi Covid-19 di Indonesia. Secara perlahan fasilitas umum, seperti: tempat ibadah, sekolah, mall, kantor, dan transportasi umum, akan dibuka kembali sesuai dengan protokol kesehatan.

Bukan hal yang mengherankan, jika kita melihat kondisi di Indonesia dan mengingat fakta bahwa sudah banyak manusia yang gatal kakinya hingga memaksakan diri untuk keluar rumah, meski pemerintah telah menganjurkan #dirumahaja. Saya rasa, Herd Immunity memang sudah dijalankan oleh sebagian masyarakat Indonesia sejak lama.

Tak ada yang perlu disesali karena manusia yang kuatlah yang akan menang. Dan semua kembali ke diri setiap individu, mau bekerja sama atau mau menjadikan perang ini sebagai perang terbodoh sepanjang sejarah dengan mati bunuh diri di medan perang.

Tak ada amunisi yang kuat, lalu terjun ke medan perang, itu adalah hal yang bodoh. Tak bisa menahan emosi, lalu berjubel di keramaian, itu akan menjadi tempat pembunuhan massal terbaik.

Sekali lagi saya katakan, bahwa musuh manusia dalam perang ini adalah makhluk tak kasatmata. Dan perlu digarisbawahi bahwa Covid-19 memiliki kekuatan yang menakutkan bagi yang rentan. Perang selesai dan yang tersisa hanya manusia-manusia kuat.

Sebelum semua lebih terlambat, manusia yang harus mempersiapkan amunisi lebih kuat dan patuhi semua protokol kesehatan yang ada. Medan perang terpampang sangat nyata, mati itu kepastian, dan seharusnya manusia menang dalam perang ini.

Semoga korban tidak bertambah semakin banyak, meski kemungkinan itu sangat kecil karena kita masih berperang tanpa vaksin. Saya mengakui, dalam tulisan ini saya tidak menggunakan banyak data dari para ahli dan bermacam teori yang koheren. Namun, data-data tersebut sudah bertebaran dengan jelas dan dapat anda akses dengan mudah.

Terlepas dari semua teori yang ada, satu hal yang pasti: kehati-hatian dari diri manusia itu sendiri. Sedikit banyaknya kerugian itu ditanggung oleh diri pribadi. Meski sudah banyak manusia yang merugikan manusia lain, tapi sebisa mungkin jangan merugikan orang lain.

Eko Wahyudi, Magang LPM Rhetor, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

You may also like

Perempuan dalam Kekangan Budaya Patriarki

K enapa perempuan yang mengeksistensikan dirinya di media