Prancis, Prancis, Kami Bawa Api!

“On ne meurt qu’une fois; et c’est pour si longtemps!”
Moliére, Le Dépit Amoureux (1656).

14 Mei 2019
Malam, di udara.

Kali ini, mereka ingin menikmati mimpi dengan mata tetap terbuka. Pasangan itu begitu sumringah. Perjalanan Jakarta ke Paris yang memakan waktu 17 jam lebih itu tak membuat mata mereka lelah sedikit pun. Seperti sepasang kekasih sebelum hari pernikahan, mereka tak bisa tidur.

Prancis. Sebuah obsesi tentang keindahan yang tiada habisnya. Orang-orang yang memandang Eifel dan Notre Dame dari gambar tempel dan monitor televisi akan sudi memasukkan kedua tempat itu ke dalam mimpinya. Bahkan, bisa saja menjadi mimpi basah mereka.

Sama halnya seperti mereka, sepasang kekasih yang sedang bahagia itu, ketika penumpang pesawat lain sibuk berdoa demi keselamatan diri, mereka malah sibuk tertawa dan ingin sekali membunuh waktu perjalanan dengan tertawa-tawa. Persetan dengan doa! Karena apa yang mereka impikan sudah hampir tiba. Ya, impian mengunjungi Prancis.

Si Laki-laki menatap si Perempuan itu dengan bangga karena merasa telah mewujudkan mimpi mereka bersama. Sedangkan si Perempuan merasa sangat bahagia karena bisa mewujudkan impiannya bersama kekasih yang hanya satu-satunya.

“Hei, kira-kira hal gila apa yang akan kita lakukan nanti?” Tanya si Laki-laki itu.

“Bercinta!” Jawab si Perempuan sambil menatap lekat-lekat mata si Laki-laki dengan kedua bola matanya yang hitam kecoklatan. Matanya begitu manja, seolah-olah meminta kepada kekasihnya agar seluruh dunia diberikan kepadanya.
Melihat ekspresi seperti itu, si Laki-laki jadi tidak tahan untuk menggodanya, “Bercinta? Kita sudah melakukannya tiap malam. Bukankah kita liburan? Seharusnya segala rutinitas itu ditiadakan.”

“Mmmm… No! No! No! Rutinitas itu bercinta di atas kasur. Kita akan bercinta yang di tempat lain dong!” Kepala si Perempuan bergeleng-geleng.

“Maksudmu?”

“Kita bercinta sembunyi-sembunyi di Louvre, terus di pinggiran sungai Seine, di bawah buku-buku yang berserakan di Shakespares and Co, lalu Notre Dam bagaimana? Oh ya, dan Frenchkiss in French, tentunya! Lebih menarik bukan?” Oceh si Perempuan sambil mengawang bahagia.

“Menarik! Tapi Notre Dame sudah hangus!”

“Hei, terkadang sesuatu yang indah akan lebih indah jika ia hancur!”

“Ya, tapi tidak semuanya. Aku tidak mau melihatmu hancur.”

Mereka pun sedikit berciuman mesra, membuat penumpang berketurunan Arab di sebelah kiri mereka melirik mereka dengan sinis.

***

11 Mei 2019
Malam hari, di kamar yang cukup hangat.

“Tebak siapa aku?” Si Laki-laki sedang berdiri di depan pintu kamar dan mencoba melempar-lemparkan sebatang rokok ke mulutnya.

“Entah. Al Pacino?” Si Perempuan menjawab. Dirinya sedang bertopang dagu di pojok tempat tidur.

“Salah! Al Pacino tidak merokok dengan cara seperti itu.”

“Woody Allen!”

“Woody Allen jarang merokok di filmnya, sayang.”

“Baiklah, terus siapa?”

“Jean-Pierre Léaud dalam Masculine Feminine.”

“Aaah, ya, ya. Tapi menurutku melempar-lempar rokok seperti itu hal bodoh. Kan, bukan lagi makan kacang?”

“Oui, oui, aku setuju! Tapi itu benar-benar khas.”

Si laki-laki kemudian mendekati si Perempuan lalu tidur di sampingnya dan menyulut sebatang rokok. Si Perempuan sedikit acuh sambil membaca L’etranger.

Laki-laki yang tidur di sebelahnya mengganggu si Perempuan itu, ia memilin-milin rambut si perempuan yang dipangkas dengan model French Bob. Tapi si Perempuan tidak menghiraukannya.

“Kenapa kau membaca Camus berulang-ulang?”

“Bukannya aku pernah bilang, aku menyukai Camus. Dan Prancis, tentunya.”

“Pasti ada alasan yang lebih menarik daripada itu, lagipula L’etranger itu terlalu tragis. Mmmm, kau mau merokok sayang?” Si Laki-laki menyodorkan sebatang rokok dan si Perempuan mengambilnya.

“Mau penjelasan yang lebih menarik?” Tanya si Perempuan sambil menghisap rokok dan menutup bukunya.

“Nah, begitu dong! Saatnya mengobrol. Silahkan nona, aku dengarkan.”

“Oke. Jadi begini, aku pikir aku jatuh cinta pada Mersault. Sebagai kekasihku di dunia fiksi. Maaf, aku mencintai laki-laki lain. Jadi sebagai bentuk kencan harian, aku membaca L’etranger untuk menemuinya.” Jelas si Perempuan.

“Kenapa Mersault? Ada ribuan tokoh fiksi yang bisa membuatmu jatuh cinta. Mersault terlalu murung dan tidak romantis.” Si Perempuan mendekat kepada si Laki-laki dan tidur di atas perutnya.

“Tentu, tapi Mersault punya hasrat seksual yang bagus. Aku pikir, dia sebenarnya hebat dalam hal perempuan.”

“Ya, bisa jadi. Menurutmu, jika L’etranger dibuat menjadi film, kira-kira siapa sutradaranya?”

Si Perempuan tertawa. Wajahnya terlihat sangat antusias. Ia akhirnya duduk menindih perut si Laki-laki kemudian menjawab, “Aku sudah mendapat jawaban. Tapi, aku juga mau tahu jawabanmu. Mari kita jawab bersama-sama!”

“Baik, kalau begitu.”

Mereka secara bersamaan mengatakan “Godard” lalu tertawa bersama-sama.

Malam itu, dingin berhasil masuk ke kamar mereka. Karena malam adalah waktu berhentinya segala aktivitas yang melelahkan, maka tak ada aktivitas lain bagi mereka selain saling menghangatkan diri masing-masing.

Si Perempuan sekarang duduk di bagian samping kasur. Lalu, si Laki-laki menyalakan Comment Allez Vouz yang dinyanyikan Blossom Dearie melalui gramofon lawasnya.

“Puisi siapa malam ini?” Tanya si Laki-laki.

“Triste Triste, Victor Hugo?”

“Baik kalau begitu!”

Maka, dibacakanlah puisi itu. Sudah jadi kebiasaan mereka untuk melakukan pembacaan puisi sebelum bercinta.

…Comme nous sommes seuls!
Comme la vie est triste!

Puisi selesai dibacakan. Dan mereka pun bercinta.

***

12 Mei 2019
Pagi hari, di kamar yang sama.

Pasangan kekasih itu bangun dari tidur pasca aktivitas bercinta. Meskipun mereka bercinta setiap malam, hal itu tidak membuat mereka bosan. Bagi mereka, itu adalah obat tidur paling manjur dan mereka tidak akan bisa tidur sebelum bercinta.

Kamar begitu hangat dengan sinar matahari yang masuk melalui ventilasi dan kaca. Tapi bagi mereka, tak ada yang lebih hangat dari suhu tubuh masing-masing yang saling berhimpitan.

Tak ada percakapan setelah mereka bangun. Mereka hanya saling menatap, tersenyum, dan terkadang membantu membersihkan kotoran di mata masing-masing.

Setelah lelah dan nyawa mereka mulai terkumpul, mereka berdua akan menggosok gigi bersama-sama.

“Semalam sangat menyenangkan! Apa kamu bahagia?” Tanya si Perempuan sambil menggosok giginya.

Si Laki-laki baru teringat, ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Sebuah kejutan, yang tentu akan membuat si Perempuan sangat bahagia.

“Ya, aku sangat bahagia dan aku baru ingat ada sesuatu yang ingin kusampaikan.”

“Apa memangnya?” Si Perempuan bertanya lagi dengan mulut yang berbusa.

Tiba-tiba si Laki-laki mengambil sikat gigi milik si perempuan, lalu berlari menuju kamar. Si perempuan pun terkejut, lalu dengan cepat mengejarnya. Ketika di kamar, si Laki-laki menunjukkan layar telepon genggamnya membuat si perempuan kembali terkejut.

“Tiket ke Prancis?”

“Ya, untuk kita berdua. Kita berangkat lusa!”

“Aku tidak tahu lagi mau bilang apa, kamu tahu aku sangat mencintai Prancis.”

“Begitu juga denganku, mari kita menjadi Prancis bersama-sama.”

***

15 Mei 2019
Pagi buta, di udara.

Perjalanan pesawat berjalan dengan lancar. Pasangan itu, si Laki-laki dan si Perempuan, sedang asik menyuap makanan ke mulut mereka. Penumpang berketurunan Arab di sebelah kiri mereka merasa tidak nyaman duduk berada di samping sepasang kekasih tersebut.

Wajahnya nampak serius. Penumpang itu duduk dengan wajah tegang sambil berusaha menikmati segelas kopi. Laki-laki dan Perempuan di sebelahnya benar-benar acuh. Dan si Laki-laki itu membuka percakapan lagi dengan kekasihnya setelah makanan mereka habis.

“Aku sebenarnya tidak tahu, kenapa orang-orang Asia begitu terobsesi dengan ‘Barat’?”

“Aku tidak tahu. Mungkin kamu tahu? Bukannya kamu juga terobsesi dengan dunia barat?” Jawab si Perempuan sambil menyeruput kopinya.

“Kamu juga kan?”

“Tidak. Aku, kan, cuma suka dengan Prancis, yang lain tidak.”

“Sama saja. Prancis itu juga bagian dari Barat, sayang. Ayo, jawablah!”

“Hmm, apa ya?” Si Perempuan itu terlihat kebingungan. Si laki-laki mengulum senyum, senang melihat kekasihnya bingung.

Akhirnya si perempuan berkata lagi, “Aaah, mungkin karena manusia selalu mencari hal-hal yang baru.”

“Jawaban yang naif. Aku sudah menunggu beberapa menit dan hanya seperti itu jawabanmu.”

“Karena cuma itu yang kupikirkan.” Si Perempuan terkekeh.

“Apa kamu mau tahu jawabanku?” Tanya si Laki-laki.

“Tentu!”

“Menurutku, manusia memang suka pergi ke tempat lain karena bosan dengan tempat tinggalnya.”

“Apa bedanya dengan jawabanku?”

“Jawabanku kan lebih panjang.”

Si Perempuan menjadi kesal bercampur gemas, ia mencubit lengan si Laki-laki.

Si Laki-laki itu pun terkejut dan tertawa. Saking hebohnya, tanpa sengaja tangan si Laki-laki menyenggol kopi yang sedang diminum penumpang berketurunan Arab di sebelahnya.

“Aaah, sorry sir!” Kata si Laki-laki.
Penumpang berketurunan Arab itu diam saja, namun tampak jelas wajahnya memerah sebab marah. Setelah itu si Laki-laki dan si Perempuan diam.

Beberapa saat kemudian si Perempuan kembali mengajak berbicara si Laki-laki. Mereka ini memang pasangan yang tidak bisa diam. Tak ada percakapan yang usai bagi mereka.

“Kamu tadi bilang, manusia suka pergi karena bosan dengan tempat tinggalnya. Aku pikir tidak juga. Orang yang seperti itu pasti karena tidak punya kebahagiaan sedikit pun.” Kata si Perempuan dengan mimik wajah yang serius.

“Berarti alasan kita tidak benar, dong. Sebenarnya aku tidak tahu kenapa orang-orang begitu terobsesi pada Barat.”

“Ya, tak ada yang benar-benar punya alasan. Tapi, orang yang bosan dengan tempat tinggalnya sebenarnya bukan bosan dengan tempat tinggalnya. Maksudku, orang seperti itu pasti sudah muak dengan dunia ini.”

“Ya, kalau seperti itu berarti dia ingin mati saja.”

“Hmmm…”

Tiba-tiba si Perempuan mencium pipi si Laki-laki.

“Apa kamu suka aku cium dengan tiba-tiba?”

“Ya, itu memberikanku kejutan!”

Si Laki-laki membalas dengan mencium si Perempuan, tepat di bibirnya.
Penumpang berketurunan Arab itu kembali menatap pasangan di sebelahnya dengan sinis. Penumpang itu berkata dengan lirih namun berusaha agar pasangan itu mendengarnya.

“Disgusting!”

Namun, pasangan itu tidak mendengarnya. Setelah selesai mencium si Perempuan, si Laki-laki diam dan berusaha untuk tidur.

Perjalanan pesawat sudah berjalan 4 jam. Semuanya mencoba tidur sejak penerbangan berlangsung pada pukul 10 malam. Suasana menjadi cukup hening, hanya suara halus mesin pesawat yang terdengar.

Tiba-tiba terjadi guncangan hebat di dalam pesawat. Guncangan itu dengan seketika memecah keheningan tadi. Orang-orang menjerit ketakutan. Petugas kabin segera menenangkan dan menjelaskan bahwa ini hanya guncangan biasa.

Namun, beberapa menit kemudian pesawat mengalami turbulensi dan goncangan terjadi berulang-ulang. Lampu-lampu pesawat bergantian hidup dan mati, seakan-akan ikut cemas dengan situasi. Orang-orang mulai ketakutan, beberapa bahkan sudah histeris dan berdoa sekencang-kencangnya.

“Tuhan! Tuhan! Ampuni kami!” Ucap seorang perempuan dengan uban yang cukup banyak berdoa sangat kencang di kursi belakang. Suara-suara lain ikut bersaut-sautan. Mungkin, membuat malaikat maut menjadi sedikit terganggu.

“Tuan dan nona! Apa kelas ekonomi menyediakan parasut?”

“Ambilkan barang-barangku, aku butuh foto ibu!”

“Tenang tuan dan nona, hal ini akan segera kami atasi!”

“Kan sudah aku bilang, andai saja kita tidak naik pesawat. Dasar laki-laki bajingan!”

“Semuanya tolong diam!”

“Tuan dan nona, saya pendeta, ikuti aba-aba saya, mari berdoa bersama!”

“Persetan!”

“Allahuakbar!”

“Ambilkan wine!”

Salah satu pramugara pingsan karena terbentur koper yang jatuh akibat guncangan. Pasangan kekasih itu, si Laki-laki dan si Perempuan merasa bingung setelah bangun dari tidur yang sebentar itu. Tak ada yang mereka katakan. Percakapan mereka akhirnya terhenti juga.

Impian mereka musnah di perjalanan. Si Perempuan menitikkan air mata, namun dengan segera diusap oleh kekasihnya. Kemudian si Laki-laki berkata, “Hei, sudah, kita mau ke Prancis bukan?”

“Ya, tapi sepertinya kita selesai di sini.”

“Kalau memang begitu, apa boleh buat.”

“Sayang aku takut!”

“Mau dengar hal yang lucu?

Si Perempuan diam saja. Si Laki-laki melanjutkan, “Kita tidak akan mati, kalau saja kita naik pesawat yang lain. Mau tahu pesawat apa itu?”

“Apa itu sayang?”

“Pesawat telepon.”

Keduanya tertawa sambil diiringi jeritan histeris penumpang lain. Kemudian mereka berciuman dan penumpang berketurunan Arab di sebelah mereka sudah tidak menghiraukan lagi.

“Setelah semuanya gelap, anggap saja kita di Prancis. Sayang kamu mau rokok?”

“Tentu!”

Kemudian api menyala. Api yang besar.

Note :
1. Shakespeare and Co : adalah sebuah toko buku dan perpustakaan yang berdiri sejak tahun 1919, sekarang bertempat di rue de la Bucherie di La Rive Gauche (Bantaran Kiri atau Tepi Kiri) Sungai Seine, Paris.
2. Al Pacino : Alfredo James “Al” Pacino, seorang aktor, sutradara, dan penulis skenario asal Amerika Serikat.
3. Woody Allen : Seorang aktor, sutradara, penulis, musikus, dan komedian asal Amerika Serikat.
4. Jean-Pierre Léaud : Aktor asal Prancis
5. Masculine Feminine : film karya Jean Luc Godard
6. Godard : Jean Luc Godard seorang sutradara asal Prancis.

Kusharditya Albi. Jurnalis LPM Rhetor dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Ahmad, dan Busok Si Penghuni Pulau Raas

Suatu malam di tepi dermaga, Ahmad duduk termenung