Mei : Game of Thrones, Reformasi ’98, dan Quo Vadis Gerakan Mahasiswa?

“Koran-koran pun ikut membakar kedamaian pagi

Hari itu

Hari yang ditunggu tiba

Soeharto lengser

Wajah ayahku sumringah

Matanya nanar

Akan kebahagiaan dan rasa haru

Terbebas kekejaman Orde Baru

~

Berbeda dengan perempuan muda itu

Yang lahir dalam masa Repelita ketiga

Baginya reformasi ialah

Jam tangan warna pink

Merek G-Shock Casio

Made in Thailand

Hadiah dari seorang residivis”

(Aku Ketika Mei Sembilan Delapan, Fanny Chotimah, 2013)

Memahami Sebuah Nilai

Serial televisi berjudul Game of Thrones akhirnya mencapai puncaknya pada Mei 2019. Serial televisi yang berkisah tentang perebutan tahta ini pastinya juga telah ditunggu-tunggu oleh penggemar setelah 8 tahun lamanya. Namun, saya tidak akan panjang lebar menjelaskan bagaimana keseruan film tersebut, karena sebenarnya bukan itu inti dari tulisan saya ini.

Daenerys Targaryen, salah satu tokoh dalam serial ini menjadi tokoh yang dikagumi banyak orang. Bagaimana tidak, dari awal kemunculannya tokoh ini sudah dibentuk seheroik mungkin. Mulai dari usaha si tokoh dalam melakukan pembebasan budak, perlawanan-perlawanan terhadap penguasa yang tidak adil, membawa kebebasan memilih, dan penerapan cinta dan kasih sayang dalam memimpin rakyatnya. Rasanya tidak ada lagi orang yang pantas menduduki tahta kerajaan selain dirinya.

Namun sayang, penonton dikecewakan pada akhir serial ini. Daenerys Targaryen menjadi tokoh yang kejam, bahkan melebihi kekejaman tokoh-tokoh antagonis. Penonton pun yang tadinya memuja Daenerys sebagai tokoh sempurna menjadi benci dan menganggapnya sebagai tokoh yang harus musnah dari cerita.

Kita pun akhirnya paham bagaimana jika kita terlalu menempatkan seseorang dalam posisi yang tinggi. Dalam cerita ini, kita menjadi terlalu berharap besar pada apa yang dilakukan oleh seseorang. Daenerys memang berakhir sebagai tokoh yang jauh dari nilai-nilai yang ia bawa. Tetapi, akankah nilai-nilai itu kemudian dihilangkan? Tentunya tidak. Orang lain bisa saja membawa dan meneruskan kembali nilai-nilai yang dianggap baik tersebut.

Jika kita melihat hakikat nilai menurut Max Scheler, nilai merupakan kualitas yang keberadaannya tidak tergantung pada pembawanya. Artinya, nilai-nilai adalah mutlak, tidak bergantung pada kenyataan lain. Nilai tidak bergantung pada benda dan objek, juga tidak bergantung pada reaksi seseorang terhadap suatu nilai.

Nilai memiliki tempat tertingginya dalam kehidupan manusia, bahkan orang bisa saja lebih mengorbankan nyawanya daripada mengorbankan sebuah nilai.

Jika dihubungkan dengan serial Game of Thrones, tentu kita tidak akan mengorbankan nilai dengan tetap mengidolakan Daenerys, bukan?

Menurut saya, tindakan mengagung-agungkan seseorang karena sifat heroiknya adalah tindakan yang berbahaya. Hal itu juga dapat berujung pada kekecewaan.

Reformasi 1998

Reformasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara.

Pada hari Kamis, 21 Mei 1998, sebuah peristiwa penting bernama reformasi telah merubah wajah Indonesia. Bukan suatu rahasia lagi bahwa kondisi Indonesia dibawah naungan rezim Orde Baru memang sedang bobrok-bobroknya.

Kebobrokan-kebobrokan yang terjadi pada masa itu sangat bermacam-macam. Mulai dari krisis politik, ekonomi, hukum, hingga masalah-masalah sosial. Saya memang tidak merasakan secara langsung bagaimana segala hal tersebut terjadi. Tetapi, hal itu bisa dibayangkan dari hasil membaca sejarah. Saya pastikan tak ada satupun orang yang mau mengulangi situasi semacam itu.

Saya rasa nepotisme di kalangan elit politik Orde Baru lah yang menyebabkan demokrasi Indonesia saat itu mandek total. Jelas saja, wong masalahnya haram kalau tidak mencoblos Golkar, sistem pengangkatan pejabat pun hanya diisi kerabat dan sanak keluarga. Hal ini tentu memperburuk situasi politik di Indonesia.

Masalah ekonomi pun menjadi sorotan. Hutang negara semakin melejit dan mata uang pun semakin melemah. Tingginya harga bahan-bahan pokok pun turut menyebabkan keresahan di masyarakat bertambah.

Selain itu, korupsi, kolusi, dan monopoli bisnis membuat ketimpangan ekonomi semakin menjadi-jadi. Seluruh bisnis yang ada dikuasai oleh keluarga Cendana beserta golongan konglomerat. Hal ini tentu membuat perekonomian hanya berpusat pada golongan tertentu saja. Dampaknya pun berimbas pada krisis di bidang sosial, di mana rakyat seolah-olah menjadi prioritas nomor dua dalam negara.

Tak hanya itu, Hukum Indonesia juga banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Hukum digunakan sebagai senjata untuk melemahkan kritik-kritik yang ditujukan kepada pemerintah saat itu. Bahkan hukum seringkali dijadikan pembenaran atas kebijakan dan tindakan pemerintah. Bisa saya katakan bahwa hukum pada Orde Baru hanya berada di bawah kekuasaan eksekutif, sehingga sangat tumpul kepada penguasa.

Nah, hal-hal semacam itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya para reformis dan ide-ide reformasinya. Nilai-nilai dan semangat melawan tindakan semena-mena pemerintah terhadap rakyat, kemudian melahirkan kesadaran masyarakat pada saat itu. Reformasi 1998 pun dapat terwujud. Tetapi, apakah reformasi itu benar-benar terwujud ?

Gerakan Mahasiswa 98

Jika kita menengok sejarah, gerakan mahasiswa di Indonesia yang dapat dikatakan berhasil adalah gerakan mahasiswa pada masa Reformasi 1998. Gerakan mahasiswa 98 juga dilakukan secara masif, hingga Soeharto pun memilih mundur dari kursi kepemerintahannya.

Gerakan mahasiswa pada masa itu memang diadakan secara besar-besaran. Melihat situasi negara dan pemerintahan yang kacau balau tentu membuat gerakan mahasiswa tak bisa berdiam diri. Aksi massa pun menjadi salah satu solusi yang tepat dalam situasi genting kala itu.

Mahasiswa dari berbagai daerah turut meramaikan aksi untuk menuntut mundurnya Soeharto. Namun, bentrok antara aparat keamanan dan massa aksi tidak dapat dihindari. Saat itu, militer Indonesia sungguh keji dalam menenangkan massa. Nyawa menjadi taruhannya, empat mahasiswa Universitas Trisakti ditemukan tewas dengan peluru di tubuhnya. Hal itu membuat kemarahan gerakan mahasiswa semakin menjadi-jadi. Kebobrokan rezim yang secara terus-menerus terjadi, akhirnya membuat mereka lebih berani memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Mereka memegang teguh nilai-nilai yang baik dan tidak memilih diam saat melihat kekacauan terjadi.

Kekompakan gerakan mahasiswa kala itu karena mereka memiliki semangat yang sama. Tidak ada kepentingan-kepentingan lain selain apa yang mereka perjuangkan bersama-sama. Menurut saya, itulah kunci keberhasilan gerakan mahasiswa pada saat itu. Mereka semua berada dalam mimpi dan cita-cita yang sama.

Quo Vadis Gerakan Mahasiswa?

Banyak yang bilang bahwa gerakan mahasiswa hari ini sering “sakit-sakitan”. Gerakan mahasiswa juga terkadang dicap sebagai perilaku yang “kurang kerjaan” dan tidak ada untungnya. Rata-rata mahasiswa pun memilih fokus dengan kuliahnya. Ancaman-ancaman dari pihak kampus terkait keterlibatan mahasiswa yang ikut aksi juga menjadi salah satu faktor melemahnya gerakan mahasiswa.

Saya pikir, saat ini dari kalangan mahasiswa sendiri justru banyak yang tidak peduli dengan gerakan mahasiswa. Kebanyakan berpendapat bahwa mahasiswa cukup berkutat pada masalah akademik saja, sehingga dapat meninggalkan bangku kuliah secepatnya. Mereka sendiri kebanyakan memiliki kekecewaan yang berlebih terhadap gerakan mahasiswa. Mereka berpikiran bahwa aktivis-aktivis mahasiswa itu sama saja, hari ini bisa saja mereka dengan vokal menyuarakan hak-hak rakyat, besoknya dapat dengan enteng menindas rakyat ketika sudah berada di kursi pemerintahan. Kira-kira begitu yang sering saya dengar.

Kekecewaan terhadap hal-hal itulah yang membuat mahasiswa hari ini memilih apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Padahal, saya rasa tidak ada hubungannya, aktivis ketika masa mudanya yang sangat getol memperjuangkan hak rakyat dan ketika tua mereka menjadi berubah. Sebut saja Fahri Hamzah, selaku mantan aktivis 98 sebagai contoh. Tentu, apa yang dilakukan dan diperjuangkan Fahri Hamzah ketika masa mudanya adalah tindakan yang benar. Tetapi, ketika kita melihat sikap-sikapnya setelah menjadi pejabat, dapat diakui memang merasa kesal dan berang.

Saya paham, tapi jelas tidak ada hubungannya dengan gerakan mahasiswa. Apakah mahasiswa hari ini berpikir bahwa menjadi aktivis mahasiswa sama dengan menjadi Fahri Hamzah? Harusnya tidak. Memang banyak mantan aktivis mahasiswa yang kemudian terlihat menjijikan hari ini. Tapi, itu tidak membuat gerakan mahasiswa menjadi lubang kakus raksasa. Gerakan mahasiswa tetap perlu dan harus dilakukan, demi menjaga nilai-nilai yang diperjuangkan.

Jika kita berkaca pada peristiwa 98, maka apa kira-kira makna gerakan mahasiswa? Apakah gerakan mahasiswa pada 98 adalah upaya penggulingan Soeharto saja? Jika memang itu jawabannya, maka gerakan mahasiswa sudah tidak diperlukan lagi hari ini. Jika itu jawabannya, maka mata kita telah tertutup dari apa yang sebenarnya harus dilawan dan diperangi.

Sesungguhnya, reformasi adalah perjuangan tentang nilai-nilai yang anti terhadap penindasan di mana pun ia berada dan tentu saja makna nilai itu dapat dijabarkan secara lebih luas lagi. Jika kita melihat situasi hari ini, masihkah penindasan dan penyelewengan dalam negara terjadi? Jika iya, maka gerakan mahasiswa masih sangat diperlukan dan tentunya reformasi belum selesai.

Kita terlalu percaya pada sifat-sifat kepahlawanan seseorang, sehingga kita tidak percaya pada diri kita. Perasaan kecewa yang timbul setelah orang yang kita anggap memegang nilai-nilai kebaikan justru berkhianat juga menambah alasan untuk menjadi apatis. Mata kita sama ketika melihat Daenerys, tokoh dalam serial Game of Thrones itu dengan melihat mantan aktivis 98 ketika mereka menghianati nilai-nilai. Padahal semua orang berhak memperjuangkan nilai-nilai tersebut, tanpa bergantung terhadap manusia.

Saya rasa, jika kita semua paham akan substansi dari sebuah perjuangan dan kita bisa memegang nilai-nilai yang baik. Maka tidak perlu ada kekecewaan dari sebuah perjuangan. Namun, jika kita hanya bergantung pada seseorang, maka seribu pahlawan dan seribu martir pun akan tetap membuat kita apatis.

Kusharditya Albi. Jurnalis LPM Rhetor dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Hari Tani Nasional Ke-59, Mungkinkah Indonesia Akan Mengalami Krisis Pangan?

Teringat sebuah lirik lagu dari grup band legendaris