Hikayat Kota yang Terkepung

ebooks.gramedia.com

Judul:                        Memory for Forgetfulness

Penulis:                     Mahmoud Darwish

Penerbit:                   PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa:             Barokah Ruziati

Desain sampul:        Eduard Iwan Mangopang

Jumlah Halaman:    256 hlm.

Ukuran:                      20 cm

ISBN:                          978-602-06-3473-9

Cetakan:                     I, 2019

“Beirut adalah tempat kelahiran ribuan orang Palestina yang tak mengenal kampung halaman. Beirut adalah pulau tempat imigran Arab yang memimpikan dunia baru.”

Memory for Forgetfulness adalah memoar penulis, Mahmoud Darwish, tentang pengepungan Kota Beirut oleh pasukan Israel selama dua bulan. Tepatnya, pada Juni hingga Agustus 1982.

Karya ini ditulis Darwish pada tahun 1985. Tiga tahun setelah ia dan anggota PLO [Organisasi Pembebasan Palestina] lainnya terusir dari kota Beirut dan pasukan Israel menduduki kota tersebut.

Darwish berkutat dengan naskah buku Memory for Forgetfulness selama Sembilan puluh hari, di apartemennya yang terletak di Paris. Setelah naskah buku ini rampung, ia segera mengirimnya ke penerbit. Dan sejak itu, ia tak pernah membaca memoar pribadinya ini hingga maut menjemput.

Memoar ini bermula tatkala Darwish terlonjak bangun dari tidurnya di awal pagi.

Fajar baru saja merekah. Namun di luar, dentum meriam dan bom yang menghajar kota terdengar susul-menyusul. Percik api dan asap membubung tinggi di seantero kota.

Di langit, pesawat tempur hilir mudik. Menjatuhkan bom di koordinat yang telah ditentukan. Dilaut, kapal perang berbaris mengepung. Memuntahkan meriam ke bangunan-bangunan yang berada dalam jarak tembak.

Hubungan antara Beirut dan dunia luar terputus. Radio tak ada yang mengudara. Surat kabar pagi tak tersedia di Lobi Apartemen, yang lebih dikhawatirkan Darwish, persediaan air menipis.

Darwish berharap huru-hara tersebut dapat rehat sejenak, walau hanya lima menit. Karena baginya, lima menit, cukup untuk menyeduh kopi. Satu-satunya rutinitas yang dapat dilakukannya kala itu. Setelah menyesap  kopi, Darwish siap menghadapi derita di hari itu, bahkan kematian sekali pun.

Darwish memilih turun ke jalanan, di bawah deraan bom yang melubangi jalan-jalan Kota Beirut. Daripada menetap di bangunan tinggi, tempat apartemennya berada, yang merupakan  sasaran empuk penembak jitu yang berada di geladak kapal.

Darwish termenung. Ia menghitung, jarak antar ledakan hanya berkisar satu detik. Bahkan, satu detik tidak cukup untuk menghirup dan menghela napas.

Di siang hari, pesawat-pesawat terus berkeliaran di langit Kota Beirut. Menjatuhkan bom-bom ke gedung-gedung tinggi dan kerumunan penduduk. Saat satu menit langit Beirut bersih dari pesawat yang melintas, para penduduk bermunculan dari tempat perlindungan masing-masing. Mereka bertanya-tanya, apakah Israel sudah lelah?

Di beberapa titik, Darwish melihat bangunan-bangunan terbakar. Api berjatuhan dari atas. Bongkah-bongkah material berguguran. Teriakan minta tolong orang-orang yang terkepung api di lantai atas terdengar jelas di  telinganya.

Bagi Darwish, dapat bertahan hidup  di Beirut adalah suatu kebetulan. Sebab, tak ada tempat yang bebas dari ledakan meriam dan bom.

Darwish mengidentifikasi hidup dan matinya dengan suara. Jika ia mendengar desis roket, tandanya ia masih hidup. Sebaliknya, apabila ia tak mendengar apa pun lagi, berarti ia telah tewas. Karena, misil roket melaju lebih cepat daripada suaranya.

Memoar ini berakhir tatkala Darwish kembali ke apartemennya di penghujung sore. Ia bergegas menuju meja kerjanya, lantas duduk di salah satu kursi. Ia termenung sambil memikirkan banyak hal. Ia pun bertanya-tanya, “Apa peran penulis tatkala perang berkecambuk?”.

Tak melulu tentang Darwish, Memory for Forgetfulness juga berkisah tentang beberapa penduduk Beirut lainnya.

Tentang seorang penyair bernama Khalil Hawi yang bunuh diri. Perang yang berkecambuk membuatnya putus asa dan khawatir atas masa depan. Karenanya, sang penyair memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia mengambil senapan berburu miliknya, lantas memburu dirinya sendiri. Darwish mengakui, Sesekali Khalil Hawi menginspirasinya untuk mengerjakan hal yang sama.

Terdapat juga kisah mengenai kunjungan sahabat lama Darwish bernama Izzeddine Kalak yang telah meninggal beberapa waktu silam. Kalak terbunuh di Paris pada Agustus 1976. Izzeddine Kalak  adalah cendekiawan Palestina dan perwakilan PLO untuk Prancis. Kalak mengaku datang dari alam lain, sekedar untuk berbincang dengan Darwish. Namun, perbincangan diantara keduanya tak berlangsung lama. Karena  Kalak harus lekas kembali ke dunianya.

Ada juga cerita perempuan sekte Maronite yang membenci para imigran muslim. Khususnya,  bangsa Palestina. Bagi perempuan sekte Maronite tersebut, pengepungan Beirut tak lebih dari pembersihan orang asing dari tanah kelahirannya. Padahal, kenyataannya tak demikian. Sebab, meriam dan bom yang menghujani kota Beirut, mengbinasakan siapa pun tanpa kecuali.

Selain melukiskan ihwal Kota Beirut, Memory for Forgetfulness juga memuat beberapa potongan cerita yang tak berkaitan dengan Beirut.

Sepertti cerita Darwish yang tengah panik, tatkala dirinya hampir saja tenggelam di Sungai Tigris atau potongan sejarah saat Shalahuddin al-Ayubi memberikan minum kepada pasukan musuhnya yang tengah kehausan di perang salib. Selain itu ada juga cuplikan hikayat tentang adat sebuah keluarga yang membasuh muka dan meludah di bejana yang sama.

Memory for Forgetfulness adalah salah satu karya yang membekukan peristiwa pengepungan kota Beirut oleh pasukan Israel pada tahun 1982. Untuk buku bertema sejenis, Memory for Forgetfulness yang diterjemahkan dari Dzakir lil-Nisyan adalah salah satu yang terbaik, karena ditulis oleh orang yang mengalami langsung peristiwa bersejarah tersebut.

Fatkhurrohman ZA, Mahasiswa Fakulas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,