Corona di Tengah Masyarakat Desa

Sumber: harnas.co

Sejak merebaknya kasus positif COVID-19 di Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mulai menganjurkan masyarakat untuk melaksanakan physical distancing dan membatasi segala aktivitas di luar. Tempat-tempat umum ditutup, jalanan sepi, berbagai macam kegiatan yang mengumpulkan massa terpaksa dibatalkan.

Semua sekolah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, diliburkan dan digantikan dengan kegiatan belajar daring. Sebagian besar mahasiswa rantau memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan menjalani karantina mandiri agar dapat berkumpul dengan keluarga.Saya sendiri sebagai mahasiswa rantau yang kebetulan masih memiliki keluarga di Jogja, memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman.

Berbagai pemberitaan tentang melejitnya kasus positif Covid-19 di Indonesia, seolah tak henti diberitakan baik di televisi maupun di sosial media. Hal itu membuat saya sedikit cemas akan keadaan keluarga di desa asal saya Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura. Tetapi ketika mengabari keluarga di rumah, saya sedikit terkejut dengan pengakuan adik saya, “Mbak, di Madura gak ada corona, mbak pulang aja,” begitu katanya. Saya tentu tidak percaya. Akhirnya, saya mencoba melihat data persebaran Covid-19 di Madura, melalui situs resmi pemerintah provinsi Jawa Timur.

Sesuai update terbaru tanggal 12 Juni 2020, di Madura terdapat 195 kasus positf dengan sebaran di masing-masing daerah : Bangkalan 109 kasus, Sampang 59 kasus, Pamekasan 56 kasus, dan Sumenep 16 kasus. Artinya, Madura tetap merupakan daerah terdampak Covid-19 dengan tingkat kasus positif yang cukup tinggi.

Namun ungkapan adik saya tempo lalu tidak bisa disalahkan juga, karena pengakuan semacam itu, juga saya dapatkan dari beberapa teman saya yang berada di desa. Mereka menyatakan pengakuan yang sama, “di Madura gak ada Corona”.

Setelah bertanya lebih dalam lagi, akhirnya saya tahu bahwa ungkapan semacam itu terlontar karena kehidupan sehari-hari masyarakat di desa sama sekali tidak mengalami perubahan, seperti sebelum corona menyerang. Meskipun masyarakat sempat merasa panik di awal masa pandemi, namun seiring berjalannya waktu, masyarakat sudah tidak terlalu ambil pusing dan tetap menjalani kehidupan seperti semula.

Pasar-pasar masih ramai, masjid-masjid masih mengadakan sholat jum’at dan sholat berjamaah, tahlilan masih berlangsung, bahkan perayaan hari raya idul fitri kemarin masih meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun sekolah-sekolah sama diliburkan dan diganti dengan pembelajaran daring, tetapi himbauan untuk beraktivitas di rumah, seolah tidak pernah terdengar oleh masyarakat desa. Barangkali bagi masyarakat desa, corona sudah seperti artis baru yang numpang tenar, di awal mencuri perhatian namun lama-lama sudah tidak lagi dipedulikan.

Masyarakat desa yang mayoritas merupakan pekerja sektor informal, tentu menolak untuk di rumah saja.Bagi mereka, di rumah saja hanya akan menyebabkan perekonomian mereka lumpuh dan tidak memiliki sumber pendapatan untuk makan.

Pernah sekali seorang teman mengirimi saya sebuah video yang berisi keluhan salah seorang tetangganya, saya cukup terenyuh begitu bapak dalam video itu mengatakan kalimat,“iyeh mon pegawai geji sebulen kenning kakan du bulen, mon sengkok ollenah lakoh setiyah e kakan setiyah, mon pas neng roma tok benne mateh bik corona ken mateh tak makan”, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “iya kalau pegawai gaji sebulan bisa dibuat makan dua bulan, kalau saya hasil kerja hari ini ya buat makan hari ini juga, kalau di rumah saja bukan mati karena corona tapi mati karena tidak makan”.

Ucapan bapak dalam video itu, seolah menggambarkan pola pikir masyarakat desa kebanyakan. Mereka lebih mengutamakan keberlangsungan hidup daripada terlalu pusing memikirkan bahaya virus yang sedang menyerang.

Budaya masyarakat yang masih sangat religius, juga menjadi salah satu faktor yang membentuk pola pikir masyarakat. Masyarakat desa cenderung berpikir, bahwa perihal penyakit dan kematian merupakan kehendak Tuhan yang sudah pasti.

Meskipun dirumah saja kalau Allah menetapkan sakit dan mati ya tetap sakit dan mati, begitulah protes ayah ketika saya mencoba meminta pendapatnya beberapa waktu lalu.

Tingginya semangat spiritual di masyarakat desa, seolah menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk bahayanya Covid-19.
Bila dikaitkan dengan tingkat kesadaran menurut Paulo Freire, masyarakat desa khususnya di Madura masih berada dalam tingkat kesadaran magis dan sebagian lagi
dalam tingkat kesadaran naif.

Sebagian besar masyarakat desa berada dalam tingkat kesadaran magis, karena mereka masih begitu kental dengan kepercayaan terhadap takdir dan doktrin keagamaan, sehingga mereka memandang corona hanya sebatas ujian dan cobaan dari Tuhan dan cara mengatasinya dengan meminta perlindungan dan berserah pada tuhan.

Bahkan, sempat beredar hoax mengenai penangkal corona yang begitu menggiurkan masyarakat karena dikaitkan dengan ulama besar Syaichona Kholil. Sedangkan sebagian masyarakat yang memiliki pendidikan lebih tinggi seperti anak-anak kuliahan, para PNS atau masyarakat yang ada dalam lingkungan tersebut tentu lebih banyak memiliki informasi mengenai covid-19, sehingga mereka lebih berhati-hati dan melakukan upaya pencegahan namun bersifat alakadarnya sebatas menggunakan masker, sehingga masih dikategorikan dalam tingkat kesadaran naif.

Dalam menangani covid-19, mengandalkan para tenaga medis saja belum cukup, sangat dibutuhkan kesadaran dan pencegahan dari masyarakat sendiri. akan tetapi, menyalahkan pola pikir masyarakat juga bukan pilihan baik, karena pada kenyataannya pemerintah juga belum cukup menjamin segala kebutuhan mereka.

Kekompakan dalam masyarakat menjadi penting dalam hal ini, saling mengingatkan, dan saling membantu. Karena budaya masyarakat Madura yang begitu religius, himbuan pemerintah saja tidak cukup membuat tingkat kesadaran masyarakat naik menjadi kritis.

Barangkali juga dibutuhkan himbauan yang berasal dari kekuatan yang paling diagungkan masyarakat yakni dari golongan kiyai atau tokoh agama, sebagaimana para influencer membantu memberi himbauan bagi masyarakat kota. Semua yg paham akan bahaya covid-19, perlu mengedukasi masyarakat yg lain.

Jika memang melakukan kegiatan seperti biasa, setidaknya mari mengedukasi untuk tetap menjaga kesehatan dan patuhi protokol yang ada.

Halimatus Sakdiyah, Jurnalis LPM Rhetor, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

The Lobster: Tentang Kebebasan dan Ruang Privat

Sebelum fiksi ilmiah yang bercerita tentang tema distopia