Ahmad, dan Busok Si Penghuni Pulau Raas

Sumber: Wikipedia
Suatu malam di tepi dermaga, Ahmad duduk termenung menikmati dinginnya angin malam yang menghembus perlahan ke wajahnya. Tak sesekali ia mendongak ke atas, disaksikannya langit navi yang mengundang beribu imajinasi dalam pikirannya. Di atas sana, bintang-bintang tampak berpesta. Entahlah, mungkin sedang merayakan sesuatu. Sementara pada sisinya, rembulan terlihat malu-malu, sebagian tubuhnya bersenbunyi di balik awan, sehingga hanya terlihat separuh.

“Aaah, tak kutemukan ini seumur-umur ku di Jogja. Tidak sekalipun. Mungkin tak pernah, atau aku yang terlalu abai atas kemegahan ciptaan Tuhan selama ini” ucapnya dalam hati,  sambil memandang ke hamparan laut luas tak berujung itu.

Ya, Ahmad dan beberapa temannya sedang melakukan KKN (Kuliah kerja nyata) di sebuah pulau ujung timur Madura. Sebuah pulau dengan keasriannya yang masih sangat terjaga.

Ketika Ahmad sedang asik-asiknya menikmati indahnya alam. Di sisi yang berbeda, terlihat sesuatu muncul ke arahnya. Remang-remang, namun semakin dekat semakin tampak perawakannya. Ahmad mengikuti gerak geriknya dengan sangat teliti, terlihat dari alisnya yang berkerut seakan berusaha mengenali sosok yang mendekat padanya.  “Oh, si Busok”, ucapnya sambil tersenyum, dan nada yang sedikit pelan.

Busok, salah satu teman baru Ahmad di pulau ini, teman dekat, bahkan sangat akrab. Semenjak Ahmad tinggal di pulau Raas ini, sosok Busok lah yang tidak henti-hentinya menghadirkan tawa lepas bagi Ahmad.

Jika ada kesempatan dan waktu luang yang panjang, Busok selalu bercerita banyak tentang pulau Raas ini. Ia tahu betul segala sisi tentang pulau ini, terkait bagaimana pulau Raas harus diperlakukan baik oleh manusia, keindahan sunrise dan sunsetya, serta masih banyak lagi yang tidak Ahmad ketahui sebelumnya.

Dan di dermaga ini, lagi-lagi Busok menghampiri Ahmad dengan membawa cerita yang mesti sahabatnya itu dengar, sebelum akhirnya pulang ke Jogja.

“Ahmad sahabatku, ketahuilah. Banyak keindahan yang sangat menakjubkan di pulau Raas ini, yang tak mungkin engkau jumpai di mana pun.” Ucap Busok yang seketika duduk di samping kanan Ahmad.

“Engkau tak akan mungkin mengerti betapa istimewanya pulau ini, sebuah pulau yang berada di ujung Madura. Ujung sekali. Bahkan orang-orang luar akan berpikir berulang-ulang untuk datang ke sini, tetapi saat mereka telah berada di sini, ia pun akan berpikir berulang-ulang untuk meninggalkan segala keindahan yang mereka jumpai di pulau ini. ”

“Pulau Raas dikelilingi oleh lautan yang indah, Mad,” lanjut si Busok, sementara Ahmad terus saja membiarkan matanya merayapi keindahan malam, sambil mendengarkan cerita Busok yang duduk santai di dekatnya.

“Bahkan saking jernihnya perairan di pulau ini, kamu dapat melihat ke dasar. Pasirnya tampak begitu jelas kan?, di tambah hasil laut yang tidak ada habis-habisnya, meski telah di keruk oleh manusia tanpa henti. Alamnya sangat bersahabat bukan?, tidak menyakiti, meski sering di sakiti oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab”. Oceh Busok sekali lagi dengan wajahnya yang tampak memperlihatkan kekecewaan.

Malam semakin terasa hening, hanya debur ombak yang seakan menjadi instrumen syahdu di telinga. Busok belum juga melanjutkan ceritanya, hingga keduanya benar-benar hanya duduk memandagi sekeliling pulau Raas.

“Kamu benar Sok, aku juga berpikir begitu. Sampai umurku yang berkepala dua ini, tidak ada tempat yang membuat ku sekagum di pulau mu ini. Betapa nikmatnya merasakan malam yang tenang dan damai, menyaksikan bulan dengan begitu jelas, membuat aku tak henti-hentinya berucap syukur.”

“Ya, Jelas lah. Pulau ku ini sangat indah bukan?, sebenarnya aku sudah sangat bosan mendengar decak kagum mu setiap kita duduk di dermaga ini”, ucap Busok dengan nada bangga yang seketika memecah keheningan malam.

“Ah. Dasar kamu Sok, di puji sedikit lansung melangit.” Balas Ahmad, sambil menepuk pundak Busok sahabatnya. (Keduanya akhirnya tertawa lepas).

Busok yang akhirnya berhenti tertawa lebih dulu, kembali bercerita.

“Mad, banyak kekayaan pulau Raas yang tidak dimiliki oleh pulau di tempat lain (Tegasnya lagi). Hanya ada di sini. Ikan malengseng namanya. Sejenis ikan yang tidak bersisik , berdaging padat, manis dan empuk. Ada juga, jagung palotan (ketan), yang pastinya tidak ada di tempat lain Mad. Jika kamu ke selatan, ada pantai batur, surga rumput laut. Sementara di utara, kamu akan temukan lautan bakau yang tumbuh subur. Di sisi barat, ada puncak ketupat, kamu akan temukan sunset menakjubkan dari tepi tebing yang tak kan kamu lupakan seumur hidup, kemudian pantai pasir panjang, sensasi pasir putih yang menakjubkan, dan terakhir, disisi Timur ada jajaran pantai kecil dan bakau.”

“Terserah kamu mau kemana, tak akan bosan hidupmu di pulau ku ini. Hahaha.” Tawa Busok yang begitu bangga dengan pulau kelahirannya.

Sementara Ahmad yang mendengarnya, hanya nyiyir, namun memendam rasa bangga yang dalam terhadap Pulau Raas tempat Busok sahabatnya.

“Ahmad, dipulau ini, tak akan kamu temukan manusia yang jahat padamu, manusia disini begitu menghargai kebersamaan, tidak ada yang hidup sendiri-sendiri, semua bekerja sama, semua senang, semua bahagia, Ahmad.”

Ahmad lagi-lagi hanya mendengarkan ocehan Busok yang membuatnya tidak mampu berkata banyak, seperti malam-malam sebelumnya.

Tetapi, malam ini ia ingin bertanya banyak pada Busok. Mengeruk banyak hal tentang pengalaman Busok mengenai pulau ini. Ya, semacam wartawan dengan rasa ingin tahu yang tinggi. (heheh)

Ahmad akhirnya memperbaiki posisi duduknya, berada lebih dekat lagi dengan Busok.

“Eh, Sok.” (Sambil bersiap-siap bertanya). “Oh iya Mad, Kamu tahu nggak, kenapa pulau ini disebut sebagai Pulau Raas?,” potong Busok saat Ahmad baru saja ingin menanyakan pertanyaan yang serupa. Ahmad hanya terdiam, selalu saja seperti ini. Setiap kali ia ingin menanyakan sesuatu ke Busok, Busok lebih dulu memberitahukan sesuatu yang persis dengan apa yang ingin ditanyakannya. Sepertinya Busok bisa membaca pikiran Ahmad. Itulah mengapa, setiap kali ingin bertanya, Ahmad lebih memilih diam. Toh, ujung-ujungnya Busok akan menjawab sebelum ditanya.

Wajah Ahmad memelas, misinya yang bak wartawan handal selalu lenyap seketika, saat berbicara dengan Busok. Sementara Busok terus saja melanjutkan ceritanya.

“Mengapa pulau ini disebut dengan pulau Raas, karena orang yang pertama kali datang dan mendiami pulau ini bernama Adirasa. Jadi, nama pulau nya diambil dari nama panggilannya (Raas).” Simpul Busok dengan senyum disunggingkan.

“oh, iya. Aku sampai lupa Mad. Selain dari semua keindahan yang ku ceritakan tadi. Hal yang tidak akan pernah kamu temukan di pulau lain adalah keberadaan kucing seperti ku. Memang dari segi fisik, perawakan ku sama dengan kucing-kucing pada umumnya. Tetapi bedanya, aku bisa hidup lebih lama dari kucing-kucing pada umumnya. Aku dapat menjatuhkan cicak di dinding tanpa menyentuhnya. Hanya tatapan mata. Hebat bukan?.” Oceh Busok sambil terus memuji dirinya.

Tetapi memang benar, Busok adalah kucing yang hanya mendiami pulau Raas. Ia telah menjadi penghuni lokal asli di sini. Konon, jika ada yang membawa Busok keluar dari pulau ini, hidupnya tidak akan lama. Dan menurut cerita-cerita masyarakat, orang yang berteman baik dengan si Busok ini, hidupnya akan damai, tenang, dan bahagia.

Mungkin begitulah yang dirasakan oleh Ahmad sahabatnya. Ia dapat saling mengenal dalam waktu yang sangat singkat. Persahabatan antara seekor kucing dan manusia. Yah, memang terasa aneh. Namun entah mengapa keduanya dapat seakrab itu dan bahkan dapat saling berbagi cerita.

“Wah, keren banget. Terimakasih yah Sok, sudah mau bercerita banyak tentang pulau Raas ini, dan cerita ini pun akan ku bawa sebagai bekal ketika pulang ke kota Pendidikan nanti,” sambung Ahmad sebelum akhirnya keduanya berpisah.[]

 

 

Fajril Haq. Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

You may also like

Pusaka

Oleh : Abdul Majid* “Hanya perjaka yang boleh