Jeruji Bahkan Bukan Hambatan

Sumber Foto: pembebasan.org

Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”

-Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia (1980)

Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih kerap disapa Pram merupakan salah satu sastrawan besar Indonesia yang dikenal sejagat raya sebagai seorang penulis kritis berkat karya-karyanya yang fenomenal. Terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Mastoer dan Oemi Saidah yang berprofesi sebagai kepala sekolah SD Institut Boedi Oetomo dan penjual nasi di Blora, 6 februari 1925.

Prestasi Pram kecil berbanding terbalik dengan karya-karya cemerlangnya yang kita kenal, dia tak pandai dalam pelajaran di sekolah dasarnya. Ayahnya menganggap dirinya bodoh karena tiga kali tak naik kelas dan akhirnya bisa lulus juga berkat didikan keras dari ayahnya sendiri. Pak Mastoer, ayah Pram, menolak untuk mendaftarkan Pram ke MULO (setingkat SLTP era kolonial). Ia pun melanjutkan pendidikannya di sekolah telegraf di Surabaya dengan biaya pas-pasan dari ibunya dan kemudian bekerja sebagai juru ketik dan korektor di kantor berita Domei (milik Jepang) yang ada di Jakarta selama masa penjajahan Jepang. Pada masa ini ia telah menghasilkan banyak karya berupa puisi, cerpen, novel dan artikel.

Ketajaman karyanya berbuah ikatan Pram yang akrab dengan penjara. Pram pernah ditahan tiga tahun lamanya pada masa kolonial, satu tahun pada masa orde lama dan kemudian empat belas tahun pada masa orde baru sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, Pram mengikuti kelompok militer di Jawa. Ia aktif menulis cerpen dan buku sepanjang karier militernya. Kemudian pada tahun 1948-1949 ia dipenjara oleh Belanda, yang saat itu kembali mengagresi pemerintahan Republik, di Jakarta, dan pada tahun 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya era Orde Lama, dan ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia sekembalinya ia dari Belanda.

Pada masa peralihan kekuasaan era Orde Lama ke Orde Baru, sekitar tahun 1965-an, Pram kembali harus mendekap di Nusakambangan lalu di pulau Buru sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan yang jelas. Pemerintahan militeristik karya Soeharto menganggap Pram dekat dengan komunis. Bukunya yang berjudul Hoakiau di Indonesia menjadi salah satu pemicunya dan kemudian dilarang dari peredaran .

Pada masa penahanannya di pulau Buru, ia dilarang melakukan segala aktivitas kepenulisan, tapi justru serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial empat kronik novel semi fiksi sejarah Indonesia, lahir dari balik jeruji pemerintah. Jilid pertamanya ia ceritakan kepada teman-teman setahanannya dan sisanya diselundupkan lalu kemudian terselamatkan berkat dikoleksi oleh pengarang Australia. Sekian tahun kemudian karya-karyanya lolos diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Pram dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979, ia terbukti tidak bersalah dan tidak terlibat dalam tragedy G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga tahun 1992, serta tahanan kota dan negara hingga tahun 1999.

Banyak tulisannya yang mengusung tema interaksi antarbudaya, antara lain Belanda, kerajaan di Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak juga tulisannya yang menggambarkan pengalamannya sendiri. Sejarah kehidupannya selalu lekat dengan kegiatan kepenulisan dan perekaman sejarah. Hingga di akhir era Orde Baru Pram memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk jurnalisme, sastra, dan seni komunikasi kreatif, tepatnya tahun 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk mendapat hadiah Nobel Sastra.

Pasca keruntuhan Orde Baru, karya-karya Pram tersebar bebas dan dapat dinikmati semua orang. Penghargaan demi penghargaan tak kunjung henti mendatanginya, terbukti pada tahun 1999 ia memperoleh penghargaam dari Uniersitas Michigan. Setahun kemudian, ia kembali menyabet penghargaan Budaya Asia Fukuoka XI dan pada tahun 2004 Norwegian Authors’ Union Award atas sumbangannya pada sastra dunia.

Hingga akhir hayatnya, Pram tetap aktif menulis meskipun kesehatannya memburuk akibat usianya yang lanjut dan hobinya merokok. Pada tanggal 27 April 2006 Pram didiagnosis menderita radang paru-paru serta komplikasi diabetes, jantung dan ginjal. Lalu pada tanggal 30 April 2006, dunia sastra Indonesia harus berduka kehilangan salah satu sastrawan besar yang telah banyak menyumbangkan karya fenomenalnya pada dunia,  Pram meninggal dalam usia 81 tahun pada pukul 08.55 WIB di kediamannya, Jl. Multikarya II No. 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak.

 

*Artikel ini ditulis oleh Nadia Nur Hasanah sebagai tugas Pra-Upgrading anggota LPM Rhetor (2017).

Sumber:

  • wikipedia.org
  • merdeka.com

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan