Ditempat itu aku menyaksikan
Kedua kaki yang kokoh oleh campuran semen dan air
Sebagai wujud peduli terhadap tanah air
Dimana keadilan dan kepedulian telah mencair.
Bulu kudukku mulai merinding
Menyaksikan kedua kaki kaku yang bersanding
Mengungkapkan gejolak hati yang berkabung
Karena perjuangan Yu Patmi yang bersambung
Nalarku tidak dapat menggambarkan
Perjuangan seorang ibu yang terabaikan
Menolak pabrik semen didirikan
Di sana tempat mencari makan dan kehidupan
Tuhan…
Apakah aku berdosa
Mengatakan bangsat pada para penguasa
Yang punya hati, namun tak punya rasa
Yang punya mata, namun tak melihat asa
Apakah aku berdosa
Mengutuk para pemakan harta
Yang hidup atas jerih payah rakyat jelata
Seakan berjalanpun seperti melata
Demi menggapai hidup yang indah di mata
*Penulis merupakan wartawan aktif Lembaga Pers Mahasiswa Rhetor.
