Humor Kelam : Menertawakan Tragedi Bersama Eka Kurniawan, dari Jugun Lanfu, Seks, sampai Komunisme di Indonesia

Oleh : Kush Albi*

Berkali-kali tawa saya selalu meledak ketika membaca Cantik Itu Luka, karya Eka Kurniawan. Humor yang disajikan Eka adalah humor yang akan membangkitkan perasaan getir dan lucu secara sekaligus.

Saya ingat bagaimana ketika saya tertawa terhadap salah satu tokoh yang mati, tertawa pada sebuah tragedi dalam sejarah, atau bahkan tertawa pada sebuah adegan kekerasan seksual di dalam novel itu. Bukan maksud saya menjelaskan betapa kacaunya selera humor saya, tetapi begitulah kesan yang saya dapatkan dari membaca Cantik Itu Luka. Sebuah humor yang kelam.

Saya rasa, novel ini adalah pencapaian Eka dalam pembacaannya terhadap karya-karya stensilan pada era 80-an yang sering ia bahas juga di website pribadinya. Saya menemukan seks, horror, mistikisme dan narasi persilatan yang juga menjadi tema populer pada karya sastra tahun 80-an. Eka pun berhasil membawakannya menjadi lebih baru, dengan caranya sendiri.

Dalam lanskap yang sureal, Eka membawakan objek-objek sejarah, tragedi, budaya, dunia persilatan, dan bahkan isu tabu seputar selangkangan. Semuanya diramu secara apik dengan gaya narasi humor yang terlampau kejam, ironis, dan satir. Meskipun banyak bangunan-bangunan logika yang sedikit dipaksakan, saya pikir itu tidak menjadi soal, karena novel ini disajikan dengan gaya surealis atau lebih tepatnya realisme magis? Entah.

Banyak ulasan menyebut novel ini sebagai novel dengan humor yang satir. Saya pikir tidak cukup. Maka ijinkan saya meminjam istilah yang lahir dari seorang seniman surealis bernama Andre Breton. Cantik Itu Luka bakal saya sebut sebagai black comedy.

Awalnya saya menemukan narasi black comedy dalam kesusastraan Indonesia, melalui cerpen-cerpen karya Gunawan Tri Atmodjo. Sebuah sensasi humor akan kematian, penyakit, atau hal-hal yang seharusnya tidak pantas ditertawakan. Saya pikir, mungkin masih banyak narasi humor serupa yang ada dalam kesusastraan Indonesia.

Seperti Apa Humor Sebenarnya?

Pada zaman Yunani kuno, humor sering mendapat pandangan yang buruk dari para filsuf. Seperti halnya Plato dalam Republik yang mengatakan bahwa humor menggunakan kebodohan dan keburukan sebagai objek.

Serta dalam Philebus (48-50), Plato juga menganggap humor sebagai salah satu bentuk caci maki. Tidak hanya itu Aristoteles pun punya nada yang serupa dengan Plato. Ia menganggap (dalam Nicomachean Ethics) bahwa hidup yang baik ialah hidup yang hanya berdasarkan pada nalar, yang berarti humor sebagai luapan emosi, benar-benar tidak dianggap penting.
Sebenarnya, tidak hanya filsuf terdahulu yang menganggap humor sebagai perilaku yang negatif.

Pengaruh-pengaruh semacam itu masih berlanjut sampai pada pemaknaan ayat-ayat Bibel, dan pemikiran barat secara dominan. Berdasarkan hal-hal itu lah yang kemudian muncul istilah teori superiotitas pada sekitar abad 18 sampai 20 awal.

Teori ini pada dasarnya mendefinisikan tawa sebagai bentuk ekspresi manusia dan perasaan superiornya di atas orang lain.
Setelah muncul teori superioritas, Kant, Schopenhauer, dan Kierkegaard, memberikan pemikiran filsafat baru terhadap humor.

Teori mereka mengangap bahwa humor serta tawa adalah salah satu bentuk ekspresi terhadap hal-hal yang ganjil. Maka, teori tersebut disebut sebagai teori keganjilan, yang kemudian mempengaruhi konsep humor modern sampai saat ini.

Immanuel Kant mengatakan “Laughter is an affection arising from a strained expectation being suddenly reduced to nothing”. Artinya tawa adalah sesuatu yang muncul dari suatu keadaan (pra-kondisi) yang menimbulkan ekspektasi, kemudian secara tiba-tiba, ekspektasi itu hilang atau menjadi berubah.

Begitu juga Schopenhauer yang mengatakan bahwa sebuah tawa terjadi karena sebuah persepsi keganjilan antara konsep dan objek yang nyata. “The cause of laughter in every case is simply the sudden perception of the incogruity between a concept and the real object”.

Dalam kalimat lain Schopenhauer juga berkata bahwa tawa berasal dari paradoks “All laughter, then is occasioned by a paradox”.

Teori tentang humor kemudian dikemukakan lagi lebih detail pada tahun 1913 oleh Henri Bergson, melalui bukunya yang berjudul Laughter: An Essay on the Meaning of the Comic. Bergson menjabarkan humor melalui dua teori sebelumnya dan kemudian menjelaskan humor dalam bentuk-bentuknya yang metafisik. Teori Bergson tentang humor saya pikir hanya penyempurnaan dari teori keganjilan.

Humor kelam dalam Cantik Itu Luka.

Dalam sebuah jurnal yang berjudul The Comedy of Entropy : The Contexts of Black Humour, yang ditulis oleh Patrick O’Neill terdapat beberapa definisi tentang frasa ‘black humour’ (yang selanjutnya akan saya artikan sebagai humor kelam).

Salah satu definisi tentang humor kelam sendiri dapat dilihat pada New Columbia Encyclopedia yang mendefinisikan bahwa humor kelam adalah humor dengan hal-hal aneh atau kematian, untuk mengekspresikan ketidakjelasan, sensitivitas, paradoks, dan kekejaman dalam dunia modern.

Dalam bahasa Prancis pun, dikenal istilah ‘humour noir’ yang tentu artinya sama, definisinya dalam bahasa Prancis sendiri adalah salah satu bentuk humor yang menggunakan kekejaman, kepahitan, dan kadang keputusasaan.

Jika melihat definisi tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa humor kelam sama saja dengan teori-teori humor “standar”. Sesuatu yang membuatnya berbeda adalah konteks dan objeknya. Ketika humor biasa menggunakan objek-objek yang secara “wajar” dapat ditertawakan, maka humor kelam dapat menggunakan objek-objek lain sebagai humor itu sendiri.

Salah satunya adalah tentang kematian, bagaimana kita bisa menertawakan kematian? Tentunya objek tersebut sangat tidak pantas untuk ditertawakan. Saya kira begitu, teorinya tetap sama: keganjilan.
Kita bisa lihat pada bagian novel Cantik Itu Luka yang saya kutip:

“‘Kalau begitu lakukanlah di kamar mandi,” kata Kliwon. “Biarkan ia telanjang, mungkin ia ingin buang tai dulu, dan tembaklah.”

“Seorang komunis nomor satu mati di kamar mandi,” kata Sang Kapten sambil menganggukan kepala. “Cerita bagus untuk buku sejarah kelak.'” hlm 185.

Saya lihat bagaimana kematian itu menjadi sebuah humor. Ketika ada tokoh yang hendak dieksekusi, tokoh-tokoh lain sibuk berdebat, bahkan salah satunya berpikir tentang buku sejarah. Menurut saya inilah keganjilan yang dapat ditertawakan, dengan objek kematian.

Hal lain dalam novel ini, yang bisa saya sebut sebagai humor kelam adalah ketika Eka menjadikan objek sejarah kelam menjadi humor. Meskipun tidak secara jelas, dalam adegan ketika tokoh utama dalam novel, yaitu Dewi Ayu, dipaksa menjadi Jugun Ianfu atau budak seks tentara Jepang, narasi yang diberikan Eka rata-rata selalu bernada humor.

Seperti yang kita tahu, dalam sejarah Indonesia pada masa penjajahan Jepang, Jugun Ianfu merupakan salah satu penderitaan mengerikan yang pernah dialami bangsa ini. Maka saya kutip salah satu adegan yang menggambarkan humor kelam tersebut :

‘Gadis itu, Helena, tampaknya merupakan satu-satunya yang paling terguncang oleh pengetahuan bahwa mereka akan menjadi pelacur. Konon ia telah berniat mengabdikan dirinya menjadi biarawati, sebelum perang datang dan semuanya berantakan. Ia satu-satunya gadis yang membawa buku doa ke tempat tersebut, dan kini ia mulai membaca salah satu Mazmur dengan suara keras, di hadapan orang-orang Jepang, berharap tentara-tentara itu akan lari ketakutan sambil melolong-lolong seperti iblis. Di luar dugaannya, tentara-tentara Jepang itu bersikap sangat baik kepadanya, sebab di akhir doa, mereka akan membalas :

“Amin” Kemudian tertawa, tentu saja.

“Amin,” ia pun membalas, sebelum terkulai lemas di kursi.’, (hlm 89).

Humor kelam dalam adegan tersebut tentu saja memiliki banyak objek yang tidak wajar. Ketika seorang Jugun Ianfu itu mencoba berdoa, ternyata ekspektasi kita terhadap hal baik yang akan terjadi sirna, bahkan hal ganjil yang terjadi yaitu Sang Prajurit yang hendak memerkosa, ternyata malah ikut berdoa.

Sebuah humor dengan objek adegan kekerasan seksual pun juga ada di dalam novel ini. Jika melihat kultur Indonesia, seks adalah salah satu objek atau fakta yang sangat tabu untuk diperbincangkan, apalagi dijadikan humor.

Dalam novel ini, terdapat sepasang suami istri, yaitu Alamanda dan Shodanco. Alamanda tak pernah mencintai Shodanco maka dari itu, ia tidak pernah mengijinkan sang Shodanco untuk bersetubuh dengannya, dengan humor kelam Eka menulis sebuah keganjilan bahwa Alamanda selamat dari percobaan pemerkosaan yang dilakukan Shodanco, karena memakai celana dalam besi. Sebuah hal aneh lagi untuk ditertawakan.

Komunisme di Indonesia, yang juga menjadi sejarah gelap bangsa. Juga tak luput dari sasaran objek humor bagi Eka. Dalam beberapa versi sejarah, disebutkan bahwa terjadi pembantaian besar-besaran pasca runtuhnya Partai Komunis Indonesia. Dalam novel ini Eka menjadikan korban-korban pembantaian itu menjadi hantu yang selalu mendatangi dan menggangu para anggota militer. Seperti pada bagian :

‘Pada awalnya ia sesunggunya tak setakut itu. Jika ada hantu komunis muncul dengan luka tembak di sekujur tubuhnya dan mulut menggeram sesuatu, mungkin lagu Internationale, ia akan mengeluarkan pistol dan menembaknya. Awalnya hantu-hantu itu akan lenyap oleh satu tembakan, namun lama kelamaan mereka menjadi kebal'(hlm 374).

Sungguh suatu objek yang lengkap sebagai humor kelam, kematian, tragedi, bahkan sebuah keanehan yang digambarkan melalui hantu yang penuh luka tembak. Hal yang lucu adalah Eka dapat membuatnya mati berkali-kali, bahkan tetap menyanyikan lagu Internationale.

Bagaimana humor sebenarnya?

Bergson dalam Laughter juga mengatakan bahwa humor juga dapat bersifat kritik, yang menggabungkan ide-ide dan rasionalitas. Saya juga melihat dari humor Eka pun begitu. Bangsa ini kadang terlalu takut melihat fakta dan Eka mengubah segala realita yang pahit itu menjadi sebuah tawa. Dalam humor kelam Eka, kita memilih tertawa daripada merasa getir. Hanya dengan begitu kita bisa menerima kenyataan pahit.

Menerima kenyataan pahit melalui tawa saya pikir memang menyenangkan. Eka Kurniawan, dalam Cantik Itu Luka telah berhasil membuat saya menertawakan tragedi dan isu-isu kemanusian yang belum selesai di Indonesia. Saya kira begitu.

Sumber:
O’Neill Patrick. 1983. The Comedy of Enthrophy : The Contexts of Black Humour. Canadian Review of Comparative Literature. 10(2): 145-166.
Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2012. Philosophy of Humor di https://plato.stanford.edu/entries/humor/#HumBadRep (terakhir akses 26Juni)
Khoiril Maqin. 2016. Bergson dan Kenapa Kita Tertawa? LSF Cogito di http://lsfcogito.org/bergson-dan-kenapa-kita-tertawa/ (terakhir akses 26 Juni)

*adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan jurnalis aktif LPM Rhetor.

You may also like

Bahaya Fanatisme Agama

Kehidupan masyarakat desa yang masih sangat minim ilmu