Pusaka

Oleh : Abdul Majid*

“Hanya perjaka yang boleh mengambil pusaka milikku.” Bisikan itu Ia peroleh dari pertapaannya selama tiga purnama di sebuah hutan di Banten sana, begitu kata Ambu padaku ketika pertama kali bertemu dengan Abah dua puluh tahun yang lalu.

Bisikan itu pula yang membuat Ambu mau diajak menikah oleh Abah. Sebab Abah tidak lagi perjaka, Abah membutuhkan rahim Ambu agar dapat memperoleh keturunan dan Ia bersumpah akan menjaga serta merawat keperjakaan anak yang lahir dari rahim Ambu kelak. Dan Ambu mau.

Ambu tidak membantah ambisi Abah yang begitu kuat saat itu. “Abahmu itu orang yang tampan dan tahu bagaimana cara merawat diri agar tetapbersih, Ambu suka lelaki bertubuh bersih dan wangi.” Jelasnya padaku ketika membuka alasan kenapa mau dinikahi Abah.

Tetapi Ambu juga sempat diliputi ketakutan; bagaimana kalau ternyata bayi yang aku lahirkan adalah bayi perempuan? Atau kalau aku mandul? Ambu tak bisa membayangkan kalau itu betul-betul terjadi. Abah juga urung menjawab pertanyaan Ambu.

**

Setelah digelarnya pebantuhan Ambu dan Abah, di kamar pengantin, Ambu bertanya kembali pada Abah. Pertanyaan yang sama tentang ketakutan Ambu; kita boleh berharap sebesar apa pun, tapi yang Maha Kuasa lebih berhak menentukan apa yang semestinya buat kita.

“Aku takut jika ternyata aku tak dapat memenuhi keinginanmu.” Ucap Ambu setelah mengajukan dua pertanyaan dan tak dijawab oleh Abah.
Satu tahun berlalu, Ambu tak kunjung hamil. Meski Abah telah menggagahi Ambu hampir setiap malam, kecuali ketika Ambu tengah datang bulan.

Selama satu tahun itu pula, setiap harinya, Ambu berusaha meyakinkan dirinya; Mungkin lusa, atau bulan depan akan ada tanda-tanda kehamilan menghampirinya. Pun dengan Abah, Ia tak putus harapan. Selama satu tahun, setiap harinya, Ia merenung dan bermunajat demi hadirnya jabang bayi laki-laki di rahim Ambu. Itu dilakukannya di hutan dibawah kaki gunung tak jauh dari belakang rumah.

Di sana, Ia bersila di bawah pohon beringin besar, bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung batik di bagian pinggang.
Setiap hendak bermunajat ke hutan di kaki gunung itu, Abah selalu memperingatkan Ambu agar jangan pernah sekali-kali mengikuti apalagi mengintip apa yang bakal dilakukannya. Dan Ambu mematuhi peringatan itu.

Abah dan Ambu sama-sama terus berupaya memanjatkan do’a pada Yang Maha Kuasa, meski dengan cara yang berbeda. Hingga di tahun kedua, Ambu tak kunjung bunting. Hal ini membuat Abah mulai berubah sikap, Ia mulai dingin dan agak kasar pada Ambu.

Dengan alasan tak jelas Abah sering melepaskan tamparannya pada wajah Ambu. Ini terjadi berulang-ulang di tahun kedua. Dalam keadaan kesakitan berkat tamparan Abah yang mendarat di mukanya, Ambu hanya bisa memasrah, Ia akan mengingat ketakutan-ketakutannya sebelum menikah dulu; Mandul.

Dan sekarang itu semua menjadi kenyataan.

**

Suatu waktu, di bawah terang bulan, di dalam kamar, Ambu menunaikan dua rakaat shalat tahajud. Setelah sebelumnya Ia digagahi Abah, kemudian mandi besar dan mengambil wudhu. Dulu Ia rutin melakukannya, terakhir kali yang Ia ingat adalah ketika masih mondok di pesantren Haji Uyen, dan setelahnya Ia tidak pernah lagi.

Bermula ketika seorang pemuda yang tidak Ia kenal datang ke rumahnya mengajaknya kawin. Sejak itu Ambu menjadi seorang isteri dari lelaki yang Ia terima sebagai suaminya. Malam-malam mereka dihabiskan dengan bercinta, dari mulai matahari tenggelam hingga shubuh tiba.

Namun malam itu Abah hanya sekali memuntahkan maninya, dan tidur setelahnya. Selepas dua rakaat tahajudnya, Ambu bermunajat. Sekarang mendekati akhir tahun kedua umur pernikahannya dengan Abah. Ambu berharap di tahun ketiga rumah tangganya Ia akan diberi seorang anak.

Memasuki awal tahun ketiga, belum juga muncul tanda-tanda kehamilan. Meski begitu, Ambu tetap bertahajud di tengah malam dan Abah semakin dingin serta kasar pada Ambu. Pada akhirnya meskipun tak kunjung mendapatkan anak, Ambu dan Abah tetap berdo’a.

**

Baru di pertengahan tahun ketiga, Ambu hamil. Abah teramat senang dengan kehamilan Ambu. Ketika itu, Abah percaya bahwa kehamilan Ambu tak lain dan tak bukan adalah berkat munajatnya yang tak pernah mengenal putus di bawah pohon beringin di kaki gunung di belakang rumahnya.

Sedang Ambu yakin betul ini berkat tahajudnya di beberapa malam ke belakang. Ketika itu Abah membantah tak sepakat terhadap apa yang diyakini Ambu. Menurutnya, tidak mungkin ketika do’a dipanjatkan melalui shalat tahajud yang belum lama Ambu tunaikan itu ialah penyebab Ambu, istrinya sendiri hamil. Tetapi Ambu tak mau berdebat ketika itu.

Apapun sebabnya, Ia hanya mengingatkan pada Abah agar jangan lupa untuk berterimakasih pula pada Haji Uyen, sebab dari dirinyalah Ambu mendapatkan saran agar setiap malam menunaikan shalat tahajud.

Ia juga turut mendo’akan agar Ambu dan Abah cepat diberi momongan, dan tentu saja sebotol air yang sudah dijampi-jampi sebagaimana setiap orang yang datang padanya yang meminta agar sembuh dari penyakit, ingin dilapangkan rezeki, atau pun pengaharapan lain seperti Ambu yang ketika itu ingin punya anak.

**

Sembilan bulan kemudian Ambu melahirkan bayi dalam perutnya. Abah langsung memangku bayi kecil laki-laki yang diinginkannya sejak sudah lama itu. Tidak seperti bayi yang baru brojol pada umumnya yang dilantunkan adzan di telinga kanan dan disusul iqamat di telinga kiri bayi.

Abah malah mengatakan; kau yang akan mengambil pusaka itu, camkan. Kemudian memberi nama bayi itu: Manikmaya. “Ya, itu namamu, Manikmaya.”

Begitulah semenjak saat itu aku dipanggil Manikmaya.

**

Abah dan Ambu merawat serta membesarkan aku dengan baik. Aku tak kekurangan kasih sayang sedikit pun, aku juga menyangi mereka tanpa sedikit pun menaruh benci. Setidaknya itu benar-benar berlangsung hingga aku berumur dua belas tahun, ketika aku kelas enam SD.

Suatu waktu Abah mengajaku berbicara serius di halaman rumah.

Ia bertanya “Apa kau sudah mimpi basah?

“Ya, sudah.” Jawabku dengan agak malu-malu, padahal sebetulnya dalam dada aku menyimpan seribu kebanggan.

“Kapan itu keluar?”

“Apa? Maksud Abah, mani bukan?”

“Ya, ya. Mana mungkin darah, kau lelaki. Kapan dan dengan siapa?”

“Tadi malam saat aku tertidur di ruang tengah, dengan seorang perempuan. Tapi entah siapa, sebab perempuan itu telanjang tanpa kepala. Tapi aku tidak peduli itu hanya mimpi”

“Apa betul-betul dapat kau pastikan kalau itu mimpi basah?”

“Tentu saja, aku merasakannya. Sensasi luar biasa yang meyetrum sekujur tubuhku, berlangsung cuma beberapa detik dan saat terbangun kudapati batang dagingku telah layu serta muntahan cairan kental amis membasahi selangkanganku. Sangat sesuai dengan apa yang diajarkan Haji Uyen ketika pengajian di surau dua hari yang lalu.” Aku menjelaskan apa yang benar-benar aku rasakan pada Abah.

“Oh, bagus lah. Ingat mulai sejak hari ini berhati-hatilah dengan perempuan, jangan terlalu dekat, jangan dulu berpacaran sebelum aku perbolehkan.”

“Abah, apa jangan terlalu dekat yang dimaksud juga berlaku terhadap Ambu?”

“Ah tentu tidak. Ya, hanya Ambu tidak yang lain.”

**

Saat usiaku enam belas tahun. Pada suatu semilir angin malam yang membelai-belai kepala dan tengkuk, Abah mengajakku untuk naik gunung di belakang rumah. Ambu sempat keberatan dan melarang kami untuk melakukan niatan itu. Tetapi Abah tetap kukuh, entah bagaimana aku baru pertama kali melihat Ambu benar-benar kukuh mempertahankan kemauannya, dan begitu juga dengan Abah.

Hingga mereka adu mulut dan baru berhenti ketika Abah mendamprat Ambu. Itu kali pertama aku melihat mereka bertengkar hebat, aku kira Ambu akan begitu saja mengalah sebab tamparan yang cukup keras di pipinya itu. Tapi aku keliru, Ambu makin menjadi-jadi dan Abah semakin tidak ragu untuk melepas dampratan kedua ke muka Ambu.

Perasaan aneh mulai menyelimuti dadaku, aku tak terima perlakuan Abah pada Ambu. Namun aku keburu ingat siapa lelaki yang ketika itu mendamprat Ambu malam itu; Ia Abah, bapakku yang terkenal jago gelut di seantero kampung.

Semua orang yang pernah punya masalah dengan Abah tak ada yang pernah mau mempermasalahkannya lebih jauh; Jelas mereka tahu, mereka takkan pernah bisa menang.

Mereka berhenti adu mulut, baru setelah aku putuskan untuk ikut dengan Abah dan membiarkan Ambu sendiri di rumah. Sepanjang perjalanan menuju gunung, aku menaruh rasa jengkel yang amat sangat pada Abah. Ia berjalan tepat di depanku, menyusuri jalan setapak yang diapit hijaunya rerumputan di kiri-kanan kami.

Kami berhenti di sebuah tempat dimana terdapat batuan besar yang membentuk gunung itu. Abah menghaturkan sembah dan sesaat menoleh ke belakang, memperingatkanku untuk mengikuti apa yang Ia lakukan. Pejamkan matamu pula, tambahnya.

“Apa yang kau pinta ketika dua purnama melewatiku telah aku hadirkan. Telah kutebus pula keterbatasanku; Tak perjaka. Kini aku sembahkan anakku. Kau yang hidup melintasi berpuluh-puluh peradaban, hadirlah! Telah aku sematkan Manikmaya pada anakku sesuai pintamu. Sekarang, hadirlah dan tunjukan dimana letak pusaka yang kau janjikan.” Ucap Abah pelan nyaris tak terdengar.

Beberapa saat tak sesuatu apa pun yang terjadi. Baru setelah Abah menyudahi hatur sembahnya dan kemudian menengadah ke atas, entah memerhatikan langit yang sedang gelap atau puncak gunung. Angin mulai bertiup lebih dari biasanya namun tidak sekencang badai, dan cukup untuk membuat bulu pudukku berdiri. Pepohonan di sekitar kaki gunung mulai bergoyang silih berganti, mungkin oleh monyet. Aku pun tidak tahu.

**

Tadi malam Haji Uyen mati sebab kalah oleh umur. Orang-orang berbondong berdatangan menghadiri pemakamannya. Aku ada di sampingnya ketika Ia sekarat. Ia mati ketika mengajar ngaji santri-santrinya di surau; Kejang-kejang setelah membacakan tiga baris kalimat dalam kitab kuning beserta maknanya. Ia berdehem, lalu kejang-kejang.

Aku dan santri-santri lainnya yang tak terlalu banyak, segera menghambur mengampiri Haji Uyen. Segera setelah kami tahu bahwa umurnya tak akan lama lagi, seorang santri menahan tubuh Haji Uyen, Ia melingkarkan tangannya ke pundak orang tua itu. KemudIan menggulungkan sorbannya dan dijadikannya bantalan untuk kepala calon orang mati itu.

Seorang santri lainnya menerobos memasuki ruangan kami, “Kyai, ngucap kyai. Ayo saya bantu.” Ucapnya.

Mulut Haji Uyen terkatup-katup, matanya melotot ke arah langit-langit surau dan perlahan mengarah padaku. Dalam baringnya, Ia berusaha sekuat tenaga menegakan tangannya, telunjuknya yang gemetar seolah ingin menunjukan sesuatu yang ternyata mengarah padaku. Dan hempasan nafas terakhirnya “Manik!”

“Innalillahi…” Rintih santri yang sebelumnya menawarkan diri memandu kalimat tahlil. Disusul tangisan yang mulai pecah dari santri lainnya.

Pagi hari mayatnya baru dikuburkan. Ambu hadir di pemakaman itu, malah Ia menangis tersedu-sedu. Aku dapat mengerti, mungkin ini karena Ambu merasa kehilangan guru yang dulu telah mengajarkannya ngaji.

Sama sepertiku dan santri-santri lainnya. Semuanya berlangsung cepat, mayatnya sudah diurug. Dan semua orang telah meninggalkan makam. Kecuali istri Haji Uyen yang kini resmi menjanda. Dan anak bungsunya Leni, teman sepermainanku, seusiaku dan diam-diam aku menyukainya. Pun dia menyukaiku.

**

Seperti sebuah selendang yang mengkilap-kilap benda itu terbang dari puncak gunung. Bergelombang. Melesat menuju kaki gunung tempat dimana kami berdiri sekarang.

“Manik! Benda itu akan mengampirimu. Tangkap dan gulung bila telah dalam genggamanmu, mungkin dia akan berontak tapi cobalah untuk menahannya!” Teriak Abah meski jarak kami hanya dua langkah.

“Aku takut, Bah! Bagaimana kalau aku gagal menangkapnya?” Balasku.
“Tidak mungkin! Ia akan takluk pada seorang perjaka. Bersiaplah” balasnya.

“Apa!? Celaka! Sialan benar apa yang dikatan Ambu!” Aku merutuki diriku sendiri.

“Apa?”

Kami bersiap. Berdiri seperti penjaga gawang yang tak mau kebobolan. Sekali waktu aku tatap Abah yang membelakangiku, Ia sama sekali tak menunjukan rasa takut.

Sementara benda itu tiba di hadapan kami dan seketika bertolak, berputar-putar di atas kepala kami seolah menata tubuhnya agar kepala tak menggigit ekor sendiri.

Aku tak yakin kalau itu adalah benda yang disebut sebagai pusaka, itu lebih mirip makhluk, Ia hidup. Ukuran tubuh makhluk itu sebesar babi hutan yang tempo hari beramai-ramai dibunuh warga sebab kedapatan masuk pekarangan rumah seorang warga kampung.

Ya, sebesar itu. Hanya saja Ia putih mengkilap tidak hitam seperti babi. Matanya merah padam, melotot padaku, seolah dua buah bola mata itu hendak lepas dari kepala pemiliknya.

“Manik tangkap!”

SIal! Makhluk itu menghantam tubuhku. Rasanya seperti di sruduk kerbau tapi berkali lipat sakitnya. Aku terbawa srudukan makhluk yang sekarang kepalanya menyuksruk di perutku.

Kedua tanganku berusaha mencekik leher makhluk itu, tapi tak sampai betul-betul mencekik. Cengkraman tanganku tak sepadan dengan besarnya ukuran makhluk ini. Aku baru terhenti ketika makhluk itu bertolak terbang ke arah langit.

Apa mungkin Ia bereaksi dengan ayat kursi yang kubaca dalam hati?
Kalau makhluk itu benar-benar pusaka, atau paling tidak jelmaan dari pusaka. Kecerobohan Abah adalah tidak memberitahuku terlebih dahulu bagaimana cara mengubahnya menjadi pusaka.

Makhluk itu lebih mirip siluman yang pernah kudengar dari cerita-cerita warga yang sering naik gunung untuk mencari kemiri.

Ku kira itu hanya dongeng yang dibuat-buat warga kampung untuk menakut-nakuti anak-anak agar tak main ke gunung. Mengingat medannya memang terjal belum lagi binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking masih bisa dijumpai di sini.

Ternyata makhluk itu betul adanya. Mungkin itu yang sering disebut oleh warga Siluman Ular Putih si penunggu Gunung Barang. Dan sekarang Ia melesat menuju darat ke arah Abah.

Lesatannya begitu kencang. Tapi aku bisa melihat cukup jelas tubuhnya yang membentuk lengkung-lengkung mengerikan. Meliuk-liuk.

Bergelombang, serta sisik-sisiknya yang memancar. Ia terlihat ganas nan indah.

**

Sepulang dari pemakaman Haji Uyen. Ambu memberitahuku sesuatu. Cerita tentang pemuda dari Banten yang bangun dari pertapaanya selama dua purnama, sebab apa yang diinginkannya telah ditunjukan oleh lelembut penguasa hutan tempatnya bertapa dulu. Namun ada syarat dimana tidak bisa Ia penuhi agar bisa mendapatkan pusaka yang diinginkannya. Ia tidak perjaka lagi.

Disebabkan saat Ia menempuh perjalanan menuju tempat pusaka itu berada, Ia ditiduri oleh Siluman Celeng Betina. Tetapi Ia tetap bisa sampai di tempat pusaka itu berada. Di puncak Gunung Barang, di belakang rumah kita, terang Ambu padaku. Namun pada akhirnya Ia gagal mendapatkannya.

Ia kebingungan saat itu, Ia termangu di atas batu besar di bawah kaki gunung. Dan saat itu Ambu melihatnya. Entah bagaimana semuanya berlangsung begitu cepat. Ambu bersedia dinikahinya.

“Pemuda itu adalah Abah” Kata Ambu, suaranya bergetar.

“Betul Manik. Bila tiba saatnya, Ia akan mengandalkanmu untuk mencapai keinginannya, itu pasti. Tidak akan lama lagi.”

“Dulu Abah sempat mempertanyakannya soal itu padaku. Tetapi aku sama sekali tidak mengerti untuk apa. Sekarang aku tahu. Dan kalau itu terlambat.”

“Terlambat kenapa Manik?”

“Aku dan Leni telah berpadu, pacampur getih. Belum lama seminggu sebelum Haji Uyen mati.”

**

“Abah! Lari!”

Siluman Ular Putih itu seperti menahan diri. Menarik kepala dan lehernya ke belakang, macam sikap kuda-kuda seorang pendekar. Abah tak gentar. Kemudian makhluk itu meyerang Abah dalam satu besutan yang tak begitu cepat namun cukup membuat

kepala Abah lepas dari badannya. Kepala Abah berada di mulut makhluk itu sebelum Ia menjawing-jawingnya dan dipelantingkan ke pemiliknya.

**

Meski seumur hidup baru sekali Ambu mendapratku, tapi rasanya betul-betul menyakitkan. Mungkin Ambu marah mendengar aku dan Leni saling menyukai dan memenuhinya dengan bercinta semalam penuh di bawah surau seminggu sebelum Haji Uyen mati.

Ternyata bukan itu alasan kenapa Ambu Marah. Akan tetapi,

“Leni itu adikmu!”

“Bagaimana bisa Ambu?!” Tanyaku. Tersentak.

“Abahmu mandul, tapi keinginannya untuk punya anak begitu besar. Meski Ambu tahu, kelak bayi yang Ambu lahirkan akan Ia pergunakan semata-mata untuk memenuhi keinginannya. Mengambil pusaka.

Tetapi Ambu mencintai Abahmu itu tulus. Ambu kira Ambu yang mandul, ternyata Abahmu. Dia cuma tahu kalau bayi yang lahir adalah hasil maninya dan munajatnya berbulan-bulan pada dedemit di bawah kaki Gunung Barang. Bukan! Melainkan Ambu dengan Haji Uyen!”

*Mahasiswa aktif (tidak sedang cuti) FDK dan kontributor LPM Rhetor

You may also like

Kasih untuk Ibu

Oleh: Indahhik*   Beban yang kau tanggung di