Cerita Ucup dan Desa Tangkit Baru

327

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pada sebuah desa yang rindang, seonggok cahaya muncul secara perlahan dari arah timur, malu-malu tapi pasti menerpa, menimpa segala macam di sekelilingnya sekaligus mengubah warna penglihatan. Mulai dari rumput, pohon mangga, dan hamparan buah nanas yang sebelumnya berembun sekian waktu makin tak berair. Di pagi buta itu, jalanan tanah merah lagi basah, sebab ditimpa hujan sedari malam. Terdengar bunyi suara motor Ucup yang hendak pergi ke sekolah.

Rupanya Ucup tak bisa mengendarai motor dengan cepat, jalanan cukup licin dan becek, percikan air dan tanah merah mengenai sekujur celana, sehingga memaksanya berjalan perlahan.

Aduh kasihan si Ucup, jarak antara rumah dan sekolahnya yang sejauh 12 kilometer ditempuh dengan jalanan yang tak sehat pula.

Bayangkan jika memang hal tersebut dihitung pahala? Sudah berapa coba kavling tanah Ucup di surga. Untung saja Ucup tidak hidup di generasi sebelumnya, yang ceritanya terdengar seperti orang paling menderita dari seluruh kehidupan. Ya, cerita orang-orang tua kita maksudnya, kalau saja itu terjadi tentu makin besar pahala si Ucup.

Belum lagi bila Ucup punya kegiatan yang padat, bergelut dengan waktu sering kali memaksa Ucup pulang malam. Akses masuk desanya kira-kira sepanjang 1,5 kilometer tanpa diterangi lampu jalan, gelap hitam legam, kerap ditemani angin dingin, membuat Ucup befikir bahwa, jalanan zombie lah yang sedang dilaluinya. Bukan hanya melewati jalanan tanpa lampu. Lampu motor Ucup pun kadang bermasalah. Lengkap lah sudah elemen perjuangan.

Meski sering menonton anime Naruto, tak serta-merta membuat Ucup jadi keturunan klan Hyuga. Ia tak punya mata byakugan. Jadi, dalam menghadapi situasi semacam itu, Ucup harus melihat jalan menggunakan lampu sein yang hidup kelap-kelip.

Kisah seperti inilah yang dialami oleh Ucup hampir setiap hari.

Kisah Nyata

Sekadar informasi, Ucup ini bukan nama sebenarnya, tetapi hal ini juga bukan cerita fiksi teman-teman. Ini kisah nyata yang terjadi di desa yang saya tinggali, Desa Tangkit Baru, Provinsi Jambi.

Apa yang dialami Ucup tidak hanya mewakili kisah saya saat masih bersekolah 3 tahun lalu, tetapi juga seluruh pelajar yang memilih menempuh pendidikan di luar desanya.

Beberapa tahun ini, saya tak lagi merasakan penderitaan itu, sebab sejak 2019 saya memilih melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.

Pada tahun 2022 saya pulang, dan berharap kondisi jalan sedikit mengalami perubahan menjadi lebih baik, dan kenyataannya memang berubah, tetapi menjadi lebih parah. Sedari dulu hingga sekarang, masalah infrastruktur jalan ini masih belum menemukan titik terang.

Itu baru cerita Ucup, belum lagi cerita tentang petani yang lalu-lalang mengeluarkan nanas dari kebun dan harus melewati jalanan itu. Saya pernah membawa 100 biji nanas dalam gandengan dan jatuh berkali-kali. Kalau ukuran nanasnya besar, total beban bisa mencapai 150 kg.

Untung jiwa muda masih bergelora, jadi masih sanggup berdiri sendiri. Bayangkan bagi mereka petani sepuh yang sudah berumur 50 tahun ke atas. Jikalau mereka tak bisa bangun sendiri, terus siapa yang hendak menolong? ini di kebun, bukan pasar yang ramai orang.

Lalu, sebenarnya secara kalkulasi ekonomi, Desa Tangkit Baru sangat layak mendapat perhatian pemerintah. Transaksi dagang di desa penghasil nanas yang sangat besar ini bisa mencapai 50 juta rupiah dalam sehari.

Biasanya, petani yang telah selesai memanen di kebun, hanya perlu menumpuk buah nanasnya di depan rumah. Setumpuk biasa, berisi 100 buah dengan harga tak tentu. Tak perlu jual ke pasar, pembeli berbondong-bondong memasuki kampung.

Buah nanas yang dihasilkan dari 4000 hektar luas lahan desa ini pun bukan kualitas kaleng-kaleng. Sekelas Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi saja mengatakan dalam laman resminya bahwa, nanas dari Tangkit Baru ini memiliki rasa yang manis. Selain itu, punya kemampuan adaptasi di lahan gambut yang sangat baik.

Saya pernah melihat dalam grub WA “Kelompok Tani”, yang mana ayah saya sendiri adalah anggotanya, terdapat sebuah pesan yang mengatakan ada 21.000 nanas keluar di hari itu. Dan bila itu laku semua, dijumlahkan dengan harga 2 ribu rupiah saja perbijinya. Maka ada 42 juta rupiah yang saling serah terima di hari itu.

Jalanan yang sedemikian hancur saja memungkinkan terjadi transaksi sedemikian besar. Tentu akan lebih berkembang jika disokong dengan insfaktur yang memadai.

Pemerintah Bisa Apa?

Bagian kecil dari hamparan lautan nanas yang luas sejak 2021 telah disulap menjadi tempat wisata. Kawasan agrowisata ini selalu ramai di akhir pekan, orang-orang berjualan, tersedia penyewaan sepeda, spot foto, dan masih banyak lagi penunjang ekonomi kreatif warga lainnya.

Mula-mula dikunjungi oleh bupati Muaro Jambi, Masnah Busro. Namun, kedatangannya hanya untuk mengajak orang-orang berkunjung ke sana. Apa tak terpikir olehnya bahwa wisata bisa lebih ramai kalau akses jalannya mulus?

Apalagi Mentri Pertanian RI, Dr H Syahrul Yasin Limpo  sudah pernah menginjakkan kaki pada November 2021 lalu. Saya tak ingin menerka-nerka bagaimana percapakannya dengan supir saat mobilnya berjalan di atas tanah tangkit ini, yang jelas bu bupati harusnya malu menampilkan desa potensial di depan Mentri tapi tidak dengan akses masuknya yang sangat tidak nyaman ini.

Pernah mendengar, dulu ada desas-desus permainan politik pada perkara jalan ini. Pada pemilu 2017, ibu Masnah terpilih menjadi bupati. Namun, suaranya kalah telak di desa saya, sehingga ada asumsi bahwa beliau sengaja menganaktirikan wilayah ini dari wilayah-wilayah yang lain. Memang sulit untuk tidak berprasangka demikian, sebab awal masa jabatannya, kecamatan sebelah, Kecamatan Kumpeh jalannya langsung dibuat menjadi mulus. Kabarnya beliau menang di sana.

Sudah tak ingin rasanya kami berharap dengan pemerintah. Selama yang saya tahu, sudah dua kali warga desa mengambil langkah memperbaiki jalan dengan swadaya masyarakat. 20 ribu rupiah untuk kendaraan roda dua dan 50 ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Ini pun tak bisa membuat jalan menjadi bagus. Setidaknya warga bisa menimbun lubang-lubang dengan tanah merah dan batu. Akibatnya, kalau hujan turun, jalan menjadi licin bukan main.

Langkah yang diambil oleh warga ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah, kalau sudah tak lagi berguna dan tak dapat diandalkan masyarakat, untuk apalagi duduk di bangku kekuasaan?

Hal ini juga sekaligus mengingatkan saya pada perkataan seorang teman, “bentuk kritik yang paling baik adalah tindakan”.

Tapi mau sampai kapan mengkritik dengan tindakan semacam ini? Sedari dulu tak ada apa-apa yang terjadi. Hanya menghabiskan uang warga pada sesuatu yang bukan bagian dari kewajiban. Entah pemerintah tak melihat atau memang tidak peduli.

Ini saya belum cerita tentang jalan yang salah sasaran, aduh terlalu banyak, yang jelas saya berharap perkara jalan ini suatu saat dapat terselesaikan.

Jadi bagaimana? Adakah yang punya kisah sama seperti saya dan Ucup?

Muhammad Rizki Yusrial, Pemuda Desa Tangkit Baru, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Menggapai Keindahan Melalui Pernikahan yang Berkeadilan

lpmrhetor.com- “Keputusan apapun itu di dalam hidup harus