Mencari-cari Ruang Menyusui

“Breastfeeding is not a choice, it is a responsibility”

U NGKAPAN di atas memang benar adanya. Bahwa seorang ibu telah ditakdirkan memiliki payudara untuk suplai Air Susu Ibu (ASI) untuk bayinya, dan itu bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Seperti dikatakan oleh World Health Organization (WHO), bahwa menyusui pada dua tahun pertama akan menyelamatkan lebih dari 820 ribu bayi setiap tahunnya. WHO juga telah membuat standar perawatan bayi yang paling baik adalah dengan ASI.

Sayangnya, di era di mana emansipasi terhadap perempuan di ruang publik digalakkan, penyediaan fasilitas yang peka gender, dalam hal ini pengadaan ruang menyusui, masih dikata sangat minim, apalagi di ruang-ruang publik dalam negeri. Dalam riset Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes pada 2017, dari 338 gedung perkantoran, baru 64,8% yang melaporkan memiliki ruang menyusui.

Padahal, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, di mana didalamnya mewajibkan seluruh ruang publik, seperti perkantoran dan kampus, untuk menyediakan ruang menyusui.

PP itu juga mengatur mengenai standar ruang laktasi yang harus dibangun. Seperti mengatur mengenai pengadaan ruang pendingin, pengadaan Air Conditioner (AC), dan desain ruang yang privat.

Namun, pada kenyataannya, alih-alih AC dan ruang pendingin, masih banyak ruang publik yang belum melaksanakan peraturan di atas. Salah satunya UIN Sunan Kalijaga. Banyak sekali dosen-dosen dan mahasiswi yang sudah memiliki anak, yang harus memompa ASI nya di toilet atau di bawah meja, yang tentu saja banyak bakteri yang berkeliaran.

Sepertinya birokrasi kampus yang masih sangat maskulin itu belum peka dan belum paham, bahwa masih banyak karyawannya yang harus berpisah dengan bayinya karena tuntutan pekerjaan. Saat sang ibu terpaksa berpisah dengan bayinya, maka proses menyusui akan terhambat, dan jika terhambat, maka para bayi terpaksa harus meminum susu buatan pabrik, yang tentu saja bukan berasal dari ibunya.

Bisa kita bayangkan, jika terpisahnya ibu dan bayi itu terjadi di awal-awal pertumbuhan sang bayi, maka proses laktogenesis II akan terhambat. Pada keadaan itulah sang ibu mesti memompa ASI nya untuk memacu terjadinya laktogenesis II agar tetap dapat memproduksi ASI nya secara optimal.

Laktogenesis II merupakan bagian dari mekanisme produksi ASI yang dialami oleh para ibu saat setelah bayi lahir. Pada laktogenesis II, payudara ibu akan terasa penuh karena telah berisi ASI mature (matang) setelah beralih dari komposisi kolostrum.

Proses laktogenesis II yang dialami para ibu akan membuat payudara membengkak. Jika ASI tidak segera dipompa, maka payudara akan tegang dan membuat bayi kesulitan saat menyusui.

Jika kampus berani membuat para ibu terpisah dengan bayinya karena tuntutan pekerjaan dan pendidikan, maka seharusnya kampus juga berani memberikan fasilitas agar para karyawan perempuan dan mahasiswi yang menyusui merasa nyaman membesarkan anak-anaknya di sela-sela mereka juga harus berjuang mencari nafkah.

Kita tentu tidak lagi mau melihat kenyataan para perempuan harus meninggalkan karir dan pendidikannya karena harus fokus membesarkan anak-anaknya. Itu sama saja dengan mempertahankan budaya patriarki yang akan membuat para perempuan “dipaksa” berurusan dengan urusan-urusan domestik.

Lagipula, keberadaan ruang laktasi di UIN juga dapat menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk melakukan penelitian dan mengembangkan pengetahuan mengenai ASI dan menyusui di bidang akademis. Selain itu juga dapat menjadi “alat promosi” dan menunjukkan bahwa UIN adalah kampus yang ramah ibu dan peka gender.

Fenomena ini tentu menjadi sebuah paradoks, di mana seharusnya lembaga pendidikan menjadi percontohan bagi ruang publik lainnya, namun ternyata hal-hal yang sebegitu krusialnya saja belum bisa direalisasikan. Apalagi ini berkaitan dengan masa depan anak bangsa.

Bisa dibayangkan, sudah berapa banyak bayi yang harus meminum ASI hasil pompaan di toilet sejak kampus Islam tertua ini berdiri? Dan sudah berapa banyak mahasiswi yang harus berhenti kuliah karena harus membesarkan anak-anaknya?[]

Redaksi

You may also like

Selamat Jadi Mahasiswa, Selamat (Memilih) Dewasa

lpmrhetor.com – Ada dua jenis kelahiran dalam perjalanan