FDK Sediakan Ruang Laktasi Bagi Ibu Menyusui

lpmrhetor.com – Selain melakukan alih fungsi Kantin Amanah (Baca: Rencana Alih Fungsi Kantin Jadi Musala), Fakultas Dakwah dan Komunkasi (FDK) juga berencana melakukan alih fungsi ruang musala di depan ruang laboratorium, untuk dijadikan ruang laktasi (menyusui), khusus bagi para ibu menyusui.

Rencana tersebut dikonfirmasi oleh Abdul Haris Mahmudi, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) sekaligus penanggung jawab, Kamis (28/2).

“Musala akan kita singkirkan dan akan kita jadikan ruang smart room dan ruang laktasi. Awalnya kan mau dibikin musala kecil, tapi kita jadikan laktasi di sini. Kemudian untuk musala nanti kita bikin di ruang kantin, dan kantin akan dipindah di sebelah utara ruang Teatrikal Dakwah,” jelasnya sembari menunjukkan gambar.

Menurut Haris gambaran ruang laktasi tersebut akan didesain minimalis, berukuran 2×2,5 meter. Dengan beralaskan karpet dan separuh kaca di bagian dinding.

“Ukurannya tidak perlu banyak-banyak, nanti kalau ada yang ngintip bagaimana? Segitu aja tapi rapet, separuh kaca kemudian diberikan karpet, sepeti musala, lah,” tuturnya.

Alimatul Qibtiyah selaku Wakil Dekan II bagian Keuangan berharap pembangunan mulai dikerjaan pada bulan Maret, namun Haris belum memberikan kepastian.

“Belum tahu, ini kan sedang kita bikin semua gambarnya. Kita juga tidak hanya mengerjakan ruang laktasi saja. Jadi nanti ada teatrikal kita perbaiki, ruang pelayanan terpadu, semuanya kita tampung dulu, untuk ruang laktasi nanti kita bikin di dekat ruang laboratorium”, tuturnya pada lpmrhetor.com ketika ditemui di ruangannya.

Alim mengatakan bahwa pembangunan tersebut merupakan program fakultas yang sudah lama diagendakan tapi baru akan terealisasikan tahun ini. Hal tersebut karena di tahun-tahun sebelumnya masih memprioritaskan kebutuhan lainnya. Seperti LCD yang saat ini sudah dianggap tidak bermasalah lagi.

“Sudah lama, tapi dulu kan masih ada prioritas LCD, dan yang lain. Sekarang kan sudah tidak ada masalah dengan LCD toh,” ujarnya.

Penggunan ruang laktasi bisa diakses oleh siapa saja termasuk sivitas akademika dari luar Fakultas Dakwah. Dengan harapan Dakwah mampu menjadi contoh bagi fakultas lainnya, dan menjadi kebijakan UIN secara keseluruhan.

“Kalau memang perempuan-perempuan lain di fakultas lain masih belum ada ya welcome lah, asal kerjasama dengan yang akan menggunakannya. Dan seharusnya ini memang sudah menjadi kebijakan UIN, ya. Yang memang harus ditangkap oleh fakultas-fakultas lain,” tutur Alim.

Menilik kampus lain
Pengadaan ruang laktasi di lingkungan kampus sebenarnya sudah dilakukan kampus lain. Sebut saja Institut Pertanian Bogor (IPB). UIN tertinggal satu tahun dari IPB. Dilansir dari republika.com, sejak 2018 IPB telah menyediakan ruang ASI bagi seluruh fakultas. Dan itu merupakan kebijakan Rektor yang memang sudah menjadi program kerja.

IPB menyediakan mesin pendingin untuk menyimpan ASI di tiap-tiap ruang laktasi yang ada di masing-masing fakultas. Jauh berbeda dengan UIN yang hanya menyediakan ruang dan karpet saja.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh kompas.com, ASI dalam suhu ruang 15 derajat Celsius, aman dikonsumsi dalam 24 jam. Sedangkan untuk suhu ruang 19-22 derajat Celsius ASI bertahan selama 10 jam.

Dan untuk suhu ruang 25 derajat Celcius, ASI hanya bertahan selama empat hingga delapan jam. Sedangkan apabila disimpan di dalam mesin pendingin, akan bertahan hingga 3-8 hari dan masih aman untuk dikonsumsi.

Tidak jauh berbeda dengan IPB, dilansir dari website Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Airlangga (Unair), telah menyediakan ruang laktasi sejak tahun 2017 dengan fasilitas yang lebih lengkap seperti, air conditioner (AC), sofa, wastafel, dan freezer ASI.[]

Reporter: Siti Halida Fitriati
Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Aksi Vandalisme, Potret Persoalan UKT yang Belum Usai

lpmrhetor.com – Jumat (15/03). Aksi vandalisme kembali terjadi.