lpmrhetor.com – Studi Pentas Teater ESKA ke-XXIV sukses digelar pada Kamis (22/5/2025) di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan membawakan naskah karya Kirdjomulyo berjudul Senja dan Dua Kelelawar yang disutradarai oleh Wildan Mustofa, pementasan berhasil menghadirkan kritik sosial yang akrab dengan masyarakat secara apik.
Wildan menjelaskan bahwa pemilihan naskah karya Kirdjomulyo ini dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk mengangkat kehidupan masyarakat Yogyakarta secara lebih dekat. “Naskah ini berlatar tahun 2003, meskipun naskah aslinya dari era 1960-an. Harapannya, teman-teman bisa melihat langsung bagaimana kultur dan kondisi masyarakat Jogja,” ujar Wildan.
Ia juga menyoroti pesan utama dari pementasan ini yaitu tentang maraknya tuduhan tak berdasar yang dapat berdampak besar pada kehidupan seseorang.
Senja dan Dua Kelelawar menceritakan kisah kasih tak sampainya perempuan bernama Ismiyati kepada teman kecilnya Suwarto, yang sudah memperistri Siwi. Namun, kematian Siwi yang tiba-tiba membuat semua orang menuduh Ismiyati sebagai si pembunuh karena faktor kecemburuan.
Naskah ini menggambarkan bagaimana dampak tuduhan tak berdasar bisa menghancurkan hidup seseorang. Serta bagaimana manusia tetap berusaha bertahan, mencintai, dan memaafkan di tengah kondisi yang tidak adil.
Farah Ismarosa, pemeran tokoh Siwi, istri dari tokoh Suwarto, mengungkapkan bahwa proses latihan yang cukup panjang membawa banyak pelajaran. “Capek, senang, campur aduk. Kita semua belajar bareng, ibarat tangki kosong yang sama-sama diisi,” ucapnya.
Farah juga menambahkan bahwa peran Siwi sangat menantang karena jauh dari kepribadiannya, “Siwi adalah mantan sales rokok dari gang Dolly Surabaya yang ingin bertobat dan memulai hidup baru di Jogja. Butuh waktu lama untuk mendalami karakternya.”
Dari sisi penonton, Novi, mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), memberikan pujian terhadap pementasan ini. “Keren banget, ok banget, pembawaannya mantap,” ujarnya singkat.
Dengan digelarnya Studi Pentas ke-XXIV, Wildan berharap Teater Eska bisa terus tampil dan berkembang di masa depan. Hal yang sama juga diharapkan oleh Farah yang ingin Teater Eska terus tumbuh sebagai ruang belajar seni peran yang inklusif dan progresif.[]
Reporter dan Penulis : Ajril Lu’lu’a Zahroh dan Alifia Maharani
Editor : Ruhana Maysarotul Muwafaqoh
