Satu Puisi, Berbeda Versi

Oleh : Fahri Hilmi

Judul                                     : Aku Ini Binatang Jalang

Penulis                                 : Chairil Anwar

Penyunting                         : Pamusuk Eneste

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Konten Isi                            : Kumpulan Puisi Chairil Anwar 1942-1949

Ketebalan Buku                  : 114 Halaman

Panjang x Lebar                  : 21 x 14 cm

Tahun Terbit                       : Maret 1986

 

Muda dan bergelora, panas dan menusuk, individualistis dan eksistensialis. Istilah tersebut rasanya tepat menjadi padanan yang tepat bila digelarkan pada seorang pemuda revolusioner yang tidak pernah tua namun masih hidup hingga hari ini bahkan untuk seribu tahun lagi melalui beberapa karya puisinya yang ia sendiri saja tidak pernah tahu bahwa karyanya akan mendunia. Ialah Chairil Anwar, penyair tersohor yang oleh H. B. Jassin dinobatkan sebagai penyair angkatan ’45.

Satu sorotan utama pada karya-karya Chairil yang hingga kini masih saja menarik untuk dikaji adalah puisinya yang memiliki banyak versi. Tidak terlepas pula puisinya yang begitu fenomenal, Aku, yang lain syairnya pada Deru Campur Debu (1949) lain pula pada Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (1949). Tentunya, selain daripada Aku, terdapat pula beberapa karya Chairil yang memiliki banyak versi. Bahkan Sajak Putih, karya lain Chairil, memiliki perbedaan jumlah bait antara Sajak Putih dalam Tiga Menguak Takdir (1950) yang berjumlah tiga bait dengan Sajak Putih pada sepucuk kartu pos yang ditulis Chairil sendiri yang berjumlah empat bait.

Banyaknya Antologi dan Pengumpulan pada Satu Koleksi

Sulit sekali bagi kita untuk dapat menentukan mana puisi yang lebih orisinil dan mana yang tidak. Persoalannya adalah, karya-karya Chairil Anwar terkumpul pada banyak antologi yang berbeda-beda. Kita mengenal Deru Campur Debu (1949) dan Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (1949) yang sama-sama mencantumkan puisi berjudul Aku namun berbeda judul dan syair seperti disebut di atas tadi. Ada pula Tiga Menguak Takdir (1950), Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 (1983), Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, Derai-Derai Cemara (1998), Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), dan tidak luput pula Kena Gempur (1951), yang kesemuanya itu mengandung beberapa puisi Chairil yang memiliki satu esensi  namun lain syair, lain bait, bahkan lain judul antara satu antologi dengan antologi lainnya.

Dari sekian banyak versi-versi tersebut, Pamusuk Eneste, yang juga merupakan seorang sastrawan terkenal negeri ini, memiliki inisiatif untuk mengumpulkan semua versi dari karya-karya Chairil Anwar pada satu buah buku saja. Bukan hanya puisi, surat-surat pendek Chairil kepada Jassin yang selama ini dikutip di banyak tempat dan sepotong-sepotong juga ikut termuat dengan lengkap di dalam koleksi ini. Tak luput pula, sang penyunting menyertakan bibliografi mengenai Chairil dan karyanya. Bahkan, beberapa karya Chairil yang tidak memiliki judul pun diberikan judul, “guna kepentingan praktis (misalnya untuk memudahkan pengutipan),” kata Pamusuk Eneste pada halaman Pengantar. Dua buah sajak saduran juga ikut dimuat dalam buku ini.

Pada koleksi ini, pembaca akan mengetahui dengan lengkap semua puisi-puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar sejak tahun 1942 hingga 1949. Puisi-puisi Chairil yang berbeda versi pun dimuat kedua-duanya dan diberikan asal antologi dari mana puisi tersebut berasal. Dengan begitu, pembaca dapat membandingkan satu versi dengan versi lainnya dengan mudah untuk kemudian melakukan pengkajian lebih lanjut.

Untuk dapat mengetahui versi mana yang lebih orisinil, pada halaman pengantar, Pamusuk Eneste juga menjelaskan cara bagaimana agar kita bisa memberikan anggapan versi puisi mana yang lebih orisinil dan bagaimana cara untuk mengetahui versi mana yang lebih berhak dianggap sebagai karya Chairil Anwar.

 

 

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan