Puisi-puisi Nizar Wildan

405
ilustrasi/nizar

MENJADI WISANGGENI

Masih terjaga nona?

Ingin secangkir teh? Atau sepotong hati?

Jika nona berkenan

Akan saya buatkan

Teh yang gulanya dari luka saya sendiri

Cukup getir untuk dinikmati

Atau nona agaknya menginginkan sepotong hati?

Yang cukup pantas untuk hidangan siap saji

Dengan garnis janji dan sebilah belati

Bukankah sakitnya layak

Untuk mengabadi?

 

Atau nona menginginkan satu dan lain hal?

Jika demikian

Nona bisa panggil nama saya

Jika dibutuhkan

Nama saya masih sama

Dan bukan milik siapa-siapa

Nona bebas memanggilnya kapan saja

Dengan bismillah tiga kali

Setelah pukul nol nol dini hari

Dilengkapi kemenyan arab

Dan bunga melati

Serta kalimat

“Ya waja’ul qolbi minal badani”

Sebanyak seribu kali

In syaallah nona

Saya datang membawa peti mati

 

Oh tidak nona..

Tentu saya tidak berniat untuk menyakiti

Namun

Sudah saatnya batari durga untuk mati

 

Ya, nona..

Saya wisanggeni

Putra arjuna dan dewi dresanala

Cucu dari Batara Brama

 

– Alam Malakut, 4 Jumadilawal 1955 – Alip Upah, Julungpujut

 

MENULIS PUISI

Dulu menulis puisi harus diawali dengan kata “oh” Seperti

“Oh ibu.. ”

“Oh guruku.. ”

Kemudian kini

Puisi harus diciptakan dari hujan dan kopi

Kemudian nanti

Puisi akan menulis kita

Menjadi kalimat

“Sungguh malang nasib penulisku,

biar ku gantikan perannya menciptakan dirinya sendiri”

 

– Alam Malakut, 1 Jumadilakir 1955 – Alip Rabu Legi, Tambir

 

MENYEMBAH MALAM

Wahai gelap malam

Lindungi kami dari

Hari esok yang mungkin kejam

Sembunyikan kami dari terang

yang menggaris bawahi segala kelemahan

Kami tetap ingin terlihat kuat meski hujan, badai, juga halilintar

Kami tetap ingin terlihat semangat meski

Tidak mempunyai ayang

 

Lantas dengan demikian

Apa boleh kami menyembahmu dengan puisi dan pena yang kami genggam?

 

-Alam Malakut, 26 Jumadilakir 1955 – Alip Minggu Legi, Manahil

 

Nizar Wildan Aulia, Mahasiswa Semester 2 Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

Katong Mbedhol Parwata (Katong Mencabut Gunung)

Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,