Pedih

Sumber: pixabay.com

1

Ini pagi ketiga semenjak kematian istriku. Nampaknya kesedihan belum pula untuk sudi mampir padaku. Aku cukup sungkan pada seluruh sanak saudara, kolega, tetangga. Kesedihanku tidak terlihat sama sekali sejak kabar kematian istriku sampai ke telinga tetangga kemudian sampai ke telingaku.

Anak-anakku, sejak hari pertama ibunya meninggal, menurutku dapat membuat kolam kecil dengan air mata mereka. Bukan karena aku tidak sedih. Tapi aku sendiri lupa bagaana cara untuk bersedih. Apakah kesedihan merupakan salah satu etika dalam menghadapi kematian?

“Pak Doni tidak menangis sama sekali…”, sempat aku dengar selentingan-selentingan semacam itu dari mulut-mulut tetangga. Bukan cuma itu. Ada lagi yang cukup menyakitkan, seperti, “Apa Pak Doni punya simpanan perempuan lain?”. Belum cukup, ada juga yang lebih buruk “Apa Pak Doni merencanakan kematian istrinya?”, seperti itu.

Aku tahu, dalam sebuah upacara berduka, orang-orang akan memakai pakaian yang gelap, lalu dengan tangisan-tangisan, lalu dengan bunga-bunga, dan ucapan belasungkawa, lalu hantaran makanan disertai kesedihan di dalamnya. Semua orang menangisi istriku, ia memang orang yang baik. Tapi upacara kematian istriku tidak lengkap tanpa tangisanku. Tangisan seorang suami.

Ratna istriku, aku tahu pernikahan kita bukan pernikahan yang baik, tapi pernikahan kita adalah pernikahan yang hebat, bukan? Oh maaf, maksudku hebat menurut orangtua kita. Aku pikir begitu. Sebagai anak dari seorang tokoh masyarakat, pernikahan kita tentu menjadi perhatian banyak orang.

Jujur aku memang tidak pernah mencintaimu, Ratna. Tapi kau adalah teman yang baik. Kita bersepakat untuk membuat cinta demi orangtua kita. Cinta kita bukan seperti orang-orang pada umumnya. Cinta yang ada padaku hanya suatu bentuk ketaatan kepada orangtua. Dan aku masih menyangsikan keberadaan hal itu. Apa betul aku memang mencintaimu? Bagaimana denganmu?

Ratna, orang-orang bilang arwah seseorang tidak akan pergi dari rumah sebelum 7 hari kematiannya. Aku sendiri tidak tahu seperti apakah yang bakal kau sebut sebagai rumah. Kita sibuk dengan urusan masing-masing. Pergi ke sana ke mari. Lalu tempat apa yang akan kau sebut rumah? Jika bangunan yang selama ini kita tinggali kau sebut dengan rumah. Aku yakin kau masih di sini.

Jadi maafkan aku yang memang tidak bersedih atas kematianmu. Bahkan sebagai teman, aku tetap tidak bisa bersedih, bahkan menangis. Dan jika ada yang perlu aku tangisi, itu adalah ketidakmampuanku untuk bersedih atas kematianmu.

 

 

2

Ketika prosesi pemakaman istriku selesai,  aku masih ingat. Aku bertengkar hebat dengan ayahku. Ya ayahku, laki-laki yang dianggap bertangan dingin dalam mendidik anak-anaknya. Termasuk diriku.

Waktu pemakaman istriku sedang berlangsung, aku sedang berbicara dengan temanku untuk urusan bisnis. Rimba temanku. Teman lamaku. Mungkin itulah satu-satunya teman. Dan bahkan yang terakhir, yang membuatku benar-benar merasa memiliki kehidupan. Keberanian, dan petualangan-petualangan hebat semasa kecil. Kami berpisah sewaktu kelas 2 SMP, setelah ayahku dengan terpaksa memindahkanku karena kami terlibat perkelahian dengan anak-anak yang lain.

Tapi beruntung, ayahku dan ayahnya adalah sahabat baik. Jadi kami masih bisa berjumpa saat ayah kami mengadakan pertemuan. Tapi setelah ayahnya meninggal, kami tidak pernah berjumpa lagi. Oh, terakhir ketika pernikahanku dengan Ratna, karena ia diundang. Kemudian kami bertemu lagi di acara kematian istriku. Sebuah reuni yang mengerikan. Karena saking senangnya aku bertemu lagi dengannya, kami berbincang tentang apa yang kami kerjakan. Dan aku sedikit tertawa saat melihatnya. Itulah yang membuat aku dan ayahku bertengkar. Aku dianggap tidak menghormati waktu berduka.

Ayahku memang orang yang keras. Bahkan dikenal sangat ambisius. Kegagalan serupa alatkelamin yang harus ditutupi di depan umum, kecuali di depan istrinya sendiri. Namun ia lupa, semua orang punya alat kelaminnya masing-masing. Dan pasti punya.

Ayahku memang dikenal sebagai orang yang selalu berhasil. Konglomerat besar dengan bisnis yang menggurita. Namun, dengan seperti itu, bukan berarti ia tak pernah gagal. Berkali-kali aku tahu dia gagal, tapi ia tidak pernah mau mengakuinya. Aku adalah salah satu produknya yang gagal. Aku tidak seperti saudaraku yang lain. Meskipun pekerjaanku hebat, dan baik. Namun ayahku tetap menganggapku gagal. Karena definisi keberhasilan adalah apa yang melekat pada dirinya.

Aku selalu takut dengan ayah. Apapun yang ia perintahkan, tak pernah aku tolak sekalipun. Aku selalu mencontoh sosok ayah yang tegar, pemberani, dan tidak pernah mengeluh sama sekali. Aku ingat ketika ibu memanjakanku, waktu kecil. Ayah selalu memarahiku. Sifat manja seperti itu akan melemahkanku, katanya. Bahkan ketika aku menangis saat terjatuh dari sepeda, ayah malah mengurungku di kamar mandi, sampai aku selesai menangis.

Tidak ada waktu bagi laki-laki untuk menangis. Begitu kata ayahku. Rasanya hidupku semacam lawakan saja. Ayahku, “pak tua yang terhormat” itulah yang mengajariku untuk jangan pernah menangis. Sekarang ia membenciku karena aku tidak menangis di pemakaman istriku.

Sampai sekarang, ayah masih saja terlihat membenciku. Atau lebih tepatnya, tak ada kebanggaannya sedikit pun padaku. Begitu. Selalu begitu. Padahal tak kurang sedikit pun aku menuruti kata-katanya. Bahkan pada umurku yang menginjak 34 tahun,  bayang-bayang ayah yang selalu ada di setiap apa yang akan aku kerjakan. Lalu apa lagi maunya? Ayah benar-benar membenciku sekarang, itu semua gara-gara desas-desus bahwa aku tidak bersedih di pemakaman istriku.

 

3

Aku tidak pernah mencintai istriku. Tapi aku tidak membencinya juga. Toh, kami juga menghasilkan 2 orang anak. Cinta memang tidak pernah bisa dengan sengaja diciptakan. Tapi nafsu? Tentu saja bisa. Maka terciptalah kedua anakku, Aryo dan Laras. Rasanya tidak pantas menyebut mereka dengan istilah buah hati. Agak lucu memang. Aku tidak dekat dengan mereka.

Aku pikir aku cenderung menghindari mereka. Mereka nampaknya juga begitu. Apa karena aku dan istriku bercinta tanpa menggunakan cinta, sehingga anak-anakku juga tak memiliki cinta padaku sedikit pun. Tapi tidak apa-apa. Lebih baik begitu.

Setelah kematian istriku, aku tidak tahu mau berbuat apa dengan anak-anakku. Mungkin ibuku mau mengurus mereka, atau ibunya Ratna. Nenek-nenek selalu senang dengan cucu. Tapi apa yang akan terjadi lagi nanti? Orang-orang akan lebih menyoroti keganjilanku sebagai ayah. Ayahku apalagi, ia akan marah besar. Aku adalah kegagalan yang tidak pernah bisa ia tutupi.

Lima hari setelah kematian istriku. Aku menghabiskan waktu untuk berlibur sendirian. Tanpa ada orang yang tahu, orang-orang rumah semua tidur. Termasuk anak-anakku. Aku hanya bilang, aku butuh waktu sendiri. Mereka tidak menjawab. Aku anggap itu sebuah izin. Mungkin mereka cukup memaklumi, mungkin mereka pikir aku akan berduka. Tapi tidak. Aku hanya menghindari orang-orang, agar mereka tidak tahu aku tidak bisa bersedih.

 

4

Kenapa orang-orang tidak menganggapku sebagai orang yang tabah dan sabar saja?

 

5

Aku pernah mendengar dari seorang laki-laki tua yang ikut hadir dalam pernikahanku waktu itu. Ia menceramahiku tentang berbagai macam hal. Maaf aku lupa bilang. Ia teman ayahku. Istrinya tiga. Dan bisa bertambah kalau dia mau. Aku bisa saja menulis ceramahnya, lalu menempelkannya di sebuah gapura, atau papan pengumuman. Ceramahnya tidak banyak. Kira-kira 10 poin. Begini kira-kira:

  1. Suami harus bisa cari duit.
  2. Suami harus bisa jaga istri.
  3. Suami harus berwibawa.
  4. Suami harus bisa memuaskan (semua) istrinya di ranjang.
  5. Suami harus bisa mendidik anak-anaknya.
  6. Suami harus berani.
  7. Suami harus kuat menghadapi cobaan.
  8. Suami jangan mau kalah dengan istrinya.
  9. Suami adalah tonggak keluarga.
  10. Suami harus bisa menjaga keselamatan keluarganya.

Aku baru saja melanggar poin ke sepuluh.

“Tuan mau tambah minumnya?” Tanya pelayan itu.

“Boleh, kepalaku butuh Wishkey!”

 

6

Siapa yang akan membereskan semua kekacauan ini?

 

7

Ini hari ke 8 selepas kematian istriku. Arwahnya pasti sudah pergi dari rumah. Tapi ia tidak sendirian.

Ratna tidak sendirian!

 

8

Semua orang sedih ketika salah satu anggota keluarganya meninggal. Apalagi semuanya.

 

9

Di sebuah club malam, aku tahu ada polisi yang menyamar. Biasanya jaketnya hitam. Tapi semuanya berjaket hitam malam ini. Bahkan aku memakai jaket hitam. Ini sudah 3 hari sejak aku pamit untuk menyendiri. Apa orang-orang masih menganggapku tidak bersedih sekarang? Belum. Belum. Coba seminggu lagi baru kembali. Telepon genggam sengaja tidak aku nyalakan. Itu juga supaya orang-orang masih menganggapku bersedih.

Semua orang yang berjaket hitam tiba-tiba semuanya menatapku. Apa mereka polisi? Apa aku akan ditangkap karena tidak bersedih saat kematian istriku? Bukan. Bukan. Lebih tepatnya kematian istri dan anak-anakku. Kapan anakku mati? Aku tidak akan memberi tahu.

 

10

Selama hidupku aku rasanya tidak pernah merasakan senang ataupun susah. Jika ada yang aku pikirkan, itu adalah omongan-omongan ayahku. Sekarang ada perasaan yang berbeda. Aku tidak senang, tidak juga bersedih. Jantungku rasanya mau copot. Malam ini dingin, tapi keringatku mengucur deras. Mungkin aku cuma demam. Tidak. Aku takut. Aku belum bisa menangis.

 

11

Aku kembali ke kamar hotel. Jangan sampai polisi-polisi di klub malam tahu bahwa aku sedang tidak berduka. Aku menyalakan rokok dan berpikir bagaimana cara agar orang-orang termasuk ayah, percaya bahwa aku sedang berduka atas kematian istriku. Aku melihat jendela kamar hotel. Bulan begitu jernih. Orang-orang dibawah tidak bisa melihatku. Aku pikir aman.

 

12

Ini baru tiga hari, anak-anakku belum menyusul Ratna. Ratna meninggalkan rumah sendirian di hari ketujuh kematiannya.

 

13

Semoga orang-orang percaya bahwa aku berduka.

DOOOORRRRR!

 

 

Kush Albi adalah Jurnalis LPM Rhetor dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Puisi-puisi Naspadina: Tak Lagi Sama

Di Suatu Malam Tuhan Suatu malam, di depan