Pahlawan Itu Bernama Cipto Mangunkusumo

https://www.biografiku.com/biografi-dr-cipto-mangunkusumo/

Beberapa bulan terakhir wajah tenaga medis seakan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Terlebih sejak Menteri Terawan mengeluarkan statement soal perlakuan rumah sakit yang sering kali memalsukan data hasil pemeriksaan pasien sehingga menjadi berstatus positif Covid-19. Demi untuk mendapat dana bantuan, sehingga membuat kepercayaan masyarakat terhadap tenaga medis makin menurun.

Padahal, awal kemunculan pandemi Covid-19 dukungan kepada tenaga medis sangatlah masif, hingga diibaratkan mereka bak pahlawan yang sedang berperang di tengah medan perang, [Memang sudah seharusnya begitu]. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu tokoh aktivis nasional, yakni sosok Dr. Cipto Mangunkusumo. Orang yang namanya dijadikan sebagai nama salah satu rumah sakit terbesar di Indonesia. Sosoknya mengingatkan saya pada artikel yang saya baca tentang wabah pes tempo dulu di Hindia Belanda. Beliau berperan aktif dalam membawa kesembuhan wabah yang juga dikenal sebagai Black Death di Eropa.

Kisahnya membawa saya berfikir, bagaimana bila sosok Cipto Mangunkusumo ini juga turun ke medan perang dalam upaya melawan virus corona. Menurut saya, pasti akan menjadi seorang sosok yang didewakan, hehehehe…

Namun sebelum ini juga, pengetahuan yang ada seputar Dr. Cipto Mangunkusumo hanya berkutat pada dasar-dasarnya saja, yang mana saya dapatkan dari buku-buku sejarah selama berada di sekolah formal, dan ternyata sebagian besar, buku rujukan tersebut hanya menerangkan bahwa Dr. Cipto merupakan seorang aktivis kemerdekaan yang memperjuangkan penghilangan adanya rasisme dan sikap-sikap deskriminatif, hal itu dilakukan bersama beberapa tokoh aktivis lainnya. Selain itu, yang bisa sedikit saya tambahkan soal beliau yakni hanya sebatas sosok yang tergabung dalam “Tiga Serangkai”.

Dengan upaya yang terbatas, saya hanya bisa menyebutkan sedikit biografi beliau. Beberapa laman web yang saya kunjungi seperti Wikipedia dan Tirto, disana tidak menyebutkan secara spesifik dimana Cipto Mangunkusumo ini lahir. Ada yang menyebutkan di Jepara, ada pula yang di Ambarawa, tapi yang pasti beliau lahir di Jawa Tengah.

Samarnya kota kelahiran beliau, juga menular pada samarnya informasi soal tahun lahirnya. Tahun lahir yang berhasil dikutip di Wikipedia adalah sekitar 1886.  Ia menjadi salah satu tokoh yang sepak terjangnya sebagai dokter tenggelam oleh perannya dalam dunia perpolitikan colonial kala itu. Selain menjadi aktivis dan dokter, ia juga mendalami dunia kejurnalistikan. Karena kegemarannya menulis, menjadikannya sebagai penulis yang ditakuti pemerintah Hindia-Belanda pada masa itu.

Membaca dari berbagai sumber, Cipto berasal dari keturunan berada, lebih tepatnya merupakan keturunan dari priyayi. Tidak mengherankan bila dia memiliki akses pendidikan pada kala itu. Ia menempuh Pendidikan Stovia, sekolah kedokteran milik Hindia Belanda yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Meski memiliki jalur keturunan bagus atau bisa dibilang punya privilege, Cipto berbeda dengan kawanan kompeninya. Ia tidak akan nongkrong dan party di Babarsari dengan kawanan kompeninya itu. Ketimbang memilih bergaul dengan mereka, ia memilih menghadiri acara ceramah-ceramah dan membaca buku.

Namun bukan hal itu yang harus digaris bawahi pada tulisan ini. Bukan juga sosoknya yang tergabung di tiga serangkai. Melainkan Dr. Cipto Mangunkusumo sebagai sosok dokter yang berjuang melawan rasisme. Di saat kala itu dokter-dokter Hindia Belanda diatur oleh semacam sistem kasta, ia lebih memilih mengabdikan profesinya sebagai dokter untuk rakyat kasta bawah. Sehingga, sebab itulah Cipto dikenal sebagai “Dokter Rakyat”, dokter yang benar-benar mendedikasikan semua pengetahuan dan keterampilannya untuk mengobati penduduk yang kurang mampu yang berasal dari kelas bawah.

Lalu, sejak dia kembali ke Solo dan membuka praktik di sana, dia benar-benar mengabdikan dirinya pada rakyat. Dengan menggunakan sistem semacam subsidi silang, yang mana pada rakyat yang kurang mampu dia tidak menarik sepeserpun biaya, sedangkan pada orang-orang kompeni dan indo yang berduit dia tarik biaya yang besar.

Cerita beliau sebagai dokter, tidak berhenti di situ saja. Sekitar abad ke-14, Eropa mengalami sebuah krisis, bisa dibilang Eropa kehilangan hampir separuh penduduknya. Sekitar 1/3 hingga 2/3 warga eropa meninggal akibat wabah ini. Wabah yang ditimbulkan oleh kutu, lebih tepatnya kutu tikus.

Wabah ini pun dikenal sebagai Black Death. Saking ganasnya black death ini mampu bertahan hingga berabad-abad dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia saat itu.

Saya mengambil kutipan di Tirto.id oleh Syarif Luwis, dalam skripsinya menyebutkan, kemunculan wabah pes di Jawa, khususnya di Malang, ini di awali oleh import beras yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda dari Burma. Import ini merupakan sebuah upaya pemerintah Hindia Belanda mengatasi paceklik yang muncul di Jawa sekitar tahun 1911.

Entah bagaimana pemerintah kala itu tidak menaruh curiga pada beras itu. Padahal waktu itu wabah pes juga sedang naik daun di Burma. Alhasil kutu tikus yang berasal dari beras import tersebut turut menginfeksi tikus-tikus lokal, hingga menyebar ke penduduk. Akhirnya, saat itu kebijakan yang diambil oleh pemerintah Hindia Belanda adalah mengisolasi Malang atau memberlakukan lockdown.

Upaya pemerintah Hindia-Belanda dalam membasmi wabah ini tidak berhenti di situ saja. Mereka juga mengirim dokter-dokter untuk mengatasi kemunculan wabah pes. Namun, naasnya sebagian besar dokter yang dikirim enggan mengobati rakyat biasa dan lebih memilih mengobati orang-orang belanda dan orang pribumi yang berkedudukan.

Dikarenakan, dalam benak mereka tidak ada gunanya mengobati penduduk yang tidak memiliki peran strategis dan hanya menjadi bidak figuran dalam dunia penjajahan kala itu. Toh.. kalaupun ada dari dokter-dokter tersebut yang mengobati orang biasa, pasti digunakan hanya sebatas sampel dari wabah pes itu.

Mendengar hal ini, Dr. Cipto geram dan marah, beliau yang dikenal sebagai dokter rakyat merasa ada sikap diskriminatif dari beberapa dokter tersebut. Hingga akhirnya, ia mengusulkan dirinya dan beberapa dokter lain menjadi sukarelawan dalam upaya pemberantasan wabah pes di Malang. Ada sekitar 14 dokter yang berangkat ke Malang bersama Dr. Cipto dan salah satunya adalah Dr. Soetomo, yang kemudian namanya juga menjadi nama rumah sakit di Surabaya.

Pada saat itu pemerintah Hindia-Belanda absen dalam penyediaan APD. Bukan sebuah rahasia bila penanganan sebuah wabah harus memakai beberapa APD agar tenaga medis bisa leluasa menangani pasien tanpa khawatir tertular. Namun, Dr. Cipto dan beberapa dokter sukarelawan lainnya dengan lantang berani langsung terjun tanpa mengenakan APD satupun. Dokter Cipto masuk dari rumah ke rumah untuk mengobari orang-orang miskin yang diabaikan oleh dokter kiriman pemerintah. Beliau benar-benar fokus mendedikasikan tenaganya hanya untuk mereka. Hingga akhirnya beliau berhasil mengatasi wabah.

Dari sinilah benar-benar terlihat sikap akan nasionalisme dan amarah Dr. Cipto, melihat tindakan pemerintah Hindia-Belanda yang abai terhadap nyawa manusia. Ditambah, kala itu ada kebijakan soal sterilisasi, yakni apabila ada orang biasa yang rumahnya bambu terkena pes maka akan dibakar secara langsung dan si orangnya dipindahkan ke penampungan tanpa memberi ganti rugi.

Sebenarnya, Dr. Cipto memiliki pilihan untuk hidup enak. Sebab ia berasal dari keluarga yang memilki privilege, seperti bisa menempuh pendidikan, memiliki pilihan untuk terus melanjutkan karirnya sebagai dokter pemerintah atau dia bisa mengambil beasiswa ke luar negeri, tetapi nyatanya beliau memilih untuk menentang pemerintah belanda. Indonesia beruntung punya sosok seperti Dr. Cipto Mangunkusumo.

Darmawan Julianto, Jurnalis LPM Rhetor, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,