Khayalan Pojok Kampus (Bagian 2)

Ilustrasi: deviantart.com

Oleh: Doel*

S EJAK tadi pagi aku menyapanya di tempat ia biasa menunggu jam kelas masuk, yaitu di pojok kampus. Dadaku berdegup kencang, untuk sebentar aku berhenti sejenak, kadang aku grogi yang aku pun tak paham apa penyebabnya. Tapi, daripada aku salah tingkah di depannya ku lanjut dengan menanyakan kabar seperti biasa, dan rasanya tidak mungkin aku memasang muka masam hanya untuk menutupi kekagumanku padanya. Jadi, kulempar senyum padanya. Tapi, seperti biasanya pula aku sudah paham kalau dia selalu bersikap dingin dengan tidak membalas senyumku. Memang, perempuan ditakdirkan hanya untuk menerima, tidak boleh lebih dari itu. Hanya sekadar mengungkapkan perasaanpun tak boleh.

Bahkan sudah dari era Yunani kuno, Aristoteles misalnya, dalam metodenya mengklasifikasikan manusia, perempuan dianggap belum masuk dalam kategori manusia. Menurutnya, perempuan tidak bisa berpikir sebagaimana laki-laki, perempuan dianggap hanya lebih mengedepankan emosional ketimbang akal. Meskipun hari ini banyak bermunculan gerakan gender yang menyuarakan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, tapi, toh nyatanya perempuan masih terikat akan aturan dan norma-norma, yang menurutku itu lebih diikuti tanpa memilahnya mana yang harus dirubah dan diikuti sepenuhnya.

Raihan menggenggam jabat tangganku tidak seperti biasanya, keadaan seperti itu membuatku semakin menolak rasionalisasi aturan-aturan normatif dalam kepalaku tentang perempuan. Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku menyukaimu. Hah? Aku hanya mampu tersenyum saja, dan dia malah melepaskan tangganku.

Baiklah, aku beralih tempat, duduk bersama teman-temanku yang kuanggap sangat membosankan. Bagaimana tidak, mau tidak mau kalau sudah masuk dalam lingkaran mereka, aku mesti meladeni bahasan seputar gosip terbaru, lihat gincu merah yang membual dari mulut mereka dengan obrolan ngaler-ngidul. Bagaimana mau maju makhluk bernama perempuan sedang yang diborolkannya soal tas atau sepatu terbaru. Kadang aku hanya bisa tertawa mendengarnya.

Sebenarnya aku lebih ingin memerhatikan Raihan yang sedang duduk di pojok sana, ketimbang mendengar obrolan teman-temanku. Raihan, melihatmu aku seperti menemukan kebebasan. Sering kudengar dari teman-temanku kau jarang kuliah karena setiap malam kau habiskan untuk berkumpul, bahkan diskusi, di warung kopi. Menyenangkan sekali sepertinya.

Sudahlah, mana mungkin dia menyukaiku. Lagipula aku perempuan yang kurang menarik. Ya, aku sadar akan itu, aku tidak terbiasa mengenakan pakaian mencolok apalagi gincu merah.

Telapak tangannya masih terasa saja.

“Kutunggu jam istirahat,

di belakang kantin.”

Apa mungkin? Pantas saja tak seperti biasanya ia berjabat tangan selama itu.

Apakah dia juga menyukaiku? Tapi… Tapi… Apa iya selama ini dia tahu kalau aku sering memerhatikannya diam-diam? Hah… Sadar, Sinta, kamu itu kurang menarik, barangkali ia mengajakmu ke kantin untuk hal lain.

“Sinta, ayo masuk,”

Sialan, ternyata dosen untuk kelas kali ini sudah datang. Berarti kebosananku akan segera dimulai di dalam ruang 5×5. Saat aku duduk di ruang kelas, ternyata Raihan duduk di belakangku. Oh, Tuhan, apakah dia memerhatikanku?

 

*Mahasiswa PMI.

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali