Crosshijaber, Varian Baru Crossdresing di Indonesia

Sumber: Doktersehat.com
Perbedaan adalah sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Baru-baru ini dunia maya dihebohkan dengan gaya berbusana kaum laki-laki yang tidak seperti laki-laki pada umumnya.  Mereka lebih menyukai berpakaian layaknya perempuan, berbalut gamis lengkap dengan hijabnya, dan terkadang ada yang mengenakan cadar. Mereka yang tergabung dalam komunitas ini, menamai dirinya crosshijaber.

Dalam Magdalene dikatakan bahwa komunitas semacam ini dapat kita temui di berbagai akun media sosial.  Di facebook terdapat halaman “Crosshijaber & Crossdresser” yang telah di-like oleh lebih dari 1.300 orang. Ia juga memilki 1.109 pengikut pada akun @crosshijaber di instagram. Selain itu kita juga dapat menemui komunitas ini di grup-grup chat pribadi seperti telegram.

Bahkan setelah kemunculan crosshijaber, muncul istilah baru yakni pregnant crossdresser. Masih dalam kecendrungan yang sama, namun laki-laki ini suka membuat buncit perutnya layaknya seorang perempuan yang sedang mengandung.

Sebenarnya fenomena laki-laki berbusana seperti perempuan ini sudah ada sejak dulu, dalam seni pertujukkan tari lengger lanang misalnya, sebuah tarian yang berasal dari Banyumas. Dalam tarian ini, semua penarinya adalah laki-laki namun mereka berbusana dan berdandan ala perempuan, bahkan gerakan tariannya pun gemulai layaknya seorang perempuan betulan.

Busana adalah suatu atribut yang telah melekat pada identitas gender tertentu. Salah satu contohnya yakni peci, ciri dari identitas laki-laki. Sementara rok dan jilbab melekat pada  identitas perempuan. Dan jika pakaian-pakaian yang telah menjadi identitas gender itu dipakai secara kebalikan, perempuan menggunakan busana laki-laki dan sebaliknya, itulah yang kemudian disebut dengan istilah crossdressing.

Sehingga dapat dikatakan bahwa crosshijaber dan pregnant crossresser adalah varian baru yang merupakan bagian dari crossdressing.

Gender dan Seksualitas

Kecendrungan seseorang terhadap lintas busana ini, menurut Psikolog Klinis dari Klinik Angsa Merah, Inez Kristanti dapat menjadi sebuah fetish. Fetish merupakan fiksasi seksual terhadap suatu objek atau organ tubuh. Namun bisa juga merupakan bentuk eksplorasi identitas gender individu.

“Identitas gender dengan ketertarikan seksual itu berbeda. Kalau dia berkeinginan menjadi perempuan, itu sudah masuk ranah identitas gender. Sedangkan kalau fetish itu definisinya ketertarikan seksual pada benda-benda atau pun objek, ” ujarnya.

Sementara itu, dalam www.cnnindonesia.com fenomena crossdressing ini di kaitkan dengan transvestisme. Transvestisme adalah gangguan perilaku seksual yang membuat seseorang berpakaian atau mengenakan aksesori yang berlawanan dengan jenis kelaminnya untuk tujuan tertentu.

Menurut Psikolog klinis Personal Growth Ni Made Diah, Transvestisme merupakan salah bentuk gangguan perilaku seksual parafilia atau ketertarikan seksual pada hal yang tidak biasa. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor psikologis seperti kecemasan untuk menghilangkan stress akibat pengalaman masa lalu. Selain itu juga dapat disebabkan oleh faktor neurobiologis yakni sesuatu yang berhubungan dengan hormon yang dimiliki. Ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua motif seseorang berperilaku crossdressing, yakni karena adanya dorongan seksual dan dapat juga dipicu tanpa motif seksual.

Dalam kasus crosshijaber ini, meskipun para laki-laki mengenakan pakaian perempuan, bukan berarti dapat dikatakan bahwa secara otomatis mereka menyukai sesama jenisnya. Jika dilihat dari paparan motif diatas, maka bisa saja apa yang dilakukan oleh komunitas crossdressing tersebut hanyalah ketertarikan terhadap lintas busana. Berbeda dengan transgender, kalau pada transgender orientasi seksualnya berbeda dengan jenis kelamin aslinya.

Seperti disebutkan oleh magdalene, terdapat sosok Fianda. Ia merupakan laki-laki lulusan S1 Fakultas Ekonomi yang melakukan crossdressing sejak 2011 silam. Ia mengaku senang menggunakan pakaian perempuan, dan hanya ingin mengekspresikan diri saja, tanpa bermaksud melakukan sebuah kejahatan. Meskipun Ia laki-laki dan berhijab, namun Ia tetaplah heteroseksual.

Laki-laki dan perempuan memilki identitas dan karakteristiknya masing-masing untuk mempermudah dalam membedakan antara satu dengan yang lain. Jika seseorang menggunakan lintas busana sebenarnya sah-sah saja. Toh sekarang ini, banyak kita jumpai perempuan yang berambut pendek, semantara laki-laki berambut gondrong (panjang). Perempuan juga banyak yang menggunakan kaos, kemeja, celana, topi. Meskipun hal itu merupakan pakaian yang sering dikenakan kaum adam, namun hal itu dianggap wajar-wajar saja.

Kriminalitas  

Penggunaan lintas busana dapat memiliki beragam tujuan. Ada yang melakukannya hanya untuk mengekspresikan diri, pemenuhan kepuasan seksual, atau justru sebagai bentuk penyamaran untuk melakukan sebuah tindakan kriminal.

Mengenai bagaimana seseorang berpakaian adalah hak kebebasan setiap orang. Tetapi jika para pelaku dresshijaber ini kemudian memasuki area-area yang seharusnya bukan untuk laki-laki, mengikuti kajian khusus wanita,  memasuki tempat wudhu, toilet wanita, dengan berlagak seolah-olah sebagai perempuan tulen. Rasanya hal ini sudah melebihi batas wajar.

Kasus yang dikhawatirkan oleh masyarakat mengenai crossdressing atau crosshijaber adalah jika busana yang dikenakan tersebut menjadi modal untuk melakukan tindak kejahatan. Seperti dilansir dari detik.com, pada Minggu (22/10/2019) di Masjid Agung Baiturrahman Sukoharjo terdapat seorang laki-laki yang menyamar menggunakan jilbab dan cadar agar dapat mendekati jama’ah perempuan. Ia juga mengajak foto dan memegang anggota tubuh para jama’ah perempuan. Sebelumnya sosok tersebut juga mengikuti kajian bersama jama’ah perempuan yang diadakan di masjid.

Selain itu, menurut Kapolsek Ternate Selatan, AKP Catur Erwin Setiawan, saat dimintai konfirmasi, Jumat (18/10/2019) mengatakan terdapat kasus pencurian empat handphone yang dilakukan oleh laki-laki dengan modus menggunakan cadar.

MUI Berbicara Soal Crossdressing

Semakin viralnya crossdressing, sampai-sampai banyak media memberitakan kasus ini dari berbagai angle. Bukan hanya warganet yang terus mengomentari hal ini, Majelis Ulama Indonesia juga mengambil perannya dalam menilai fenomena mengenai crossdressing ini. Apalagi, lintas busana yang dikenakan oleh kaum pria merupakan busana-busana simbol keagamaan.

Berbagai respon negatif dilontarkan oleh orang-orang yang berkedudukan di Majelis Ulama Indonesia, salah satunya Zainut Tauhid.

Berdasarkan berita di liputan6.com, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid mengatakan bahwa crosshijaber dianggap sebagai suatu tindakan yang diharamkan menurut ajaran islam.

“Ajaran Islam sejatinya melarang keras pria menyerupai wanita dan wanita menyerupai pria karena secara takdir dan syariat pria dan wanita adalah berbeda,” jelasnya.

Apakah Menjadi Berbeda Itu Sebuah Kesalahan?

Semua orang memiliki kebebasan dalam berekspresi, bebas memilih untuk bertindak sama atau berbeda dengan orang lain. Selagi tidak menyakiti orang lain, bukannya memilih berbeda  itu sah-sah saja. Namun perbedaan terkadang menimbulkan persepsi negatif dari orang-orang. Lantas siapa yang harus disalahkan, apakah orang yang dianggap berbeda, atau justru pikiran orang-orang yang berpandangan negatif dengan dalil gara-gara “si -beda-” ?[]

 

 

 

Annisa Hidayati, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

Resensi Buku Born Outlaw: Mafia dan Kartel dalam Sikap Anarkis

Judul                           : Born Outlaw: 33 Catatan Tentang Mafia,