Cerita-Cerita Jakarta: Jakarta Mungkin Cukup Menyeramkan bagi Kucingku

doc. Kusharditya Albi

Judul Buku: Cerita-Cerita Jakarta

Penulis: Ratri Ninditya, Hanna Fransisca, Sabda Armandio,dkk

Editor: Maesy Ang & Teddy W. Kusuma

Penerbit: POST Press

Tahun Terbit: 2021

Kucingku mengeong keras-keras di depanku. Pupilnya membesar, tangannya mencoba menggapai buku yang sedang kubaca. Aku cuma melirik sebentar, setengah tidak peduli, dan tetap meneruskan membaca. Franky —kucingku— tidak bakal mati kalau jam makan siangnya molor hingga satu atau dua jam. Toh, ia sering menganggu jatah makanku. Jadi tak mungkin ia betul-betul kelaparan.

Aku hampir menyelesaikan cerita-cerita terakhir di buku ini. Beberapa buku selalu coba kubaca dalam sekali duduk, atau mungkin sekali tiduran. Jika kututup buku ini sebelum selesai, mungkin bakal butuh waktu seminggu agar buku ini mulai kubaca lagi.

Jakarta dalam ingatanku adalah 14 tahun lalu, ketika kami sekeluarga ikut bapak dengan alasan, “makan gak makan yang penting kumpul”. Jakarta bagiku mungkin sekedar pengalaman diusir dari kontrakan, utang-utang ibu di toko sayur — yang tak pernah terbayar tentunya, kabur dari tukang kredit radio tape, dan kontak pertamaku dengan suatu tempat bernama Alfamart. Aku masih ingat semuanya. Rokok pertamaku waktu kelas 3 SD, berkelahi dan berkawan, tentu harus bisa berkelahi supaya dapat kawan, lalu jalan kaki ke sekolah yang jaraknya hampir 5 kali putaran lagu Echoes milik Pink Floyd. Tentu kebanyakan cuma melankolia belaka. Dan itu tidak seberapa.

Aku pikir, orang yang mengingat Jakarta sebagai hal yang menyenangkan cuma anak-anak SMP dari luar kota yang dapat jatah pelesiran. Umpatan mereka bisa saja cuma tertuju pada cuaca panas dan minuman dingin yang mereka pikir, harganya tidak masuk akal. Dengan harga minuman segitu, di kampung mereka bisa minum sampai beser.

Kucingku berhenti mengeong tepat setelah aku selesai membaca cerita terakhir dalam buku ini. Ia tetap menatapku dengan memelas. Aku elus ia, lalu ia mulai ngomel lagi dan mengeong. Mungkin saja protes, kenapa ia sampai diacuhkan gara-gara buku yang sedang kupegang. Begitu mungkin maksudnya. Lalu aku coba ceritakan apa saja isi buku ini.

Kucingku tidak pernah tahu apa itu Jakarta. Jadi biar aku ceritakan, barangkali akan memunculkan bayangan imajiner. Tetanggaku yang bukan kucing juga begitu, beberapa dari mereka membayangkan Jakarta sebagai tempat yang mudah untuk mencari uang dengan cepat. Bahkan hingga saat ini.

Kebanyakan penulis di buku ini adalah nama-nama asing bagiku. Sebagian sudah kukenal, seperti Sabda Armandio, Yusi Avianto, Ziggy, atau Afrizal Malna. Ada sepuluh cerita dari sepuluh penulis yang barangkali sudah akrab betul dengan Jakarta. Kebanyakan dari mereka bisa jadi menanam ari-arinya di sana.

“Begini, Franky, cerita-cerita di buku ini mungkin tidak menggambarkan Jakarta seutuhnya, tapi kamu bisa lihat sisanya nanti di televisi. Televisi juga sering cerita-cerita soal Jakarta,” kataku.

 

Franky cuma mengeong.

Cerita pertama ditulis oleh Ratri Ninditya, cerita ini tentang Jakarta dan gang-gang sempit. Aku cukup kebingungan bagaimana cara membaca judul ini, ‘B217AN’. Mirip plat nomor Jakarta karena berawalan huruf ‘B’. Setelah cukup lama akhirnya aku tahu bahwa cara membacanya adalah ‘berdua satu tujuan’, mungkin orang Jakarta suka berkelakar dan berangan-angan punya plat nomor kendaraan seperti itu.

Aku suka bagaimana ia mendeskripsikan tempat dan suasana dalam cerita ini. Penggambaran yang sederhana, namun benar-benar menyusun gambaran tentang seperti apa Jakarta. Gang-gang sempit, sungai keruh, suara-suara mengaji bercampur suara omelan ibu, ibu-ibu menjemur pakaian, dan keramaian orang-orang. Semua itu diceritakan melalui sepasang muda-mudi yang berboncengan menuju sebuah warung seafood.

Franky mengeong mendengar kata seafood. Ia tahu ada ikan dalam seafood.

Dua orang muda-mudi itu adalah orang-orang kelas menengah, yang mungkin saja mengumpat sekaligus berharap menjadi segelintir orang yang bisa hidup enak di Jakarta.

Pasti banyak kucing di gang-gang sempit. Franky yang terbiasa tiduran di jalan tidak bakal bisa seenaknya. Jalanan di rumahku cukup luas, Franky bisa bebas tidur melintang di tengah jalan dan motor tetap bisa lewat. Di Jakarta, Franky bisa saja diusir orang, atau paling apes ditabrak motor yang lewat.

Cerita kedua tentang perempuan Tionghoa yang kesulitan mengurus urusan administrasi berupa paspor. Urusan semacam itu di luar Jakarta saja, aku pikir sudah sangat merepotkan. Aku tidak tahu bagaimana sulitnya mengurus urusan semacam itu di Jakarta. Hanna Fransisca dengan judul ‘Aroma Terasi’, menceritakan betapa peliknya urusan administratif di Jakarta. Orang harus rela melakukan apapun agar urusannya cepat kelar. Dari mengeluarkan uang yang bisa buat makan sebulan, sampai bertukar baju dengan orang lain karena dianggap berpakaian ‘tidak sopan’.

“Kucing tidak perlu urusan administrasi, Franky. Tapi menurutku, jika urusan manusia di Jakarta saja sulitnya minta ampun, kira-kira bagaimana kehidupan kucing-kucing di sana? Kamu beruntung tidak tinggal di Jakarta. Kamu tinggal di tempat di mana kebanyakan orang masih sempat untuk mengurus kucing.”

Franky diam saja.

Lalu cerita selanjutnya adalah tentang dua pengamen di tengah kerusuhan demonstrasi di Jakarta. Judul cerita ini ‘Masalah’, ditulis Sabda Armandio. Aku selalu menyukai eksperimen Dio dalam bercerita. Kali ini ia mencoba menceritakan dua pengamen yang tiba-tiba bertemu orang asing di tengah maraknya demonstrasi. Salah satu tokoh menerka-nerka apakah orang asing yang bertemu mereka adalah seorang intel. Apapun bisa terjadi di Jakarta, dan mempercayai orang baru memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi di tengah bentrokan. Dio membuat si tokoh dapat berbicara dan protes kepada naratornya. Itu yang membuatku sangat menyukai cerita ini, tapi Franky tidak peduli.

Aku berandai-andai kemana perginya kucing-kucing ketika musim hujan, dan Jakarta banjir. Mirip seperti Holden Caulfield ketika membayangkan kemana perginya bebek-bebek saat musim dingin. Franky takut air dan selama hidupnya hanya pernah mandi satu kali. Bagaimana ia bakal menghadapi banjir di Jakarta?

Cerita keempat ini adalah cerita di mana sebagian wilayah di Jakarta tenggelam oleh banjir, dan teknologi yang sudah semakin maju. Cerita berawal dari seorang tokoh bernama Tante Nana yang terjebak saat menaiki mobil tanpa sopir. Sebuah cerita fiksi ilmiah yang lucu, tapi cukup mengerikan untuk jadi nyata.

Hidup di Jakarta memang membutuhkan kecerdikan dan kemampuan tinggi dalam bertahan hidup. Bahaya bisa datang dari mana pun. Cerita kelima adalah soal seorang anak dan ibunya yang pelacur. Mereka bergelut sehari-hari agar tetap bisa hidup nyaman dan berusaha setiap hari agar hidup lebih nyaman lagi. Nyaman, sebuah kata yang abstrak. Franky pikir, nyaman adalah Whiskas basah yang bisa ia nikmati sendiri tanpa harus berbagi pada Momo atau pun Belang.

Cerita keenam adalah salah satu cerita yang aku suka. Judul cerita ini adalah ‘Anak-Anak Dewasa’, tentang sekelompok lansia yang berencana mengakhiri hidup mereka di hari-hari terakhir saat Dufan hendak ditutup. Adalah Ny. P salah seorang lansia yang mengusulkan ide gila tersebut. Aku suka tokoh ini, ia sarkastis dan mungkin cukup menjengkelkan bagi orang lain. Aku pikir para lansia ini cuma butuh satu kucing peliharaan agar masa tuanya lebih tenang lagi.

“Kamu sepakat, Franky?”

Ia diam saja.

Cerita ketujuh, cerita favoritku. Ben Sohib dengan judul ‘Haji Syiah’, benar-benar menggambarkan bagaimana kondisi sosial masyarakat perkampungan di kota Jakarta. Aku sangat menyukai selera humor Ben Sohib. Tokoh bernama Haji Syiah ini, benar-benar stereotip engkong-engkong Betawi yang cerewet. Orang seperti ini bakal muncul di depanmu sambil menirukan gaya tangan mirip Ultraman, lalu berkata, “gue beri lu!”. Engkong semacam ini mungkin akan menakut-nakuti Franky dengan gagang sapu atau semacamnya.

Cerita kedelapan adalah cerita yang paling menyedihkan. Kerusuhan Mei 98 yang diceritakan lewat dua orang sahabat bernama Tata dan Ace. Mereka adalah keturunan Tionghoa. Bagaimana rasanya ketika mendapat seorang sahabat yang baru kamu kenal lalu tiba-tiba terpisah karena sebuah tragedi. Cynthia Hariadi dengan judul ‘Matahari Tenggelam di Utara’, menceritakannya dengan cara yang sederhana. Meskipun begitu, ia bercerita sehingga membuat kita merasa Tata dan Ace juga sahabat kita. Dan kita merasa menyesal tidak bisa mengenalnya lebih jauh.

 

Aku pikir Franky cukup sedih mendengar cerita ini. Bagaimana ternyata Jakarta masih menyimpan duka dan luka akibat tragedi dalam sejarah.

Cerita kesembilan milik Afrizal Malna. Cerita ini berkisah tentang seorang aktor teater bernama Frans yang menganggap bahwa hidupnya sendiri adalah ‘panggung pertunjukan’. Sehari-hari ia hanya makan, tidur, dan menonton pertunjukan seni di Taman Ismail Marzuki. Lalu cerita terakhir berjudul ‘Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta’ oleh Yusi Avianto Pareanom. Sebuah cerita jalan-jalan menurutku, dan bagaimana melelahkannya perjalanan si warga Depok ini.

“Aku pikir begitu, Franky, cerita-cerita dalam buku ini menyedotku seharian. Itu lah mengapa aku sampai malas beranjak untuk menyiapkan makan siangmu. Jadi bagaimana menurutmu?”

Franky hanya mengeong kecil. Ia sepertinya cukup paham.

“Jakarta rasanya masih jadi tempat yang mengerikan buatku. Jika aku hidup dan membawamu ke sana, mungkin aku cuma bakal memikirkan makananku sehari-hari. Aku sendiri mungkin bakal kesusahan dan kelaparan seperti dulu.”

Franky, mengeong agak keras.

“Mungkin tidak ada lagi Whiskas”

Ia terus mengeong.

“Ya, juga nasi dan ikan pindang, mungkin tidak ada.”

 

Kusharditya Albi, Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,