Bahaya Fanatisme Agama

Sumber: Jalandamai.org
Kehidupan masyarakat desa yang masih sangat minim ilmu pengetahuan, mungkin hanya berbekal dari pendengaran, sering kali terjebak dengan doktrin-doktrin yang tidak mampu untuk dipertanggungjawabkan.

Ajaran-ajaran yang bekaitan dengan Isme atau paham seringkali salah dimengerti, terutama oleh pemuka agama yang senantiasa memberi tausiah kepada masyarakat.

Tak jarang Isme yang disampaikan dipenuhi doktrin kebencian terhadap keyakinan lain, berbeda keyakinan dengannya diangap subversi, menentang budaya yang berlaku. Bahkan tak ayal, berbeda paham dalam satu agama pun dianggap “kafir.”

Mencaci Paham Orang Lain

Pernah saya menjumpai teman yang sangat (bisa dikatakan) “Fanatik,” saya katakan ia fanatik karena terlalu senang mencaci maki paham selain yang ia yakini. Kurang lebih ia pernah mengatakan begini, “Kata Kyai saya, mencaci paham A bisa bernilai ibadah loh.” Berani saya simpulkan, penyampaian kyai tersebut mungkin berdasarkan asbabunnuzul. Sedangkan pemahaman teman saya, ia menyelaraskan segala konteks dengan perkataan kyai.

Berbicara soal Isme memang sangat seksis, bahkan bisa jadi kontroversi, terlebih mengangkat isu yang beredar di pedesaan. Tetapi saya mencoba untuk menyampaikan suatu isu yang menurut saya sudah mendarah daging di lingkungan masyarakat dan perlu untuk diketahui oleh umat manusia. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya semenjak mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu dusun yang ada di Jawa Tengah.

Klaim Kebenaran dan Cenderung Menyalahkan

Sebelum memasuki inti dari persoalan, sedikit saya cantumkan prolognya. Semenjak dua minggu mengikuti KKN, keresahan mulai terasa, dari analisis di lingkungan setempat dan juga sempat berbincang-bincang dengan tokoh masyarakat termasuk Pak lurah. Ada seorang Kyai dan bu Nyai yang kurang disukai oleh masyarakat karena cendrung menyalahkan ibadah orang lain.

Saya katakan “Fanatik” karena terlalu berlebihan dalam ber-isme dan cenderung menyalahkan pendapat orang lain. Inti yang saya tangkap dari obrolan panjang lebar dengan tokoh masyarakat dan lurah setempat, oleh karena background keduanya adalah pondok pesantren, sang Kyai dan istrinya ingin menerapkan sistem pondok pesantren di lingkungan dusun, hal itu dimaksudkan untuk ‘mereligiuskan’ masyarakat berdasarkan keyakinan yang ia pahami.

Saya diceritakan warga, pernah suatu ketika, disaat ke masjid, beliau datang sedikit lebih lama dari biasanya, yang biasanya beliau jadi imam shalat, saat itu diimami oleh warga setempat. Saya sedikit kaget ketika mendengar sang Kyai yang tidak mau menjadi makmum. Saya jadi teringat kata pepatah, “Semakin berilmu seseorang, maka semakin merunduk ia.” Iya, persis seperti filosofi padi.

Namun, yang saya temukan disini justru berbeda, seorang kyai yang dipercayai memiliki ilmu yang tinggi dan disegani oleh masyarakat, ternyata belum bisa dikatakan berilmu, karena sejatinya orang berilmu akan semakin merunduk ia. Socrates pernah berkata “Orang yang bijaksana adalah orang yang tahu bahwa dirinya benar-benar tidak tahu.”

Mendominasi Atas yang Lain

Di dusun tersebut terdapat satu masjid dan satu mushalla. Rumah kyai berada tepat di depan mushalla, dengan pintu mushalla dan rumah kyai yang berhadap-hadapan, membuat sang kyai sering shalat di mushalla, hanya hari-hari tertentu beliau shalat di masjid seperti magrib, jum’at, dan setiap shalat Subuh. Beliau senantiasa melantunkan ayat Al-Qur’an setelah shalat Subuh.

Lain halnya dengan bu Nyai yang (katanya) cemburu dengan anak-anak yang belajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di masjid. Anak-anak yang dulunya belajar mengaji di mushalla kini berpindah haluan ke masjid. Dari kabar yang beredar di kalangan masyarakat, bu Nyai menggunakan cara kekerasan terhadap anak-anak, sehingga enggan untuk tetap mengaji di mushalla yang diajarkan oleh Kyai dan istrinya.

Pendirian kukuh yang dimiliki sepasang orang terpandang di dusun itu untuk menerapkan sistem pondok pesantren semakin menjadi-jadi. Hal itu yang ditakutkan warga, karena menurut mereka pasti sangat berbeda kehidupan desa dengan kehidupan pondok dan tidak akan pernah bisa disamakan seperti pondok pesantren.

Sialnya, setiap khutbah jum’at, selalu dengan khatib yang sama. Sang Kyai. Sebenarnya ada beberapa warga yang bisa menjadi imam dan khatib, tetapi karena menghindari perselisihan, akhirnya dibiarkan saja. Warga sendiri sangat mengharapkan bantuan dari kawan-kawan KKN agar bisa menyalurkan ilmunya dalam persoalan ini.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah belajar khutbah Jum’at bersama-sama, harapannya, akan banyak lahir tokoh agama yang berilmu dan tidak hanya berpatron pada satu Kyai saja.

Fanatisme atau yang sering dikenal dengan nama ta’assub, tidak dibenarkan dalam Islam. Pendapat ini pernah disampaikan oleh Imam Malik, “Sesungguhnya aku ini seorang manusia, aku pernah salah dan aku pernah benar, oleh karena itu perhatikanlah pendapatku, jika pendapatku ini sejalan dengan Al-Qur’an dan hadits maka ambillah dan jika tidak maka tinggalkanlah.”

Bahkan, dalam Al-Quran pun jelas Allah menggambarkan toleransi terhadap sesama. Lakum dinukum waliyadin, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Selain bukti konkrit diatas, Allah juga menegaskan dalam Q.S. Saba’: 24-25. …Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada diatas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: “kamu tidak akan ditanyai menyangkut dosa yang telah kami perbuat dan kami pun tidak akan ditanyai tentang apa yang kamu perbuat.”

Dalam ayat diatas, sudah sangat jelas ada urusan privat yang tidak boleh dicampuri oleh publik. Setiap orang, merdeka menentukan pilihan agama, ideologi dan Isme-nya. Kebenaran bukan ditentukan oleh manusia, apalagi menyalahkan. Allah pemilik segala yang benar. Dosa seseorang tidak akan dimintai pertanggungjawaban kepada orang lain. Jika memang tidak sesuai dengan apa yang telah dipelajari, mungkin saja belum cukup apa yang selama ini ia pelajari.

Memicu Munculnya Penyakit Sosial dan Lingkungan Tidak Sehat

Istilah Hamiyat Al-Jahiliyah seringkali disandingkan dengan fanatisme. Semangat yang menggebu-gebu sehingga kehilangan kendali dan bersikap picik, angkuh, dan sombong. Sifat itulah yang membuat amal yang mulanya ukhrawi menjadi duniawi.

Ada satu istilah lagi yang erat kaitannya dengan fanatik. Ashabiyah, tetap membela pihak sendiri meski terbukti salah. Rasulullah SAW. Bersabda: “Bukan dari kelompok kita (umat Islam) siapa yang mengajak kepada sikap Ashabiyah.” Pada masa jahiliyah dulu, sikap Ashabiyah sudah menjadi fenomena umum. Sehingga muncul ungkapan “Right or wrong it’s my country.” Jika diqiyaskan menjadi “belalah saudaramu baik dia teraniaya maupun menganiaya.”

Kefanatikan Kyai inilah yang menyebabkan lingkungan tidak sehat, keharmonisan dalam bersosial jadi ternodai, masyarakat terpecah menjadi kubu-kubu yang masing-masing mengikuti haluannya, bahkan masa bodoh dengan keyakinan.

Kasihan masyarakat awam yang belum banyak mengetahui tentang bahasan seperti ini, sudah diracuni dengan berbagai bumbu. Ibadah yang dikerjakan kini berpatron pada satu guru, cela-mencela karena fanatik semakin menggebu, ditakutkan masyarakat hilang kesabaran dan akan menderu.[]

 

 

 

Muhammad Nizarullah, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

Di Antara Penguasa dan Pengusaha

Semua pihak wajib menaati perjanjian yang telah disepakati.