Alienasi dan Peradaban Modern

Masyarakat modern dikelilingi oleh barang-barang yang mempermudah hidupnya dalam melaksanakan aktivitas. Modernitas memang telah memberikan kontribusi sangat signifikan terhadap kehidupan manusia. Dengan produk modernitas, terutama di bidang teknologi, manusia bisa menikmati hidup di bumi ini secara relatif maksimal. Jarak yang jauh tidak lagi menjadi persoalan dalam melakukan komunikasi dengan keluarga ataupun rekan bisnis. Semua dapat dilakukan dengan fasilitas alat-alat modern. Modernitas menyediakan kemudahan hidup bagi manusia.

Simbol Status Sosial

Ironisnya, dalam masyarakat modern dewasa ini, konsumsi manusia dan kepemilikan barang-barang tersebut tidak semata menempatkannya sebagai instrumen, melainkan sebagai simbol dari status sosial, sehingga konsumsi barang-barang tertentu dijadikan ukuran dari kekayaan dan kharisma. Konsumsi berubah menjadi gaya hidup. Membeli tidak selalu terkait dengan kepentingan instrumental.

Peradaban modern yang awalnya ditandai dengan jaminan kemudahan dan efisiensi justru berubah menjadi beban yang memberatkan masyarakat modern. Pertambahan kebutuhan dan hasrat identitas sosial memaksa manusia untuk makin memenuhinya melalui konsumsi. Hal ini berakibat semakin membuat manusia masuk dalam suatu ketergantungan. Oleh sebab itu, tampilah dunia benda-benda konsumsi yang justru memperbudak dan merendahkan martabat manusia. Lantaran status manusia dinilai berdasarkan pada kepemilikannya.

Aktivitas mengonsumsi hendaknya menjadi pengalaman bermakna manusia yang produktif. Namun dalam budaya modern, jarang ditemukan tindakan yang disertai pemaknaan seperti itu. Mengonsumsi menjadi kepuasan fantasi yang dirangsang secara artifisial, dimana hasrat untuk membeli didorong oleh dunia imaji iklan akan identitas tertentu (Fromm, 1955: 146-147).

Dalam penghayatan dan kesadaran tentang dirinya sendiri pun, manusia modern terjerembab pada orientasi pasar. Dalam konteks ini manusia mengalami dan menghayati dirinya sebagai benda yang dipekerjakan di pasar. Nilai gunanya sebagai manusia ditentukan sejauh mana kebutuhan pasar terhadapnya. Manusia tidak menghayati dirinya sebagai agen aktif yang mengemban kekuatan manusiawi. Makna hidupnya diekspresikan dengan menjual dirinya secara berhasil di pasar. Pemahamannya akan diri sendiri tidak keluar dari aktivitasnya sebagai makhluk yang mencinta dan berpikir, tetapi semata-mata dari peran sosio-ekonominya.

Menurut Erich Fromm seperti inilah manusia modern menghayati dirinya, tidak sebagai manusia dengan segala perasaan dan pikirannya, melainkan sebagai makhluk yang mengisi fungsi tertentu di dalam sistem sosial (Fromm, 1955). Penghayatannya akan nilai keberhasilan tergantung pada sejauhmana kesuksesannya dalam menjual dirinya secara menguntungkan. Tubuh, pikiran, dan jiwanya dinilai sebagai modal. Eksistensinya dalam kehidupan ini dihayati sebagai upaya untuk menginvestasikannya secara baik agar dapat mendatangkan keuntungan ekonomis bagi dirinya.

Teralienasi
Masyarakat modern telah teralienasi lantaran menjual dirinya di pasar, dan kehilangan martabat yang mencirikan kemanusiaannya. Alienasi tersebut telah menghilangkan keunikan manusia sebagai khalifah Allah. Karakter masyarakat modern didominasi oleh orientasi pasar, dimana keberhasilan seseorang bergantung pada sejauh mana nilai jualnya di pasar. Karena manusia modern mengalami dirinya sebagai penjual sekaligus sebagai komoditi untuk dijual di pasar, maka penghargaan dirinya bergantung pada kondisi di luar kontrolnya. Seandainya dia berhasil, maka dia bernilai di mata masyarakat, dan sebaliknya seandainya gagal, maka dia tidak bernilai.

Alienasi masyarakat modern menempatkan manusia pada penilaian yang tidak berdasar pada kualitas kemanusiaan yang dimilikinya, melainkan oleh keberhasilannya di sebuah pasar. Dengan begitu, penghargaan terhadap manusia berdialektika secara terus-menerus melalui penegasan dari orang lain yang berlandas pada nilai jual dan keberhasilan sebagai makhluk sosio-ekonomi.

Pada akhirnya setiap orang didorong untuk berjuang keras menjadi pekerja yang sukses dan kaya demi penegasan akan keberhasilannya itu. Kemakmuran melambangkan nilai jualnya yang tinggi dan dihargai di pasar. Sedangkan kemiskinan dimaknai sebagai sebaliknya. Tidak ada pengaruhnya apakah seseorang itu adalah baik, jujur, setia pada kebenaran dan keadilan, dan seterusnya. Sejauh kondisi ekonominya tidak makmur, maka dia dinilai belum menjadi orang sukses.

Keadaan ini memalingkan kesadaran manusia sebagai makhluk paling mulia di antara makhluk Tuhan, yang mana keutamaan dan kemuliaannya menyatu dengan kekuatan kepribadiannya, bukan bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Kemuliaan manusia dapat diungkapkan dalam pernyataan simbolik “aku adalah apa yang aku pikirkan dan perbuat”. Sebaliknya, “aku bukanlah apa yang aku miliki”.

Karena itu masyarakat modern mengalami depersonalisasi, kehampaan, dan ketidak-bermaknaan hidup. Landasan eksistensi hidup bergantung kekuasaan dan keuntungan. Hasrat untuk mendapatkan harta, mengumpulkan dan menumpuknya, memandang bahwa orang yang banyak harta sebagai manusia unggul, dan seterusnya mewarnai kehidupan masyarakat saat ini.[]

 

 

Dewi Sinta Nuriyah, Jurnalis LPM Rhetor dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

Di Antara Penguasa dan Pengusaha

Semua pihak wajib menaati perjanjian yang telah disepakati.