Teruntuk Ibu Negara dan Perempuan Indonesia, Selamat Hari Ibu

Sumber: Flexzine-alistarbot.blogspot.com
Peran perempuan kerap menjadi sebuah perdebatan. Banyak kalangan menilai perempuan mesti mendapatkan peran lebih dalam kehidupan masyarakat. Di sisi lain, ada kalangan yang memandang perempuan mestinya hanya berperan dalam ranah domestik atau kehidupan rumah tangga saja. Kenyataan peran perempuan banyak mengambil peran dan mensukseskan program negara dalam berbagai bidang, perempuan sebagai sosok ibu tentu memiliki peran yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat dan bernegara.

Perayaan mengenai sosok perempuan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, yang disebut dengan Hari Ibu, memang merupakan sosok terhormat baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia hari ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Menurut Aswab Nanda Pratama, dalam Harian Kompas,  22 Desember 1983 adalah peringatan Hari Ibu ke-45. Hari Ibu diperingati setiap tahun sejak 1938 setelah kongres Perikatan Perempuan Indonesia di Bandung sepakat memilih tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Pemilihan berdasarkan sejarah bahwa pada tanggal tersebut berlangsung pertemuan pertama seluruh organisasi wanita Indonesia di Yogyakarta tahun 1928. Ibu-ibu yang tergabung dalam Kowani pada tanggal 22 Desember 1946 memperingatinya dengan menyerahkan bingkisan kepada warga DKI Jakarta.

Di Gedung Dalem Jayadipuran menjadi saksi sejarah bahwa Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Kesamaan pandangan untuk mengubah nasib perempuan di Tanah Air membuat berbagai organisasi perempuan yang ada di Sumatera dan Jawa berkumpul dalam satu tempat. Mereka berdiskusi, bertukar pikiran dan menyatukan gagasannya di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta. Bermacam gagasan dan pemikiran diungkapkan dalam Kongres Perempuan pada 90 tahun lalu, 22 Desember 1928. Selama tiga hari, dari 22 Desember sampai 25 Desember terdapat beberapa isu yang dibicarakan dalam pertemuan bersejarah yang dihadiri 600 orang dari 30 organisasi.

Isu yang dibahas antara lain pendidikan perempuan bagi anak gadis, perkawinan anak-anak, kawin paksa, permaduan dan perceraian secara sewenang-wenang. Selain itu, kongres juga membahas dan memperjuangkan peran wanita bukan hanya sebagai istri dan pelayan suami saja.

Berawal dari keadaan demikianlah, persatuan dari beberapa organisasi wanita ini semakin kuat dan akhirnya tergabung dalam organisasi yang lebih besar, yakni Perikatan Perkoempolan Isteri Indonesia (PPII). Sampai akhirnya, ketika Kongres ketiga, perkumpulan ini mematangkan dan menyuarakan mengenai pentingnya perempuan dan menetapkan 22 Desember, dimulainya Kongres Perempuan I pada 1928, sebagai Hari Ibu.

Kongres Perempuan Indonesia III yang berlangsung dari 22 sampai 27 Juli 1938 di Bandung menetapkan Hari Ibu diperingati tiap 22 Desember. Pemilihan tanggal itu untuk mengekalkan sejarah bahwa kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dimulai pada 22 Desember 1928. Setiap tahun, peringatan dilakukan untuk menghayati peristiwa bersejarah tersebut.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai peringatan hari ibu nasional ini, diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

Pada saat Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional emansipasi wanita dan hari lahir Kartini sebagai hari peringatan emansipasi wanita nasional. Tetapi banyak warga Indonesia yang memprotes dengan berbagai alasan, di antaranya Kartini hanya berjuang di Jepara dan Rembang, Kartini lebih pro-Belanda daripada tokoh wanita seperti Cut Nyak Dien, dll. Karena Soekarno sudah terlanjur menetapkan Hari Kartini maka Soekarno berpikir bagaimana cara memperingati pahlawan wanita selain Kartini seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dll. Akhirnya Soekarno memutuskan membuat Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan wanita alias pahlawan kaum ibu-ibu dan seluruh warga Indonesia menyetujuinya.

Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 22 Desember 1977, Hari Ibu di negara lain biasanya diperingati untuk memanjakan ibu yang telah bekerja mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengenal waktu dan lelah. Sementara di Indonesia, momen Hari Ibu ditujukan untuk menandai emansipasi perempuan dan keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Sebelumnya, peringatan Hari Ibu selalu tertuju pada kaum perempuan. Namun, pada 1986, peringatan ini ditujukan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Tujuh sosok Ibu yang setia dan berjasa.

Sosok ibu negara tak sekadar mendampingi orang nomor satu sebuah negara. Perannya besar, dia disorot begitu rupa dalam setiap aktivitas kenegaraan. Gaya berbusana mereka tak luput dari pujian serta hantaman kritik.Publik rupanya tidak tutup mata untuk menilai gaya berbusana pendamping presiden paling setia. Segala sesuatu yang dikenakan para ibu negara ini pastinya selalu menjadi kiblat fashion para masyarakatnya.

Tidak hanya tentang gaya fashionnya, para ibu negara ini juga dikenal dengan aura keibuannya. Dari masa ke masa sosok ibu negara ini pastinya akan selalu dikenang oleh para rakyatnya. Mulai dari era Soekarno hingga era Joko Widodo. Kehadiran mereka di Tanah Air pastinya menjadi warna tersendiri. Tak kenal lelah, wanita-wanita tangguh ini selalu siap melayani dan mendamping sang suami dalam menjalankan tugasnya.

Fatmawati yang merupakan Ibu negara pertama,  istri Presiden Soekarno yang menikah pada 1 Juni 1943 kala Soekarno diasingkan ke provinsi Bengkulu. Pernikahan ini berlangsung setelah Soekarno bercerai dengan istri keduanya, Inggit Garnasih.Pernikahan Soekarno dengan Fatmawati ini dikaruniai lima orang anak, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Setelah Indonesia merdeka, Fatmawati menjadi ibu negara yang menjahit bendera pusaka Merah Putih.

Raden Ayu Siti Hartinah atau akrab dipanggil dengan ibu Tien ini lahir pada 23 Agustus 1923 di desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah. Pertemuan ibu Tien dengan Soeharto diawali dari sebuah perjodohan keluarga. Dari pernikahannya tersebut, mereka dikaruniai enam orang buah hati.Yaitu Siti Hardiyanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih. Ibu Tien sangat setia mendampingi Soeharto baik ketika masih menjadi prajurit hingga menjadi presiden selama tiga dasa warsa.Keduanya menikah pada Minggu 26 Desember 1947. Hingga akhirnya Pak Harto lengser dua tahun setelah meninggalnya Ibu Tien, tepat 20 tahun lalu dari hari ini, yaitu pada 28 April 1996.

Hasri Ainun Besari, Ibu negara yang satu ini memiliki kisah cinta yang paling populer di Indonesia. Saking populernya, kisah cinta Ainun dengan Habibie sampai diabadikan ke dalam sebuah film layar lebar berjudul Habibie Ainun.Habibie dan Ainun menikah pada 12 Mei 1962. Pernikahan keduanya dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

Ibu Sinta Nuriyah, istri Gus Dur, ia dapat bertemu dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lewat perantara orang ketiga, yakni Paman Gus Dur, Kiai Fatah. Namun, satu nasehat dari pamannya tersebut yang telah membuat hidup Gus Dur berubah terutama pandangannya tetang cinta.Sinta Nuriyah diwanti-wanti oleh pamannya agar menikah lebih dahulu. Saat itulah, Sinta Nuriyah diperkenalkan kepada Gus Dur. Waktu itu, Gus Dur berniat melanjutkan studinya ke Kairo, Mesir. Gus Dur dan Sinta Nuriyah menikah pada 11 September 1971.Dari pernikahannya tersebut Gus Dur dan Sinta dikaruniai empat putri, yaitu Yenny Wahid, Alissa Wahid, Anita Hayatunnufus dan Inayah Wulandari

Megawati Soekarnoputri merupakan tokoh sentral di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) sejak 1999 hingga saat ini. Putri Presiden Soekarno itu juga merupakan Wakil Presiden sejak 1999-2001, kemudian menjadi presiden menggantikan KH. Abdurrahman Wahid pada 2001-2004. Potret masa muda mantan ibu negara ini pun membuat banyak orang pangling.Sebelumnya diketahui bahwa Megawati ditinggal Letnan (Penerbang) Surindro Suprijarso yang wafat akibat kecelakaan pesawat di sekitar Pulau Biak, Papua. Pada akhirnya ia bertemu dengan Taufiq Kiemas dan menikah untuk kedua kalinya.Megawati memasuki pernikahan keduanya itu dengan membawa dua putra dari Surindro Suprijarso, yakni Mohammad Rizki Pratama (Tamtam) dan Mohammad Prananda (Nanan). Kemudian sekitar setahun setelah menikah, yaitu pada tahun 1974, Taufiq dan Megawati dianugerahi seorang puteri, Puan Maharani. Kepada ketiga anaknya, Taufiq tak membeda-bedakan kasih sayangnya.

Kristiani Herrawati atau yang lebih dikenal dengan nama Ani Yudhono adalah sosok ibu negara yang selanjutnya. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Kristiani Herrawati pertama kali bertemu di awal tahun 1973 di Magelang, Jawa Tengah.Keduanya bertemu di lingkungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Keduanya sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak tahu siapa yang memulai lebih dulu, SBY dan Ani pun menjadi sepasang kekasih.SBY dan Ani menikah pada 30 Juli 1976. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua orang anak yakni Agus Harimukti Yudhono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Iriana Jokowi, sosok wanita yang sekarang tengah menjadi ibu negara Republik Indonesia. Iriana menikah dengan Joko Widodo pada 24 Desember 1986. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai tiga orang anak. Yaitu Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.

Selamat Hari Ibu Nasional, terimakasih sudah berjasa untuk negeri ini.

 

 

 

Irfan Asyhari, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

The Lobster: Tentang Kebebasan dan Ruang Privat

Sebelum fiksi ilmiah yang bercerita tentang tema distopia