Kim Ji Young: Aku Tak Ingin Hidup di Lingkungan Patriarki!

M eski film Kim Ji Young sudah lama tayang di kancah perfilman layar lebar. Namun, hati ini masih teriris-iris mengingat setiap adegan demi adegan yang ditampilkan. Penonton diajak masuk untuk melihat keadaan sebenarnya dalam kehidupan rumah tangga. Kisah keluarga yang masih dihantui oleh lingkungan patriarki. 

Memang, fase kehidupan rumah tangga menjadi suatu yang diidam-idamkan oleh semua insan, apalagi mempunyai anak, tentu saja iya. Namun, yang menjadi kemelut pemikiran adalah cukup kuatkah kita untuk menjalaninya?

Kisah inspiratif dalam film ini tentu menjadi bahan pertimbangan dan kajian untuk mengetahui lebih dalam hubungan suami dan istri di lingkungan keluraga yang masih konservatif. Terutama bagi perempuan yang sangat terdampak akan kondisi tersebut, seperti halnya Ji Young. Ia dituntut untuk menjadi perempuan penurut, hingga harus mengorbankan karirnya demi kerja-kerja seputar dapur, kasur, dan sumur.  

Ironi memang, ketika perempuan masih saja terkungkung dalam kehidupan semacam itu. Sentimen-sentimen negatif tentang perempuan pekerja, bahkan terlihat lebih mapan dari suaminya, masih saja langgeng dalam kehidupan masyarakat kita. Tentu, hal tersebut menjadikan ruang gerak perempuan terbatas dan tidak mampu berkembang. 

Film ini pun berkisah demikian, Ji young, seorang wanita karir terpaksa berhenti bekerja untuk merawat anak dan suaminya. Sayang, keadaan semacam itu, membuat Ji Young merasa tertekan untuk menjadi seorang ibu yang sempurna di tengah kemelut lingkungan keluarga konservatif.

Terlihat adegan dimana ibu mertuanya menginginkan Ji Young untuk mempersiapkan makanan tanpa kenal lelah. Sedangkan Daehyon, anaknya, hanya bisa duduk, dilarang untuk membantu sang istri.

Film ini mengungkapkan bagaimana kondisi masyarakat kita masih memiliki sentimen bahwa tidak sepatutnya laki-laki bekerja terkait urusan rumah tangga. Hal seperti ini masih ada di lingkungan masyarakat Korea yang sudah maju. Bahkan masih saja tampak dan nyata di lingkungan kita saat ini.

Akibat berbagai macam ketidakadilan yang menimpanya, akhirnya Ji Young merasa tidak tahan. Ia memberontak, bahkan melontarkan semua perasaan  pada ibu mertuanya, dan ingin kembali ke keluarganya. Disinilah Daehyon sebagai suami diuji. Bagaimana ia seharusnya berperan sebagai seorang anak bagi ibunya dan suami yang baik bagi istrinya.

Menjadi ibu rumah tangga sangatlah tidak mudah, terutama bagi Ji Young. Ia harus melakukan kegiatan yang berbeda dari sebelumnya. Mulai dari mengurusi anak, menyiapkan makan keluarga, dan mengurus rumah. 

Padahal, sebelumnya ia berada dalam lingkungan keluarga yang tidak mengharuskan segala urusan rumah dikerjakan oleh perempuan. Ibu Ji Young yang tampil sebagai wanita karir ketika muda, sangat membebaskan anak-anaknya untuk melakukan apapun dalam artian positif. Namun kini, Ji Young dituntut untuk menjadi wanita sempurna oleh mertuanya meski harus kehilangan jati diri.

Ji Young bosan dengan keadaanya. Ketika keinginnanya untuk kembali bekerja lagi-lagi dilarang oleh ibu mertuanya, membuatnya tertekan hingga menyerang kondisi psikisnya.

Untungnya Daehyon sebagai seorang suami sangat mengerti dengan kondisi istri. Ia menyarankan agar Ji Young pergi ke psikiater untuk konsultasi. Keadan Ji Young yang makin sulit juga dirasakan oleh saudaranya. Mereka terus memberi semangat agar Ji Young tidak sakit, dan semangat dalam menjalani hidupnya.

Film ini, mengajak kita untuk lebih mempercayai dan mendukung wanita dalam melakukan segala hal. Memang betul apa yang dikatakan teman bahwa perempuan itu multitasking. Ia mampu melakukan segala hal, mulai dari urusan rumah tangga hingga berbagai macam kerja di luar itu semua. Hal ini membuat perempuan harus lebih berani dan kuat berdiri sendiri apalagi di tengah lingkungan yang konservatif perihal gender.

Menurut Striner, dalam bukunya berjudul “Kaum Anarkis dan Perjuangan Demokratik Baru” yang dilansir dari geotimes.com memaparkan bagaimana setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan mana yang baik bagi dirinya sendiri, apa yang diinginkan, dan hanya individu tersebutlah yang dapat memutuskan apakah ia benar atau salah. 

Bagi Striner hanya pada diri sendirilah masing-masing individu harus tunduk, bukan pada negara, masyarakat, ataupun sistem. Seperti itulah baiknya prinsip yang harus dimiliki oleh setiap individu, sehingga ia tidak akan hidup berdasarkan kemauan mayoritas akan tetapi berlandaskan apa kemauan dirinya sendiri, dan orang-orang juga akan sadar bahwa tidak sepantasnya mereka menghakimi. 

Dan saya sangat mendukung “Hapuskan lingkungan patriarki dan bebaskan perempuan dalam berbagai macam belenggu yang menghantui”.[]

M. Jia Ulhaq, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Resensi Buku Born Outlaw: Mafia dan Kartel dalam Sikap Anarkis

Judul                           : Born Outlaw: 33 Catatan Tentang Mafia,