Seminar Nasional Hari Santri, Ajak Bangsa untuk Mereorientasi Nasionalisme

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Memperingati hari Santri Nasional, RMI NU bekerjasama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga menggelar Seminar Nasional Hari Santri di Convention Hall lantai 1 UIN Sunan Kalijaga (26/10).  Seminar yang bertema “Mendudukkan Kembali Akar dan Orientasi Nasionalisme Kebangsaan Kita” ini adalah rangkaian dari beberapa acara untuk memperingati hari santri. Turut hadir sebagai narasumber Yudi Latif, Ph. D, Dr. Abdur Rozaki, M. Si, dan M. Jadul Maula.

Adanya peringatan hari santri adalah untuk mengingatkan pada masyarakat bahwa santri mempunyai peran besar. Salah satunya adalah dengan mengadakan seminar sebagai upaya menyadarkan kembali peran santri dalam membangun nasionalisme.

Yudi Latif, Ph.D mengatakan bahwa nasionalisme tidak hanya ditegakkan dengan mesin dan peluru. Bukan baris berbaris. Di dalamnya ada elemen-eleman putih, pemikiran dan komunitas.

“Bangsa yang maju adalah bangsa yang bisa memberikan nilai tambah atas kemakmuran yang telah diberikan. Suka mempertentangkan hal yang remeh-temeh. Merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur adalah visi kita.” ungkap Yudi Latif.

Ia juga menjelaskan bahwa ketika nasionalisme bangkit, kesadaran keagamaan menjadi pendorong terhadapnya. Masyarakat sering lupa bersyukur kepada penjajah, sebab tanpa kehadiran kolonialisme penjajah, Islam tidak akan tersebar. Nasionalisme sesuatu yang sifatnya spiritual.

Mengamini pendapat Yudi Latif, Jadul Maula juga mengungkapkan hal yang sama bahwa nasionalisme adalah spriritualitas. Hablum minallah itu hablum minannas.Mencintai tanah air itu riil sebagai pengembangan spiritualitas.

“Nasionalisme di Barat dimulai dengan atheisme. Arab juga sama, nasionalismenya sekuler lawannya kelompok ulama yang tidak pernah berjuang tidak ada pergulatan. Berbeda dengan Indonesia, sejak zaman Walisongo yang dibangun adalah bangsa. Buahnya adalah berdirinya Republik Indonesia pada abad 19. Nasionalisme seperti ini yang perlu diajarkan di sekolah-sekolah.”

Ia menambahkan bahwa nasionalisme sudah dibangun oleh pesantren melalui arab pegon yang ada sejak abad 10. Hal itulah yang menjadi kesadaran berbahasa. Sudah lama sekali menyatukan masyarakat melalui bahasa. Jadi bohong besar ketika dikatakan bahwa nasionalisme itu ada sejak abad 20 berkat mesin cetak.

Terakhir, Dr. Rozaki mengingatkan agar spirit keagamaan dan keberagaman santri tidak terpecah belah.

“Jangan sampai spirit keagamaan dan keberagaman mengalami fregmentasi. Jangan sampai seperti Timur Tengah. Nasionalisme menjadikan kita mempunyai wilayah yang luas. Karena itu ditakdirkan untuk menjadikan wilayah yang luas.” himbau Rozaki. []

Reporter          : Tiara Apriyani

Editor              : Ika Nur K.

You may also like

Aliansi Mahasiswa Jogja Gelar Aksi Tolak IMF-Bank Dunia

lpmrhetor.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi