Refleksi Gerakan Mahasiswa Saat Ini

Sumber: Amanat.id
Berbicara soal refleksi, artinya kita coba melihat wajah pergerakan mahasiswa melalui cerminan yang ada pada diri kita. Kita yang dimaksud di sini ialah aku, kamu, dia, serta mereka. Di mana semuanya membaur dalam satu tugas dan cita-cita bersama.

Tugas dan cita-cita tersebutlah yang seharusnya menjadi nafas suatu pergerakan, terkait bagaimana kita mampu bekerja, bersuara dan bergerak bersama dalam tali cita-cita perjuangan yang agung. “Mahasiswa adalah akal dan hati masyarakat” kata bung Hatta, namun, entah kapan dan di mana mahasiswa akhirnya mampu memahami masyarakat melalui pengertian dan perhatian. Yang pada akhirnya menuai simpati, empati, hingga saling berbagi rasa dalam beberapa konteks.

Kampus dikatakan sebagai miniatur negara yang dijalankan secara demokrasi. Dengan begitu, maka aparatur negara haruslah digerakkan melalui suara-suara mahasiswa sebagaimana seharusnya menjadi representasi dari rakyat kampus. Idealnya harus tak ada pengelompokkan atau pengotak-ngotakan bagi masyarakat kampus, seperti halnya sebutan  mahasiswa kupu-kupu atau mahasiswa kura-kura.

Kondisi demikian sungguh menjadi ironi dalam potret pendidikan dewasa ini. Jangankan jika berbicara tentang rakyat Indonesia secara luas. Pada lingkungan akademisi saja, tak jarang terjadi kekacauan ataupun prolematika. Suatu kondisi yang kadang terjadi adalah soal siapa yang memiliki kuasa lebih, dan pada akhirnya menyangsikan suara mayor yang harusnya terdengar bergaung serentak malah terdengar minor, yang hanya terdengar secara berbisik-bisik di belakang, di angkringan atau warung kopi tanpa toa maupun pengeras suara.

Refleksi Alur Pergerakan era 98

Hari ini kita melihat tiga bentuk refleksi pada alur pergerakan. Refleksi pertama kita menarik dari era 98 hingga hari ini, di mana pada tahun 98 itu kita memiliki kepentingan yang sama untuk bergerak, narasi pergerakan yang tersebar dan diamini terbentuk dengan sendirinya, tak lagi orang mementingkan egonya untuk kepentingan dia sendiri atau kelompoknya, hari itu lawannya hanya satu: “pemerintah”. Hal inilah yang kurang menjadi refleksi kita yang sama-sama mewarisi semangat perjuangan pemuda dahulu. Biarpun terdengar seperti romantisme sejarah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal inilah yang pada akhirnya menjadi kritik saat ini.

Langkah kritik kita mulai benar-benar dibangun serius sebagai momentum langkah besar, yaitu pada refleksi kedua ini, ketika kita menilik dari aksi “Gejayan memanggil” yang terjadi pada tanggal 23 dan 30 September 2019  hingga munculnya aksi pada senin 28 Oktober, bertepatan dengan hari sumpah pemuda.

Pertama untuk refleksi kita, lihatlah kemarin ketika aksi di gejayan yang pertama, massa yang berkumpul begitu banyak hingga ribuan, walau sebenarnya pada aksi yang pertama ini kurang berhasil karena tuntutan yang terekpos hanya sedikit sekali dari tujuh tuntutan itu dan kita juga melihat  banyaknya penyusupan isu yang kiranya kurang tepat untuk disuarakan, tetapi hal ini tetap dianggap sukses karena berhasil mengumpulkan massa yang cukup banyak.

Adapun pada aksi gejayan memanggil 2, massa yang terkumpul di setiap titik koordinat aksi banyak yang terpecah, partisipan yang hadir aksi di gejayan yang pertama memang kebanyakan sifatnya karbitan, hanya sedikit yang benar-benar membawa idealismenya ketika aksi, hingga hal ini berpengaruh besar pada aksi lanjutannya.

Refleksi yang ketiga adalah bagaimana kita melihat ke depan untuk saat ini, setidaknya setelah tanggal 28 Oktober ini hingga hari sebelum diadakannya pemilwa. Kita masih melihat perpecahan, sekat-sekat, kecemburuan sosial yang menjadi sebab ketegangan khususnya antar elemen pergerakan yang ada.

Perbedaan ideologi dan cara pandang terhadap suatu situasi membuat kita pada akhirnya cukup sulit untuk menyamakan idealisme. Tidak hanya itu, masih banyak problematika yang terjadi, salah satu contohnya adalah eksistensi pers mahasiswa yang seharusnya menjadi oknum penggerak dan bentuk representasi suara bagi mahasiswa, malah terdengar diamnya, haluan yang menjadi arah elemen pergerakan seolah kehilangan stir kemudinya, seolah diamnya telah menjadi momok wajah pergerakkan kampus kita hari ini. Di samping itu, Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sikap persma. Kondisi lingkungan dan tekanan-tekanan dari atas mungkin saja menjadi salah satu pemicunya.

Tidak berhenti di situ, berbagai cara akhirnya dibangun. Seperti melakukan konsolidasi ke setiap elemen pergerakan.  Menghadirkan suatu keresahan-keresahan yang menjadi distrust belum terbuka satu sama lain untuk mencari solusi sebagai ajang rekonsiliasi. Akan tetapi, adanya ruang dialog untuk mewadahi rekonsiliasi itu masih belum terbangun seutuhnya, karena masih selalu berkutik pada persoalan ego masing-masing individu. Kurangnya koordinasi dan pertemuan juga menjadi andil dalam permasalahan ini, karena pendekatan personal dirasa sangatlah penting dalam hubungan komunikasi agar hadirnya ruang keterbukaan itu dan menjadi langkah awal untuk menghilangkan sekat-sekat yang ada.

Solusinya adalah Revolusi

Dari problematika-problematika yang ada,  kita melihat yang saat ini benar-benar dibutuhkan ialah adanya suatu  revolusi, ini mencakup revolusi cara berpikir maupun revolusi cara bergerak, dan lain sebagainya. demi  kemerdekaan pada demokrasi yang sejati.

Revolusi dibangun dari adanya kelompok yang konsisten, walaupun kecil. Dan revolusi yang besar tidak akan terjadi tanpa adanya revolusi yang kecil, yaitu revolusi yang ditarik kepada setiap individu untuk mengembalikan sikap kritisnya, dan di mana ketika kuantitas dari revolusi kecil ini mulai terbentuk dan terkumpul sebagai kesatuan kualitas, kita kembalikan kualitas ini kepada kuantitas massa yang arah geraknya merujuk pada sebuah revolusi besar.

Solusi sebagai langkah awal yang mungkin bisa kita bangun sekarang adalah penguatan keterampilan atau upgrading skill kita sebagai mahasiswa. Mengembalikan apa yang menjadi tugas mahasiswa, yaitu: membaca, diskusi, aksi. Banyak-banyak melakukan pembacaan atau pengkajian terhadap suatu pemikiran, isu, dan lingkungan sekitar.

Tak cukup hal itu, dialektika dalam ruang diskusi juga menempati posisi yang sangat penting. Dalam hal ini untuk mengekspresikan gagasan terhadap suatu hal. Di mana, pengaplikasiannya dapat dimulai dari lingkaran-lingkaran kecil, hingga diskusi skala luas. []

 

 

 

Muhammad Anggie Bayu, Mahasiswa jurusan Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

76 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Orde Baru Hidup Lagi

Seorang teman pernah bilang, saat kita berulang tahun,