Pelajar Yogyakarta: Kami Tidak Diam!

doc. lpmrhetor

lpmrhetor.com – Senin (28/10/19), pelajar selama ini jarang mendapat ruang untuk menyampaikan aspirasi, bahkan lebih sering mendapatkan ancaman. Begitulah yang disampaikan oleh Gabriel, salah satu pelajar yang tergabung dalam aksi Karnaval Demokrasi di Tugu Pal Putih, Yogyakarta.

Dalam penuturannya, ia mengaku hak-haknya sebagai manusia telah dibungkam, tidak diberi hak untuk memilih, dan lebih banyak ancaman yang datang, baik dari pihak sekolah maupun kepolisian.

“Pertama, kita hanya dicekokin saja, kita nggak dikasih hak memilih. Kedua, banyak represi yang terjadi. Berapa banyak pelajar yang diancam di DO [Drop Out-red]? Berapa banyak yang diancam tidak didaftarkan UN? Ada lagi kasus di Polsek [Kepolisian Sektor-red] Gowa itu kalau pelajar ikut aksi akan didaftarkan di SKCK sebagai pelaku tindak kejahatan. Itu tentu melanggar hukum dan ini yang menjadi concern kita, bahwa kita melawan segala upaya pembungkaman demokrasi pelajar,” jelasnya.

Gabriel juga  mengaku bahwa orang tuanya sempat dipanggil pihak sekolah terkait aksi gerakan pelajar.

“Untuk aksi yg kedua saya dilarang, orangtua saya didakwa,” ungkapnya.

Gabriel tidak sendirian, masa aksi pelajar lain juga mengalami intimidasi serupa. Ia juga menyayangkan atas ancaman yang datang justru kepada orang tua mereka.

“Banyak yg diancam DO, kita juga sudah berkoordinasi dengan LBH dan PBHI, buat ngasih somasi ke dinas pendidikan, karena banyak yg diancam DO, banyak yg diancam tidak didaftarkan UN bahkan yg paling miris adalah yang diancam orang tua,”

Diakhir wawancaranya, Gabriel mengatakan bahwa pelajar tidak akan diam dengan berbagai ketidakadilan yang menimpa.

“Kami tidak akan diam. Kami pelajar tidak akan diam,” pungkasnya.[]

Reporter: Kusharditya Albi dan Khusnul

Penulis: Kusharditya Albi

Editor: Isti Yuliana

You may also like

Surat Pernyataan Keputusan Bersama Bukan Akhir dari Perjuangan

lpmrhetor.com – Selasa (30/06/2020), puluhan mahasiswa melakukan aksi