ORMAWA dan Pikiran yang Belum Selesai

doc. redaksi

Oleh : Susi Susiana*

Ketika saya selesai membaca tulisan Kak Hilful Fudhul berjudul, Ormawa dan Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai[1], saya langsung dibuat terharu oleh tulisan tersebut. Dalam tulisan pendeknya, Kak Hilful menumpahkan segala kegundahan hati yang selama ini mungkin ia pendam mengenai kondisi UIN Sunan Kalijaga.

Saya tidak menyangka, saat kebanyakan mahasiswa hari ini cenderung apatis dan apolitis terhadap kondisi kampusnya, Kak Hilful justru hadir dengan segala pengecualian. Ia dengan agak lantang mengkritik kinerja ORMAWA yang abai terhadap berbagai permasalahan kampus, seperti mahalnya biaya kuliah hingga pemberangusan ruang publik. Kak Hilful juga berani menyorot proses pemilihan pengurus yang baginya tidak demokratis dan tidak bisa menjadi representasi mahasiswa secara keseluruhan. Bagi saya, apa yang ditulis kak Hilful ini adalah sesuatu yang luar biasa, ia sepertinya sangat paham seluk-beluk permasalahan di kampus, bahkan hingga permasalahan pemilihan pengurus ORMAWA pun ia bisa tahu.

Awalnya saya curiga, jangan-jangan Kak Hilful adalah pengurus ORMAWA, atau orang yang pernah terlibat dalam pemilihan pengurusnya. Kecurigaan saya karena melihat ia begitu lugas menjelaskan permasalahan ORMAWA yang selama ini jarang diketahui banyak mahasiswa. Tapi kecurigaan saya itu langsung saya tepis, bila Kak Hilful adalah pengurusnya atau orang yang pernah terlibat dalam pemilihan pengurus ORMAWA, secara akal sehat mana mungkin ia akan menuliskan keborokannya sendiri. Hanya orang kurang piknik yang menunjukan keburukannya sendiri secara terbuka ke depan publik.

Membaca tulisan Kak Hilful, saya bisa sedikit membayangkan kepedihan yang dirasakan, hingga ia menumpahkan segala curahan hatinya dalam tulisan tersebut. Mungkin pedihnya hati kak Hilful melihat kondisi kampus, jauh melebihi rasa sakit ketika diputus kekasih. Karena itulah saya merasa terharu ketika selesai membaca tulisannya.

Kalau boleh jujur, apa yang dituliskan Kak Hilful bukanlah sesuatu yang baru. Sejak beberapa tahun belakangan, berbagai persoalan yang ia singgung dalam tulisannya sudah terjadi. ORMAWA yang dicap tidak demokratis dan dianggap hanya dikuasai oleh kelompok tertentu, sejak awal pendirianya memang sudah diatur demikian. Bahkan secara filosofis, bangunan pengetahuan dari ORMAWA sendiri memang sudah tidak demokratis, bahkan cenderung menghendaki adanya dominasi kekuasaan dari satu kelompok tertentu. Bangunan pengetahuan ini yang oleh sistem politik modern disebut trias politica.

Saya pikir kurang bijak juga bila menimpakan segala kesalahan atas carut-marutnya kondisi kampus hanya kepada ORMAWA. Sebab permasalahan kampus tidak sesederhana seperti yang dibayangkan, di sana terdapat banyak variabel yang saling berhubungan satu sama lain. Kalau pun semisal ORMAWA di kampus dapat bekerja maksimal, saya kira mereka tidak akan mampu melakukan banyak hal untuk mengubah kebijakan uang kuliah, atau menolak pembongkaran ruang publik, karena masalah yang dihadapi begitu kompleks. Lain ceritanya jika yang bergerak untuk menyikapi berbagai persoalan di atas adalah seluruh mahasiswa, hal itu pasti akan mampu mempengaruhi bahkan mengubah kebijakan di kampus. Saya percaya masalah di kampus bisa selesai jika seluruh mahasiswa yang bergerak, bukan justru segelintir elite pengurus ORMAWA. Berbagai contoh kasus seperti di Chile, Kanada, hingga Hongkong menunjukkan bahwa letak keberhasilan gerakan mahasiswa bukan pada ORMAWA, tapi pada seluruh mahasiswanya.

Sebenarnya yang harus kita salahkan atas kondisi kampus saat ini bukanlah ORMAWA, tapi justru kita semua. Kita sadar kalau ORMAWA tidak demokratis, tapi masih saja mengeluh, merengek, bahkan berharap mereka berubah menjadi demokratis. Kita sadar jika ORMAWA tidak mampu memperjuangkan hak-hak normatif mahasiswa, tapi kita masih saja menunggu mereka untuk berjuang. Bagi saya ini lucu, kita sendiri yang membiarkan para manusia tanpa kepala tersebut menduduki posisi strategis di kampus, tapi kita sendiri yang mengeluh.

Saya kadang berpikir, yang perlu dibereskan terlebih dahulu sebelum membereskan urusan kampus adalah pikiran kita masing-masing. Jangan-jangan kita sebenarnya belum paham ORMAWA itu benda apa, tapi langsung secara membabi-buta kita kritik secara habis-habisan. Alhasil yang ada hanya kebingungan, setelah kritik lalu mau apa?

Menurut saya pribadi, daripada buang-buang energi untuk mengeluhkan sepak terjang ORMAWA yang sudah cacat sejak dalam pikiran, lebih baik waktu yang kita punya dipakai untuk memikirkan bagaimana cara membangun kekuatan alternatif yang murni representatif terhadap seluruh mahasiswa sehingga mempunyai posisi tawar terhadap birokrasi kampus.

Contoh eksperimen mahasiswa UGM saya kira bisa sedikit menjadi pelajaran. Beberapa waktu lalu di UGM berlangsung pemilihan umum mahasiswa (Pemilwa) untuk memilih pengurus ORMAWA. Dalam dinamika internal di UGM, muncul gerakan boikot Pemilwa dan boikot ORMAWA karena dianggap tidak demokratis. Karena dinilai tidak demokratis, mahasiswa yang memboikot menawarkan sistem baru dalam struktur ORMAWA yang dipandang lebih representatif terhadap seluruh mahasiswa.

Sistem tersebut berbentuk collective collegial, di mana tampuk kekuasaan secara umum yang tadinya dikuasai satu orang, kini dikuasai oleh para mahasiswa dari perwakilan tiap fakultas. Artinya, kepengurusan ORMAWA tidak dipimpin oleh satu orang tapi oleh banyak orang yang nantinya akan disebut Dewan Presidium. Dewan Presidium ini dipilih dengan mekanisme musyawarah atau voting oleh seluruh mahasiswa dari tiap fakultasnya. Nantinya orang terpilih itulah yang akan menjadi wakil dalam Dewan Presidium.

Model collective collegial inilah yang dipakai oleh KPK dalam struktur kepengurusannya. Tawaran sistem baru ini sayangnya gagal dipraktikan di UGM, entah apa penyebabnya saya tidak tahu. Karena tawaran sistem baru tidak berhasil, alhasil sistem ORMAWA di UGM hari ini masih sama seperti dulu. Model Collective collegial biar pun terlihat demokratis, tapi sebenarnya tidak terlalu demokratis juga. Banyak celah yang patut dikritisi di dalamnya, namun biar begitu eksperimen soal bentuk alternatif ORMAWA di UGM patut dihargai oleh semua pihak.

Apa yang terjadi di UGM, dapat menjadi pembelajaran penting bagi kita yang ada di UIN. Bila kita menganggap ORMAWA tidak demokratis dan tidak mampu membawa kepentingan mahasiswa, lebih baik kita tidak hanya berhenti pada tataran kritik, keluhan, atau pun debat di media sosial dan warung kopi. Harusnya kita sudah mampu menawarkan bentuk baru mengenai sistem ORMAWA di kampus. Atau bagi yang merasa ORMAWA tidak penting seperti saya, lebih baik kita memikirkan membangun kekuatan alternatif di seluruh mahasiswa untuk menyikapi berbagai persoalan di kampus, daripada kita juga ikutan sibuk memikirkan ORMAWA yang sudah nyebelin sejak dalam pikiran.

 

 

* Mahasiswi BKI, pecinta komik dan pengagum hujan.

[1] https://lpmrhetor.com/2017/03/ormawa-dan-pekerjaan-rumah-yang-belum-selesai.html

 

Editor: Ika Nur K.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan