Menjadi Pejuang Keberagaman


 Oleh Sarjoko
Di penghujung tahun 2009 lalu, presiden keempat Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpulang ke hadapan Tuhan. Kepergian guru bangsa itu disambut dengan duka cita dari  berbagai kalangan. Terutama bagi kalangan minoritas, kepergian Gus Dur merupakan pukulan yang sangat berat.Hal ini sangatlah wajar, sebab Gus Dur merupakan orang yang sangat lantang dalam menegakkan keadilan konstitusional bagi seluruh warga Negaranya. Pada tahun ini warga Negara Indonesia memperingati haulnya yang kelima.
Salah satu yang paling diingat dari sosok Gus Dur adalah perjuangannya dalam merawat keberagaman. Indonesia yang berpenduduk hampir tiga ratus juta jiwa ini pasti memiliki keragaman budaya, suku, bahasa ibu, agama dan lain sebagainya. Tentulah keseluruhannya itu tidak perlu diseragamkan. Sebagai warga Negara, tugas kita mengawal agar negara ini memberikan kewajibannya dalam menyejahterakan seluruh warganya. Prinsip kesetaraan dan keadilan inilah yang menjadi salah satu konsep dasar pemikiran Gus Dur.
Gus Dur menentang dominasi mayoritas yang menindas. Oleh karenanya, penganut agama Konghucu yang awalnya dipersulit dalam melakukan ibadah dan kegiatannya, kemudian agama tersebut dilegalkan oleh pemerintahan Gus Dur menjadi agama resmi Negara yang keenam. Sejak saat itu pula etnis Tionghoa di Indonesia memiliki kedudukan yang sama dengan etnis lainnya. Mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dalam menjalankan kegiatannya, sebab dewasa ini berbagai kesenian Tionghoa seperti Barongsai justeru menjadi kesenian yang digemari masyarakat. Berkat perjuangannya merawat kebegaraman ini, Gus Dur kemudian dikenal sebagai sebutan bapak pluralisme.
Spirit perjuangan Gus Dur harus tetap menyala demi menjaga keutuhan Bangsa ini. Betapa tidak, akhir-akhir ini kita sering mendengar peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kasus intimidasi dan kekerasan merajalela tanpa mampu ditangani secara baik oleh aparat yang berwenang. Ironisnya, aparat seringkali tidak berada di pihak yang perlu dibela. Perlu langkah serius agar kedamaian bangsa yang sudah dirajut sekian tahun lamanya tetap terpelihara.
Bagaimana caranya? Caranya tidak terlalu sulit. Orang-orang yang melakukan intoleransi jumlahnya tidak lebih banyak dari orang yang menghendaki keberagaman. Bahkan bisa dikatakan jumlahnya sangatlah sedikit. Akan tetapi mengapa suara mereka dapat terdengar lantang, sebab media berperan dalam ‘mengiklankan’ gerakannya. Berita perusakan, teror, intimidasi dan sebagainya dianggap memiliki nilai berita yang tinggi. Di samping itu, gerakan-gerakan yang berjuang memelihara keberagaman sebenarnya tersebar di mana-mana. Akan tetapi media seringkali luput meliputnya. Perlunya sinergi antara para pejuang keberagaman dan pelaku media menjadi salah satu kunci dalam menanggulangi gerakan intoleransi.
Ibarat sapu lidi, gerakan keberagaman merupakan lidi-lidi yang tersebar di mana-mana. Satu batang lidi akan sulit digunakan untuk menyapu. Namun jika disatukan, tentu saja lidi tersebut menjadi kuat dan efektif dalam menyingkirkan kotoran-kotoran. Ketika gerakan intoleran lantang menyuarakan gagasannya, maka tak ada alasan bagi pejuang keberagaman untuk tidak melakukan gerakan serupa bahkan yang lebih besar. Dalam hal ini, mahasiswa haruslah siap untuk berada di barisan terdepan. Seperti Gus Dur, mahasiswa juga harus berani membela mereka yang ditindas oleh ketidakadilan.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan