Menilik Isu Toleransi di Dinding Yogyakarta Lewat Pertunjukan Parsipatoris Kelas Tambahan

lpmrhetor.com – Malam itu, Minggu (9/12), kanvas-kanvas bercat lukisan ditata rapi di koridor Kampus 1, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kanvas-kanvas lukisan tersebut menyambut kedatangan peserta pentas Kelas Tambahan yang diadakan oleh ON Project, salah satu proyek seni dari program hibah residensi seni Solidifying Religious Freedom in Indonesia (SOLOD-ID). Dengan menambahkan ornamen benang-benang yang dibuat sedemiian rupa hingga membentuk serupa dreamchatcher, saya merasa akan menghadiri sebuah pertunjukan yang spektakuler.

Setelah berjalan ke ruang kelas K.10, sudah ada puluhan orang yang duduk di koridor depan kelas. Di sini, saya mulai bingung dengan pentas yang diselenggarakan ON Project ini. Pasalnya, setting tempat pertunjukkan teater tidak seperti teater pada umumnya. Berbekal ruang kelas dan tanpa pendukung properti apapun.

Memasuki ruang pentas Kelas Tambahan, tak ubahnya seperti memasuki ruang ujian SBMPTN. Dingin. Lengkap dengan udara AC yang langsung saja menusuk kulit. Di dalamnya, meja-meja ditata serupa ruang ujian, meja dan kursinya ditata dengan jarak yang cukup, sehingga peserta tidak bisa menyontek. Tak ada panggung. Tak ada lampu sorot. Tak ada tribun khusus penonton. Benar-benar laiknya ruangan kelas bias hanya saja tanpa mahasiswa.

Ragu-ragu saya duduk di salah satu bangku di bagian belakang. Di atas meja depan saya sudah ada satu buah pena yang diletakkan horizontal, begitu pun dengan meja peserta lainnya. Dalam kelas mulai terdengar para peserta berbisik-bisik ribut bertanya-tanya sebenarnya apa ini?

Saya sendiri pun bertanya-tanya namun seperti sudah menebak. Saya ditipu! Saya yakin sekali nanti kami para peserta akan diberi soal dan disuruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam soal tersebut.

Kelas tiba-tiba diam karena ada seseorang yang membuka pintu kelas sambil membawa tas kantor dan amplop berkas. Ia kemudian duduk di tempat duduk dosen. Seluruh pandangan langsung tertuju kepadanya.

“Selamat malam anak-anak!” sapanya lantang seolah-olah ia memang seorang dosen yang hendak membuka sesi pertemuan di kelas.

“Malaaaaaamm!” jawab kami serentak sambil mengulum senyum. Aah, begitu, kami diajak bermain sandiwara!

Kemudian seseorang yang berperan sebagai dosen tersebut mulai mengabsen kami satu-persatu. Usai mengabsen ia mengucapkan terimakasih karena berkenan hadir untuk Kelas Tambahan pada malam itu yang katanya juga untuk kepentingan kami agar mendapat nilai tambahan.

Layaknya dosen pada umumnya,sebelum memulai kelas ia memberi intro sebelum kelas dimauli. Basa-basi yang sebenarnya tidak basi juga.

Ia bercerita ada sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak lelaki. Alkisah, keluarga kecil tersebut berkunjung ke rumah kakek dan nenek di desa. Sesampainya di sana sang anak mengajak sang nenek untuk bermain game angry bird yang biasa ia mainkan.

Nenek diajarkan cara menembak untuk membunuh para babi hijau yang tertawa-tawa menyebalkan di seberang para burung.

Kemudian nenek bertanya, “Kenapa si burung harus membunuh si babi?”
Sang anak menjawab, “Karena babi mencuri telur-telur burung, nek”

“Apa lantas jika si babi mencuri maka ia pantas untuk dibunuh? Lalu kenapa juga sang burung harus bunuh diri demi membunuh si babi?”

Kemudian dosen menjelaskan bahwasannya game ini menggambarkan sifat dasar manusia yang suka menghancurkan dan membunuh. Dengan game ini manusia seolah diberi ruang untuk menumpahkan hasrat menghancurkan dan membunuh tersebut.

“Secara tidak sadar dengan bermain game ini sama saja artinya kita melalukan semangat teroris fundamentalis.”

Seisi ruangan hanya diam dan memikirkan game angry bird ini. Tak lama kemudian kami diberi beberapa lembar soal pilihan ganda. Kami hanya diberi waktu 15 menit untuk menyelesaikan soal-soal tersebut.

Semua soal menceritakan tentang kasus-kasus dan fenomena intoleransi yang terjadi di Yogyakarta dengan pilihan jawaban yang saya pikir tidak sesuai dan bahkan tak ada jawabanya sama sekali.

Salah satu soalnya, “Abdur mencari kos-kosan. Selama ini ia menumpang tidur di kos teman sedaerah yang sama dari Timur. Di depan sebuah gang ia menemukan sebuah iklan terima kos-kosan. Abdur menghubungi nomer yang tertera di bawahnya. Masih ada kamar kosong, kata si pemilik. Abdur membuat janji dan berkunjung sore harinya. Tetapi ketika si pemilik bertemu abdur ia mengatakan semua kamar sudah penuh?
Apa yang harus diperbuat Abdur?
a. Menyelengarakan seminar bertemakan keragaman
b. Mencari tempat nongkrong 24 jam
c. Menginap di home stay sampai lulus kuliah
d. Operasi plastik
e. Pasrah dan berserah diri

Sepanjang mengerjakan soal saya terkekeh geli dengan pilihan jawaban tersebut. Saya seolah-olah diberi ruang untuk kembali berpikir mengenai soal-soal tersebut. Tentang bagaimana kita melihat isu-isu intoleransi yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selesai mengerjakan, soal kemudian ditumpuk dan dosen keluar dari kelas. Setelah keluar ruang, kami digiring ke luar dan duduk melingkar untuk mendiskusikan apa yang baru saja ON Project suguhkan di ruang kelas.

Di bawah temaram lampu kampus, Yoshephine Wastu Pajnaputri atau biasa dipanggil Puput, membuka diskusi dengan menceritakan bagaimana proses kreatif pentas Kelas Tambahan. Ia mengatakan bahwa pentas tersebut merupakan presentasi dari riset pada gambar-gambar di baleho, mural, dan grafiti yang ada di jalan-jalan Yogyakarta. Gambar-gambar yang di riset berfokus pada gambar yang mewakili soal toleransi dan keberagaman.

“Ide awal yaitu bikin presentasi apa yang mewakili toleransi. Beberapa bulan yang lalu banyak juga ada ujaran kebencian,” ujar Puput menjelaskan.

Ia juga menjelaskan dalam leaflet yang dibagikan bahwa ujaran-ujaran tersebut banyak ditemukan di ruang publik. Ruang publik dipilih karena kepemilikan ruang ini tidak terbatas pada satu atau dua person/institusi, melainkan terbuka untuk masyarakat umum. Ruang pulik dapat menjadi platform bagi masyarakat untuk menyuarakan kegundahan tanpa tuntutan kewajiban mempertanggujawabkan.

ON Project mengelompokkan temuannya ke dalam delapan kategori, di antaranya keragaman, nasionalisme, keistimewaan, konflik lahan, konflik suku/daerah, agama, subsersif, dan lain-lain. Habiburrahman, koordinator riset ON Project, mengatakan bahwa gambar-gambar di jalanan tersebut beberapa di antaranya juga merepresentasikan kekerasan yang mewujud dalam berbagai bentuk.

“Ada spanduk berbunyi “Anda Sopan Kami Segan” di antara spanduk berisi pengusiran. Keadaban atau sopan santun kerap ditumpangi kekerasan. Sebab anda tidak sopan, urusan jadi runyam,” jelasnya dalam esai Nilai dan Identitas dalam Kekerasan di Jogja.

Adanya ujaran tersebut rasa-rasanya tidak terlepas dari banyaknya pendatang di Yogyakarya. Masyarakat urban yang datang dari berbagai latar belakang kemudian seolah-oleh sedang saling adu kekuatan identitas kelompoknya masing-masing. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh Gabriela Melati Putri, bahwa di tengah ramainya pendatang di Yogyakarta yang punya ragam latar belakang agama, suku, daerah, bahkan kewarganegaraan, narasi-narasi yang mencuat tidak sedikit yang memunculkan sentimen yang ditujukan pada kelompok-kelompok etnis/daerah/agama tertentu.
“Tak meletup-letup, tapi muncul dan hilang,” imbuhnya.

Serupa dengan Gabriela, Ahmad Jamaludin, salah satu angota ON Project juga mengatakan bahwa, “Sampai taraf ini, pertempuran wacana di dinding kota telah mendokumentasikan konflik kepentingan dari beragam kelompok yang mendiami kta. Konflik ini sesekali telah menjelma menjadi kekerasan fisik seperti terjadi dalam demonstrasi di pertigaan jalan UIN Sunan Kalijaga.”

Pada akhirnya, perbedaan identitas akan senantiasa menjadi bara dalam sekam. Pemahaman akan nilai identitas dan nilai masing-masing akan membantu dalam hubungan sosial.

“Kita membutuhkan sebuah konsep yang lebih mendasar, yakni bumi bersama untuk hidup.” []

Reporter: Nadia Nur Hasanah

Editor: Fiqih Rahmawati

You may also like

Marco Kartodikromo, Satria Sejati yang Sebenarnya

“Saya berani bilang, selama kalian rakyat Hindia, tidak