Ragam Derita Mahasiswa Bidikmisi UIN Jogja

Nawesea (Dokpri).

Fia sering mandi di masjid kampus karena air di kamar mandi Nawesea jarang mengucur. Selain itu, ia juga diancam Drop Out jika kedapatan terlibat demonstrasi.

lpmrhetor.com – Pada Minggu (18/11/2018) tepat pukul 22.30 WIB, Fia (bukan nama sebenarnya) telah berdiri di depan gerbang besi setinggi 1,2 meter dengan lebar hanya setengah meter. Di belakang gerbang, tembok bata setinggi pinggang orang dewasa membentang sepanjang pondok.

Gerbang itu adalah satu-satunya jalan untuk masuk ke kawasan Pondok Pesantren Nawesea, beralamat di Jl. Wonosari Kilometer 7,9 Sekarsuli RT 5/RW 23 Yogyakarta. Salah satu Pondok Pesantren (PP) yang terintergrasi dengan UIN Sunan Kalijaga untuk program wajib mondok. Hari itu adalah hari yang kesekian kalinya Fia menjalankan program wajib mondok di Nawesea dari 365 hari pemrograman.

Malam itu untuk pertama kalinya Fia pulang sangat larut. Di hadapannya terlihat gerbang pondok telah diikat gembok besi yang menggantung pada sisinya. Padahal barang bawaan Fia berupa dua tas jinjing ukuran sedang dan tas ransel merah marun berisi laptop, menggantung di pundak. Tas jinjingnya berisi peralatan mandi, baju ganti, beserta dalaman, dan satu biji mangga pakel.

Malam itu Fia bermalam lagi di Nawesea setelah beberapa kali sebelumnya sering pulang pergi ke Pondok Wahid Hasyim di Nologaten. Ya, Fia juga seorang santri di pondok pesantren tersebut. Namun, pasca Rektor UIN Sunan Kalijaga menetapkan program wajib mondok, Fia dipaksa tinggal di Nawesea dan diwajibkan keluar dari Wahid Hasyim yang jaraknya puluhan kali lipat lebih dekat dengan kampus ketimbang pondok barunya.

Malam semakin gelap, tetapi wajah Fia belum menampakkan rasa paniknya, karena ia masih memiliki harapan menghubungi temannya yang berada di dalam pondok, dengan ponsel pintar berdaya 47 % di tangannya.

Belum sempat Fia mengetik pesan kepada teman pondok, tiba-tiba tangannya yang bersandar di handel gerbang tak sengaja mendorong. Pintu gerbang terbuka. Ternyata belum dikunci. Dia meringis menyadari keteledorannya.

Bawaan Fia berupa baju ganti dan peralatan mandi adalah hal kesengajaan. Sengaja membawa peralatan mandi ke PP Nawesea karena mengetahui bahwa air di pondok itu sering mati. Bahkan terlalu sering. Kalau air sudah mati tak ada fungsi lagi tuk mengantre mandi, Fia akan membawa perlengkapannya ikut ke kampus dan mandi di masjid kampus sebelum jam kuliah mulai.

Pokoknya Nawesea

Alasan kenapa Fia bolak-balik Wahid Hasyim-Nawesea karena kebijakan yang diterapkan Rektor, melalui Wakil Rektor III, kemudian Wakil Dekan III Bagian Kemahasiswaan di Fakultasnya, yang meminta untuk semua anak Bidikmisi diwajibkan mondok di Nawesea.

Fia merupakan salah seorang penerima Bidikmisi dari sebuah Fakultas di UIN Sunan Kalijaga yang sudah lebih dulu mondok di Wahid Hasyim. Di Wahid Hasyim, Fia sudah membayar uang pondok untuk satu tahun yang terhitung sejak September. Namun, Bidikmisi mengharuskannya melaksankan wajib mondok ke Nawesea.

Hal ini serupa dengan apa yang menjadi kebijakan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Namun, saat diklarifikasi, Abdur Rozaki, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi sulit dihubungi. Bahkan, kontak WhatsApp wartawan lpmrhetor.com nampak diblokir olehnya.

Pada 3 November 2018, sebanyak 149, dari jumlah keseluruhan 200 anak penerima Bidikmisi, dipindahkan secara massal menggunakan bus dari gedung PAU ke pondok pesantren Nawesea. Hari itu sebagian barang-barang Fia dipindahkan ke Nawesea, dan sebagiannya lagi masih ditinggal PP Wahid Hasyim, karena ia ingin menghabiskan satu tahun pembayarannya.

Pembagian ruangan di awal kedatangan belum dikondisikan. Ketika Fia sampai, bagian kamar putri mana yang kosong cepat-cepat ia isi. Belum ada kasur, bantal, dan lemari, hanya tas dan barang bawaan Fia taruh di lantai sebagai penanda “di sini sudah ada yang isi”. Hari itu Fia mendapat ruang kamar timur di lantai tiga.

Program wajib mondok yang dicanangkan oleh UIN sendiri memiliki beberapa kriteria. Kriteria mahasiswa UIN yang diwajibkan mondok adalah mahasiswa penerima Bidikmisi, mahasiswa yang belum mondok, mahasiswa dari prodi umum, dan mahasiswa lulusan SMA/SMK. Kriteria ini mulai berlaku pada angkatan mahasiswa 2018.

Tiap fakultas memiliki; 21 orang penerima Bidikmisi dari Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, 30 orang dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 10 orang dari Fakultas Syariah dan Hukum, 13 orang dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, 22 orang dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, 35 orang dari Fakultas Sains dan Tekhnologi, 2 orang dari Fakultas Sosial dan Humaniora, dan 16 orang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Namun anehnya, mahasiswa Bidikmisi yang berasal dari Fakultas Saintek dan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, keseluruhannya wajib dipondokkan di Nawesea. Tak terkecuali mahasiswa yang sudah lebih dulu mondok di tempat lain, mau tidak mau harus juga pindah ke Nawesea seperti halnya yang terjadi pada Fia.

Fakultas Saintek memiliki 35 orang penerima Bidikmisi. Seluruhnya diwajibkan tinggal di Nawesea. Hal itu seperti diiklarifikasi langsung kepada WD III Saintek, Ja’far, yang mengatakan bahwa memang benar anak-anak Bidikmisinya mondok di Nawesea. Selain satu orang yang diberikan dispensasi, karena lebih dulu mondok tahfidz selama 3 tahun.

Nawesea demi lulus tepat waktu

Ja’far mengatakan bahwa Saintek merupakan salah satu fakultas dengan praktikum-praktikum yang terkadang selesai sampai pukul 17.00 WIB hingga 18.00 WIB. Sehingga jika anak Bidikmisi saintek mondok di luar Nawesea, tentu banyak jadwal pondok yang harus diikuti, yang akan mengganggu kebutuhan praktikum, seperti 16.00 WIB harus kembali ke pondok, mengikuti sholawatan rutin, dan lain sebagainya.

Masalah-Masalah tersebut menurutnya dapat ditanggulangi di Nawesea mengingat pondok tersebut adalah milik rektor.

Ja’far juga mengingat-ingat presentase kelulusan tepat waktu mahasiswa penerima Bidikmisi tidak sampai 50%, di mana hanya 35% dari anak Bidikmisi yang dapat lulus tepat waktu. Sehingga, menurutnya, ketika para mahasiswa Bidikmisi di fakultasnya disatukan dalam satu pondok, maka akan lebih mudah mengontrolnya.

Dihisap transportasi

Sementara Muadi, Ketua Bidikmisi Angkatan 2018, justru merasa keberatan dengan adanya kebijakan wajib pondok di Nawesea. Mengingat jarak Nawesea dengan kampus terhitung jauh, ditambah biaya pondok yang dirasa cukup mahal, dengan fasilitas yang masih dianggap jauh dari kata layak.

Apa yang dikatakan Muadi memang masuk akal. Jika dihitung-hitung, pengeluaran mahasiswa penerima Bidikmisi yang dipaksa tinggal di Nawesea sangatlah besar dan memberatkan. Seperti diketahui, setiap mahasiswa Bidikmisi UIN menerima uang sebesar Rp6,6 Juta per semester.

Kemudian, dana itu akan digunakan untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp2,4 Juta, biaya pondok sebesar Rp2,4 Juta, dan sisanya sebesar Rp1,8 Juta, atau Rp300.000 per bulan, jika dipecah ke periode bulanan.

Uang sisa itulah yang akan digunakan untuk makan dan transportasi. Sedangkan, sebagaimana pengamatan lpmrhetor.com, biaya yang dihabiskan untuk transportasi Nawesea-UIN adalah sekitar Rp20.000 per hari jika menggunakan ojek online, atau Rp10.000 per hari jika menggunakan kendaraan sendiri. Belum lagi untuk membeli makan, mengingat Nawesea tidak memberikan jatah makan untuk para santri-santrinya.

Nawesea masih seadanya

Penderitaan para penerima Bidikmisi tidak sampai di situ. Seperti dikatakan Muadi, fasilitas Nawesea masih jauh dari kata layak. Untuk memverifikasi statement tersebut, Ina Nurhayati, wartawan lpmrhetor.com, mengunjungi langsung kawasan pondok pesantren Nawesea pada bulan November.

Kawasan Pondok Pesantren Nawesea terdapat enam bangunan utama. Ada kantor administratif, perpustakaan mini, ruang kelas TK, SD, SMP, pondok laki-laki, pondok perempuan, kamar mandi, dan jemuran. Hampir keseluruhan warna bangunannya abu-abu, karena belum dicat. Kecuali bangunan deret kantor administratif, perpustakaan mini, dan ruang kelas SD sudah dicat warna hijau cerah.

Pemandangan sawah terhampar di sekitar kawasan pondok, dari jemuran di lantai tiga bangunan sisi barat. Kalau cuaca sedang cerah, biasanya sunset bisa terlihat dengan mudah, dan hamparan perbukitan, juga dipadati oleh rumah penduduk sekitar.

Untuk menjangkau kawasan pondok pesantren Nawesea tidak sulit. Jika menggunakan aplikasi ojek online dengan tujuan SMP Sunan Averoes sudah bisa diantar sampai depan gerbang.

Saat itu pukul 17.00 WIB, di halaman masjid, para santriwan terlihat sangat asyik bermain bola, dengan sandal jepit sebagai batas gawangnya. Hamparan sawah yang telah lama dipanen, membawa suasana sekitar pondok yang hening jauh dari klaskon-klakson kendaraan seperti di perkotaan.

Suara kendaraan roda dua, roda empat, bahkan roda delapan, dari Jl, Wonosari sama sekali tidak terdengar. Teriakan oper kanan, oper kiri, sorakan gol mendominasi keramaian di kawasan pondok sore itu.

Menjejakkan kaki kali pertama di Nawesea padangan mata langsung tertuju pada tumpukan pasir di depan bangunan yang memunculkan asumsi kalau pondok ini masih dalam tahap pembangunan. Hingga saat kemudian kaki melangkah lebih jauh ke dalam, asumsi itu akhirnya dibenarkan dengan pemandangan tumpukan-tumpukan sak semen, gunungan pasir, pralon, peralatan tukang bangunan, ditambah dominasi warna bangunan yang abu-abu.

Kemudian Ina menuju ke sebuah bangunan berwarna abu-abu. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai. Lantai satu merupakan ruang proses belajar mengajar tingkatan SD dan SMP, sementara lantai dua dan tiga merupakan ruang kamar bagi santriwati.

Dari lantai satu ke lantai selanjutnya, akses dihubungkan dengan anak-anak tangga yang juga belum sepenuhnya selesai, dasarnya masih semen dengan besi pada tepinya sebagai pegangan. Di lantai dua pondok itu terlihat beberapa kamar yang berbaris rapi dengan batas teras besi yang difungsikan sebagai jemuran pakaian. Di mana masing-masing kamar dihuni oleh beberapa santriwati.

Di lantai tiga bangunan ini, matahari terbenam terlihat sangat jelas. Sinarnya membias pada dinding-dinding bangunan yang berwarna abu-abu basah, karena sebentar lagi akan gelap. Sementara santriwati terlihat sibuk mengangkat jemuran dan bersiap untuk mengikuti agenda-agenda pondok.

Kemudian Ina ditemani Fia melihat-lihat fasilitas kamar mandi. Ia kaget melihat keadaan kamar mandi yang benar-benar rusak, atau mungkin belum sepenuhnya selesai. Kamar mandi itu tak beratap, sehingga jika hujan turun, air akan masuk bercampur dengan air bak di dalamnya.

Selain itu, kamar mandi yang hanya ada dua kamar itu juga digunakan oleh santriwan dan santriwati secara bersama-sama. Pernah suatu hari Fia sedang mandi, tiba-tiba seorang santri laki-laki menggedor pintu kamar mandi. Sontak ia kaget dan merasa tidak nyaman.

Kamar tidur tak kalah mengenaskannya. Sebanyak 10-20 orang tinggal dalam satu kamar seukuran ruang kelas di kampus. Pakaian-Pakaian kotor terlihat bertumpukan mirip seperti tempat pengungsian bencana alam. Teman Fia, yang juga tidak ingin disebutkan namanya, mengaku sering kehilangan pakaian di sana. Maklum, hampir tiap pakaian santriwati bercampur satu sama lain. Beberapa bahkan harus beralih fungsi menjadi lap kaki karena seringkali berceceran.

Dilarang berekspresi

Hak kenyamanan para mahasiswa penerima bidikmisi yang dipaksa tinggal di Nawesea sudah direnggut, sudah begitu kampus juga merenggut hak berekspresi dan berdemokrasi. Fia mengaku Wakil Dekan III nya, Abdur Rozaki, pernah mengancam para mahasiswa penerima bidikmisi untuk tidak terlibat dalam aksi demonstrasi apapun. Katanya Rozaki mengancam akan mencabut status bidikmisinya jika salah satu mahasiswanya kedapatan terlibat dalam sebuah aksi.

Hal itu menurutnya yang membuat mayoritas mahasiswa penerima bidikmisi tidak mampu banyak bicara perihal segala macam ketidaknyamanannya. Mereka khawatir statusnya dicabut. Bahkan, FIa mengatakan bahwa Rozaki mengancam akan men-drop-out mahasiswa penerima bidikmisi jika kedapatan melawan atau terlibat demonstrasi.

Menyikapi berbagai ketidaknyamanan tersebut, Yudian Wahyudi, Sang Rektor, justru memberikan statement yang kabur. Menurut Yudian, segala ketidaknyamanan tersebut merupakan bagian dari perjuangan yang seharusnya dihadapi para mahasiswa. Yudian bahkan berkali-kali menyebut Harvard sebagai iming-iming para santri Nawesea.

Menurut Yudian, program di pesantren nya bisa diunggulkan dan dapat menjadi jaminan bagi para mahasiswa agar dapat bersaing di kancah global. Jika wartawan lpmrhetor.com menyebutkan ketimpangan-ketimpangan persis seperti yang dijabarkan di atas, maka Yudian akan kembali membahas perjuangannya dulu saat berangkat ke Harvard, dan selalu menampik berbagai ketidaknyamanan tersebut.

Hingga kini, Fia bersama ratusan mahasiswa lainnya hanya bisa tegar dan mengikuti segala apapun yang diinginkan kampus. Menurutnya ia harus sabar menghadapi kenyataan demikian hingga tahun depan. Sampai masa wajib pesantren yang diprogramkan oleh kampus selesai.[]

Reporter: Ina Nurhayati dan Naspadina

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Soal Black Campaign, PKR Membantah dan KPU Tidak Peduli

Beredar selebaran black campaign, KPUM tak mau ikut