Menciptakan Keadilan Melalui Pola Asuh Anak

141
dok/sunan/lpmrhetor

lpmrhetor.com- Patriarki sebagai ideologi atau cara berpikir merupakan permasalahan besar yang perlu kita tangani bersama. Hal tersebut disampaikan oleh Monica Eviandaru Madyaningrum, selaku Dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma dalam acara Diskusi Buku Akhir Penjantanan Dunia: Psikologi Feminis untuk Pembebasan Laki-laki dan Perempuan di Universitas Sanata Dharma. Rabu, (07/12/2022).

Menurutnya, praktik yang menomorsatukan laki-laki di berbagai sektor itu dapat membangun perasaan dominan seseorang terhadap orang lain. Cara berpikir tersebut  kerap melahirkan privilese bagi mereka yang memiliki dominasi. Sehingga, yang didominasi -dalam hal ini perempuan-  merasakan ketidakadilan dan tertekan. Ini sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan mental.

“Jumlah perempuan yang mengalami gangguan kesehatan mental selalu lebih tinggi dari pada laki-laki. Berdasarkan data statistik Amerika Serikat dari tahun 2008-2012. Meskipun saya mengambil data dari luar, pada hakekatnya kecenderungan laporannya itu sama,” ucap Monica.  

Upaya penanganan tersebut lanjut Monica, bisa dimulai dengan pola asuh anak. Orang tua memang seharusnya mengajarkan kenapa anak laki-laki maupun perempuan tentang konsep keadilan. Sehingga sedari kecil mereka tidak merasakan mendominasi atau didominasi.

“Hal ini bagaimana membuat anak [laki-laki atau perempuan] itu memiliki rasa atau bersikap toleransi yang rendah terhadap ketidakadilan,” lanjut Monica.

Senada dengan itu, pembicara dari Rifka Anisa, Amalia Rizkyarini juga mengatakan bahwa terwujudnya kesetaraan gender perlu melibatkan anak laki-laki dan perempuan. Menurutnya, ketika anak perempuan ingin mengerjakan hal-hal yang dilakukan oleh ayah, seharunya tidak dilarang dan begitupun sebaliknya. Hal tersebut akan membangun iklim keadilan di keluarga.

Amalia menambahkan bahwa anak merupakan peniru yang baik. Karena itu sangat penting untuk orang tua menjadi panutan bagi anak. Bagaimana bisa mengajarkan anak laki-laki untuk membantu ibunya bila hal tersebut tidak pernah dipraktekkan oleh ayah dalam mengambil peran tugas domestik di rumah tangga. 

Jadi menurutnya, mewujudkan isu-isu terkait kesetaraan gender, tidak hanya melibatkan peran perempuan saja. laki-laki seharusnya juga turut mengambil andil. Sebab, korban dari praktik patriarki ini juga dirasakan oleh laki-laki. Seperti ketika laki-laki terkena pelecehan seksual, ia cenderung ditertawakan. hal ini terjadi karena tertanam narasi bahwa laki-laki harus kuat dan maskulin. Sehingga sangat mustahil untuk dilecehkan

“Untuk mencapai kesetaraan gender membutuhkan keterlibatan perempuan dan laki-laki. Intinya melibatkan kita semua,” pungkas Amalia. []

Reporter: Sunan Kanjeng Mustofo (Magang)

Editor: Muhammad Rizki Yusrial

You may also like

Dugaan Kecurangan Sistematis pada Pemilwa FDK 2022

Saat Pemilwa berlangsung, informan kami mengirimkan sebuah screenshot