Beranda / Berita / Terkini / JAFF-18 Resmi Dibuka: Pendar Cahaya Asia Berkilau di Nusantara

JAFF-18 Resmi Dibuka: Pendar Cahaya Asia Berkilau di Nusantara

lpmrhetor.com- Setelah menanti hujan reda sejak sore hingga selepas maghrib, Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau JAFF resmi dibuka oleh Ifa Isfansyah, selaku direktur JAFF, sebagian committee JAFF dan juga Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, pada Sabtu (25/11/2023).

Kemudian   dilanjut   dengan   penyerahan   penghargaan   JAFF   Honorary  Awards  kepada Christine Hakim atas dedikasinya selama 50 tahun di dunia perfilman Indonesia dan Asia sekaligus opening ceremony JAFF-18. Acara pembukaan festival film Asia ini juga dimeriahkan Sal Priadi, musisi asal Kota Malang.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival-18 akan berlangsung selama 8 hari, 25 November hingga 2 Desember 2023, di EMPIRE XXI, Gedung LPP Yogyakarta, serta pemutaran film daring melalui KLIKFILM. Berbagai kegiatan akan berlangsung selama festival ini dihelat, mulai dari penayangan film, lokakarya, diskusi, pertunjukan musik, kuliah umum, presentasi laboratorium film & serial, pameran dan bincang buku.

Sejak 2016, JAFF mengusung beberapa tema, seperti “Sinema di Tengah Krisis”,  “Diaspora”,  “Metamorfosa”,  “Homeland”,  “Recovery”,  “Multitude”,  “Re-Dreaming Asia”, dan pada tahun 2023, JAFF mengusung tema “Luminescence”.

Ifa Isfansyah selaku Direktur Festival menjelaskan interpretasi terkait tema yang diusung tahun ini.

“Karakter  film  Asia  akhir-akhir ini semakin dilihat sekaligus semakin kuat. Kita sebagai bangsa Asia, terutama sinemanya, sudah waktunya menjadi sumber cahaya bagi kita sendiri. Namun cahaya itu bukan hanya untuk sinema saja, tetapi juga bagi lingkungan kita. Seperti yang  kita  lakukan  pada  JAFF  tahun  ini  dengan  lebih peduli terhadap masalah sampah,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya dari tahun ke tahun JAFF selalu hadir dengan warna baru, khususnya bagi dunia sinema nasional hingga internasional. Tahun ini JAFF-18 menayangkan 205 film dari  25  negara  Asia  Pasifik,  mulai  dari  film  kompetisi  maupun  non-kompetisi.  Hal  itu dibuktikan hari ini, bagaimana pertumbuhan perfilman di Indonesia telah mampu menandingi negara-negara  seperti  Jepang,  India  dan  China  yang  sudah  menunjukan  kelebihannya di bidang sinema.

“Pada faktanya film-film Indonesia mendapat posisi strategis di festival film besar. Misalnya film Ali Topan, 24 Jam Bersama Gaspar yang akan tayang di Busan.” ujar Ajish Dibyo, Eksekutif Direktur JAFF.

Asia memiliki kekuatan karakternya dalam bidang sinema, seperti Indonesia misalnya, Indonesia memiliki budaya yang jarang dimiliki oleh negara-negara lain dalam cara pandang dan merespons film, misalnya melalui adat istiadatnya.

Ajish juga mengatakan terkait keunikan tema JAFF di Indonesia

“Misalnya  kita  punya  konsep  gotong-royong  yang pada  pandemi  Covid-19 negara besar kolaps kita enggak, eksotisme kita berbeda, karakter kita sekuat itu,” pungkasnya.[]

Reporter: Widad Hafiyan Ustman

Editor: Hifzha Aulia Azka

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *