Sepertiga Malam

Oleh: Naspadina

Malam bercerita
Pada gelap dan pekat
Tentang betapa ia iri pada manusia.

Disorotnya suatu sosok
Dengan jubah seputih kapas.
Cahayanya terus memancar,
Merayapi atap, lalu menyelinap
pada celah-celah jendela
dan pintu yang tak begitu rapat.

Pada satu kesempatan
dicurinya gelap pada jemari yang gemetar,
mulut yang berbisik,
mata sayu nan lembab,
Juga hati penuh harap.

Terang..

Di sepertiga malam
kesunyian sejatinya milik
para cacing-cacing tanah,
Jangkrik, kodok,
juga keluhan manusia pada Tuhannya

Sementara di langit,
Kantor-kantor masih terbuka
dan malaikat kerja lembur.
Syair manja dan luka manusia
di sepertiga malam itu,
harus ditulis dengan rapi
agar tidak tertukar.

Di halaman kantor,
angin bersorak ria,
berlarian diantara awan tebal
Lalu kemudian turun ke bumi
bercampur dengan nafas penuh do’a

Seperti itulah. Hingga bumi terbangun,
dikejutkan oleh cairan bening
Serupa air mata haru dari Tuhan.
sementara sebagian manusia
tetap khusyuk dalam tidurnya.

Entah siapa yang memeras awan
hingga airnya jatuh
dan mengguyur tanah yang lembab,
tersebab air mata manusia di tengah dzikirnya.

Jogja, 9/11/2018

Naspadina adalah wartawan sekaligus pegiat sastra di rhetor. Karya puisinya pernah dibukukan dalam antologi puisi MANDAR Di mata to Mandar

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali