Sambut Hari Santri, Kaum Santri Jogja Adakan Long March

Aksi Long March seluruh santri di Yogyakarta dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018. Minggu (7/10/2018). Dok. Irfan/Rhetor.

lpmrhetor.com – Grebeg Santri Nasioanal yang diselenggarakan di Sepanjang jalan Mailoboro dipadati oleh ribuan santri. Acara in LPi dihadiri oleh berbagai Pejabat Daerah, Pejabat Pemerintah, dan Tokoh Masyarakat, Minggu (7/10).

Pada agenda yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional tahun 2018 itu, para santri menyuarakan aspirasinya melalui yel-yel dan penampilan kekhasan dari berbagai pondok pesantren.

Kaum santri juga menyurakan pesan kedamaian dan kesejukan dengan berbagai macam sholawat dan lantunan lagu-lagu islami ditengah panasnya suhu politik tahun ini.

Pawai Kebangsaan dimulai dari taman parkir Abu Bakar Ali menuju depan kantor DPRD, kemudian melintasi sepanjang jalan Malioboro hingga finish di titik nol kilometer.

Panitia mempersiapkan sedikitnya 40 kontingen dari organisasi masyarakat dan berbagai pesantren di seluruh DIY untuk ikut serta dalam memeriahkan acara ini.

“Grebeg santri hari ini pesertanya dari ada 33 pondok pesantren se-DIY. Dan ditambah oleh beberapa dari organisasi. Sehingga ada 40 kontingen yang ikut pawai,” kata Nilzam Yahya, selaku Humas Grebeg Santri, Minggu (07/10/2018).

Dijelaskan Nilzam, grebeg santri ini kedua kalinya dilaksanakan di Yogyakarta. Acara ini sebagai bagian dari peringatan hari santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober mendatang.

Grebeg Santri Nasional di tahun ini mengambil tema “Merawat Tradisi Menjaga Indonesia”.

Artinya, menurut Nilzam, grebeg santri ini diharapkan menjadi salah satu upaya gerakan santri untuk merawat tradisi semangat perjuangan Hasyim Asy’ari dalam resolusi jihad dan menjaga keutuhan Indonesia.

“Mbah Hasyim, […] mengeluarkan resolusi jihad sebagai bentuk kecintaan kepada Indonesia. Santri harus menjaga tradisi itu,” ungkap Nilzam.

Dia menambahkan, sebanyak 40 kontingen yang berpartisipasi terbagi ke dalam empat kelompok yang masing-masing menandai peran santri dalam empat periode penting sejarah kepesantrenan dan ke-Indonesiaan.

Periode pertama adalah peran santri pada periode pergolakan Pangeran Diponegoro melawan penjajah. Periode ini santri disimbolkan dengan jubah atau surban lengkap dengan keris dan kuda.

Periode kedua, peran santri dalam periode perjuangan KH Hasyim Asy’ari hingga lahirnya Resolusi Jihad yang menjadi tonggak peringatan hari santri tanggal 22 Oktober 1945.

“Periode milenial di tahun ini penandanya dibebaskan dalam arti diserahkan sepenuhnya kepada kreasi peserta. Maka, dalam penampilannya banyak yang unik dan menarik, sehingga masyarakat pun berduyun-duyun berdatangan untuk menyaksikan,” kata Awaluddin, koordinator lapangan.

Selain itu, acara ini juga akan dimeriahkan dengan berbagai macam pentas dan kesenian, pentas budaya dan seniman, hingga panggung seni santri dan tokoh nasional yang akan digelar di Pesantren Krapyak pada 10–12 Oktober 2018 mendatang.[]

Reporter: Irfan Asyhari

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Menuntut UGM Tuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

UGM dituntut menangani kasus Agni secara serius dan