Kebenaran Itu Lebam di Wajah Veronica

Ilustrasi: gstatic.com

Tidak ada yang mampu menghancurkan dinding kejahatan, kecuali dengan memperjuangkan kebenaran.

I RLANDIA sempat tercatat menjadi negara terbesar peredaran narkoba. Tepatnya pada tahun 1994, bukan lagi menjadi isu, tetapi sudah menjadi persolan sentral dan belum ada yang mampu mengentaskan kebiadabannya. Pihak kepolisian maupun pemerintah justru menutup mata terhadap fakta yang sedemikian jelas.

Veronica, seorang wartawan perempuan yang tangguh, berani tampil di tengah-tengah kegemuruhan peredaran barang haram itu, yang seorang polisi pun tak pernah mampu menyentuh perkara tersebut.

Jika banyak dari manusia yang takut ketika realitas berbenturan dengan idealitas, maka contohlah Veronica itu. Profesi yang ia geluti sudah mendarah daging dan menjadi sebuah kewajiban moral yang tak sekadar mempersoalkan material untung-rugi saja.

Mari bersama-sama membuka kembali kajian The Elements of Journalism yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosential. Konsesus tersebut menjelaskan bahwa jurnalisme  memiliki sembilan ketegasan prinsipil. Diantaranya: penyampai kebenaran, loyalitas, disiplin verivikasi, independensi, pemantau kekuasaan, menyediakan forum ruang publik, menarik dan relevan, komprehensif dan proporsional, terakhir, mengikuti hati nurani. (Anom Sarianingsih: 2017).

Saya akan mencoba memblejeti kesembilan prinsip tersebut dalam tindak laku seorang Veronica. Ketika muncul suatu pertanyaan terkait keberpihakan, Veronica tak perlu diragukan lagi. Semuanya sudah bisa dilihat dari orientasi peliputannya, yang itu semua tidak sekadar untuk kepentingan pribadi. Apa yang seharusnya menjadi idealitas seorang jurnalis menurut Kovach dan Rosentiel, telah mampu ia implementasikan dalam menjalankan profesi sebagai seorang wartawan.

Jurnalis adalah penyampai risalah kenabian, yang mana, kebenaran menjadi tujuan pokok dalam mengungkap suatu persoalan, tak terkecuali perkara narkoba yang diusut oleh si Veronica. Kebenaran yang secara fungsional itu, ia perjuangkan hingga harus terjun langsung ke dalam dunia hitam saat melakukan pengusutan kasus. Sering pula ia mengalami intimidasi dan teror. Pun, nyawa menjadi taruhannya.

Berbicara mengenai loyalitas, kepentingan masyarakatlah yang menjadi tujuan utamanya. Dalam film tersebut, sempat ia mengatakan, “Saya sudah nyaman dengan profesi ini. Dari profesi ini, saya bisa membuat suatu perubahan.” kata Veronica dalam sebuah adegan.

Uang bukan menjadi tujuan utama, perubahanlah yang menjadi bidikan gerak-geriknya. Sering ia ditawari dengan sogokan, tapi usaha keji itu tak mampu melumpuhkan kegigihanya sebagai sang penyampai risalah nubuwat.

Jurnalis juga manusia, yang tak lepas dari kelalaian dan keluputan. Pernah juga ia meleset dalam menentukan tersangka pembunuhan terhadap salah satu mafia narkoba terbesar. Tapi apa? Ia tak melupakan prinsip disiplin verivikasi. Mengapa? Karena, mencari suatu kebenaran tak semudah membalik telapak tangan, selesai dan dilupakan. Kebenaran dalam kejurnalistikan menyangkut kepentingan umat (publik). Kesalahan sesepele apapun akan beranak-pinak, yang nantinya malah merugikan banyak pihak jika tidak diverifikasi. Kecerobohan perlu diminimalisir, jika perlu dihilangkan.

Veronica selalu memegang teguh prinsip tersebut. Dalam rangka proses pem-verifikasi-an atas berita yang ia tulis, ia mondar-mandir ke beberapa narasumber yang mampu ia pertanggungjawabkan. Dengan kelincahan dan kegesitannya, nama-nama penjahat narkobapun mudah ia kantongi.

Independensi seorang jurnalis ia pegang teguh, dan menjadi baju harian kewartawanannya. Terkait identitas sosial, gender, ras, suku, maupun agama, ia tanggalkan. Ketika sudah memakai baju wartawannya tersebut, terlihat status keperempuananya tidak menjadi hambatan dalam menemui beragam narasumber. Dari minimalis sampai kriminalis pun, ia rela menceburkan diri dalam kehidupan mereka. Untuk apa? Menjauhkan diri dari sikap apolitis, agar memiliki keberpihakan pada kepentingan umat.

Jatuh bangun pasti mengiringi perjalanan si idealis ini. Tapi itu tak menjadi suatu penghalang ketika Veronica memepertahankan prinsip sebagai pemantau kekuasaan. Karena wartawan tak mampu menyentuh sampai pada ranah perubahan kebijakan yang timpang. Setidaknya, ia mampu memantik adanya gerakan perubahan. Membangunkan kesadaran sekaligus menjadi penyulut propaganda yang mampu membentuk opini publik.

Hal itu nampak ketika Veronica berusaha mengawal persoalan narkoba yang menjangkit para generasi bangsa. Pun sampai ditemukan pengguna narkoba yang masih berusia 14 tahun ketika ia berkunjung ke sebuah panti rehabilitasi. Kasus tersebut dirasa sangatlah berdampak pada kerusakan moral dan juga pemikiran kaum muda pada umumnya.

Seorang wartawan perempuan yang bekerja di media Sunday Independent tersebut juga merupakan seorang penganut setia kritik-otokritik. Ketika berita atau artikelnya dimuat, ia tak segan jika ada balasan dari surat pembaca. Dari kritik-otokritik itu, ia makin berkembang menjadi wartawan yang lebih inovatif dan terbuka bagi kebutuhan publik.

Film yang dibintangi oleh Chale Blanchett ini dengan jelas menceritakan perjalanan media pemberitaan dengan seorang jurnalis profesionalnya. Sebisa mungkin, media ini menjadikan berita informasi menjadi semenarik dan serelevan mungkin. Terlihat dari pengambilan judul yang dipilih oleh Veronica, seperti, Dalam Dunia Kejahatan Si Biksu. tak setengah-setengah ia dalam memberitakan. Dengan sangat berani, ia kerahkan semua diksi-diksi yang bisa mengentaskan persoalan kemanusiaan.

Proporsional dalam proses peliputan dan pemberitaan juga ia aplikasikan. Narasumber demi narasumber ia cari dan selalu ia selidiki. Sedikit pun tak ada kegentaran, walaupun sempat ia merasa sangat ketakutan setelah ia dihajar babak belur oleh Gilligan, si gembong narkoba,

Tidak sampai disitu, perjuangan Veronica mencari kebenaran berita mengakibatkan rumahnya diteror peluru yang menghancurkan kaca rumahnya. Pada malam natal, peluru juga hampir mengenai artileri paha kanannya. Beberapa hari ia pincang akibat penembakan itu.

Shock pasti iya, tapi ia tak mau berhenti akibat teror tersebut. Ia tak mau terlihat menjadi jurnalis yang lemah, apalagi di depan wartawan-wartawan yang lain.

Humanisme ia pegang dan sematkan dalam hati nuraninya. Bahwa, profesi menjadi seorang jurnalis bukan hanya mengedepankan honor semata, apalagi pangkat jabatan, tapi lebih dari itu, kemanusiaan harus dijunjung tinggi. Sampai pada akhirnya, tahun 1996, ia mati terbunuh karena peluru-peluru yang menghujani tubuhnya. Semua itu ulah anak buah bandar narkoba terbesar di Irlandia yang ketakutan kasusnya diungkap di muka pengadilan.

Perjuangan Veronica tersebut tak selesai pada kematiannya saja. Berawal dari kematiannya, dunia pun merasa kehilangan akan sosoknya. Para penduduk Irlandia pun mulai sadar terhadap perkara yang merugikan negaranya itu. Negeri tersebut pun membuka mata dan telinga. Kasus ini menjadi kasus nasional dan segera ditangani. Pelaku-pelaku pun tertangkap di tangan polisi yang dilanjut pada proses peradilan. Hukuman serta penyitaan harta benda milik para pelaku tindak kriminaitas tersebut pun diatur oleh pemerintah. Demikian pula undang-undang mengenai pajak penghasilan yang tidak jelas, menjadi diubah.

Kasus kematian Veronica, sebagai sebuah interpretasi pembunuhan wartawan akibat berita, ternyata terus berulang. Di tahun-tahun setelahnya, hampir sebanyak 196 orang wartawan di seluruh dunia harus mati terbunuh akibat berita yang ditulisnya.

Setiap langkah pasti memiliki konsekuensi logis, termasuk pula sebuah profesi. Dan, segala lini kehidupan manusia pasti menemui pilihan-pilihan, apakah tetap pada idealitas yang mengutamakan pada prinsip kemanusiaan, atau malah hanya mengedepankan realitas yang berkutat pada nafsu duniawi belaka.[]

Septia Annur Rizkia. Demisioner wartawan lpmrhetor.com angkatan tahun 2015. Mantan penjaga gawang bidang PSDM LPM Rhetor tahun 2017/2018.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan