Fenomena Pengemis NIM dan Password Sebelum E-Voting Pemilwa UIN

Sumber: Istimewa

Bisa saja NIM dipinta untuk kebutuhan pendataan E-Voting. Tapi password?

lpmrhetor.com, UIN Sabtu (16/12/2017). Beberapa hari sebelum hari pemungutan suara, banyak oknum yang meminta-minta Nomor Induk Mahasiswa (NIM) lengkap dengan password-nya. Beberapa bahkan mengaku sebagai panitia KPUM. Entah apa maksud dan tujuan mereka. Pastinya, meminta NIM lengkap dengan password-nya merupakan tindakan yang jelas-jelas melanggar privasi. Mungkinkah manipulasi suara?

“Minta NIM sama password-mu buat daftar e-voting,” begitu kata sang pelaku lewat pesan WhatsApp kepada banyak mahasiswa, seperti diakui oleh salah seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya (11/12/2017).

Dalih pendataan

Sebut saja Awang (bukan nama sebenarnya), salah seorang mahasiswa Ushuluddin. Ia menuturkan bahwa sang pelaku memintanya untuk mengumpulkan NIM dan password sebanyak-banyaknya dengan alasan membantu jika malas datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Pelaku mengaku bisa menitipkan NIM dan password itu pada panitia. Namun, Awang tidak menanggapi permintaan sang pelaku karena khawatir datanya bocor.

“Gak tak kasih lah. Coba dipikir, gak etis lah. Ya, cuma buat cari suara, sedangkan itukan privasi. Itu bisa diubah-ubah loh KRS (Kartu Rencana Studi-red) itu ketika orang lain tau [password]. Ya udah, gak saya bales lagi. Maleslah bales lagi, orang gak nggenah kaya gitu,” tuturnya kepada lpmrhetor.com (13/12/2017).

Nampaknya Awang bukan satu-satunya korban. Hendra, mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, bahkan memperlihatkan sejumlah screenshoot chat WhatsApp dari pelaku kepada lpmrhetor.com.

Hendra menuturkan bahwa sang pelaku meminta NIM dan password kepada mahasiswa yang pendiam dan tidak aktif berorganisasi dengan alasan untuk melakukan pendataan.

“Jadi, kebanyakan yang di-chat ini mahasiswa yang benar-benar ‘kupu-kupu’ doang. Itu yang diminta juga agak pendiam. Alasannya untuk mendata mahasiswa. Kan alasannya aneh. Setidaknya dosen yang melakukannya, masak ini,” katanya.

Tindakan melanggar

Apa yang dialami Awang dan Hendra patutnya tidak terjadi. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Shofwatul ‘Uyun, kepala Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD).

Shofwatul mengatakan bahwa penyalahgunaan informasi dalam pemungutan suara elektronik merupakan tindakan yang dilarang.

“Prosesnya itu ketika mau aktivasi harus menunjukkan KTM. Jadi, kalau tanpa KTM, seharusnya gak boleh. Kalo panitianya ada yang kongkalikong kan kita gak tau. Misalkan, ada temannya yang masuk, dan gak bawa KTM, dia aktifkan aja NIM sama password-nya tanpa pengetahuan dia (pemilik KTM), sebenarnya kan tidak  boleh.”

Password patutnya rahasia

Nampaknya, para pengemis NIM dan password itu tidak paham betul bagaimana caranya berbohong. Alasan pendaftaran dan pendataan untuk kepentingan pemungutan suara elektronik dapat diterima jika hanya NIM yang dipinta. Namun, hal itu menjadi janggal saat password yang biasa digunakan untuk login Sistem Informasi Akademik (SIA) dimintai juga.

Wikipedia mengatakan, bahwa password atau kata sandi merupakan kombinasi kata rahasia yang digunakan untuk memverifikasi identitas pengguna agar tidak terjadi kebocoran data.

Dalam laporan Wall Street Journal, Fernando J Corbato, pencipta password, mengatakan bahwa password adalah mimpi buruk bagi para pencuri data (peretas).

“Password adalah mimpi buruk bagi peretas. Bahkan bagi pemiliknya sendiri,” katanya.

Apa yang Corbato katakan menyiratkan bahwa password merupakan benteng yang melindungi pengguna dari praktik pencurian data.

Dalam laporan yang sama, dijelaskan bahwa pada mulanya Corbato membangun sebuah jaringan komputer bernama time-sharing operating system di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 1960-an.

Jaringan tersebut dibangun agar sebuah komputer dapat terhubung dengan komputer yang lain dalam waktu yang bersamaan. Hal ini sama seperti konsep internet pada era sekarang. Namun, jaringan tersebut rentan terhadap pencurian data karena seorang pengguna dapat mengakses komputer pengguna lain dari tempat berbeda. Guna memberikan benteng terhadap kebocoran data, Corbato menciptakan password.

Sebelum Corbato, password telah digunakan oleh militer Romawi berabad-abad silam. Dikutip dari Okezone, tentara Romawi membuat password agar mampu membedakan mana kawan dan mana lawan. Mereka akan memperbolehkan tentaranya masuk ke markas apabila mampu menyebutkan password dengan benar.

Membuka kerahasiaan password pengguna kepada orang lain merupakan tindakan yang bodoh, karena tindakan yang demikian sama saja seperti membiarkan orang lain mengakses data pribadi yang dimiliki oleh pengguna. Demikianlah yang dikatakan Shofwatul.

“Kalo mahasiswa itu memberikan [password] akunnya ke orang lain, risiko akan ditanggung dia. Ya, akunnya [akan] diketahui temannya,” katanya.

Shofwatul juga tidak memungkiri dibukanya kerahasiaan password untuk login SIA dapat berakibat pada bocornya data-data pribadi dalam SIA.

“Data-data pribadi dia di Sistem Informasi Akademik (SIA-red) bisa dibaca oleh orang lain,” tandasnya.[]

 

Reporter Magang: Isti, Itsna, Diana, Naspadina, Darmawan

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW