Khayalan Pojok Kampus (Bagian 3)

Ilustrasi: deviantart.com

Oleh : Doel*

Kulihat jam tanganku sudah pukul sebelas. Aku yakin dia pasti datang, dia pasti membaca secarik kertas yang kutulis. Ah..goblok kamu Raihan mana mungkin dia mau ke kantin bukankah kau tahu sendiri dia tidak pernah ke kantin, dan kau tahu kantin hanya tempat kongkow saja. Lagipula apa pentingnya dia datang kesini, pojok belakang kantin dengan meja melingkar dan kursi usang dipinggirnya, sungguh aku lelaki tolol yang teramat tidak romantis. Meskipun aku tahu dia perempuan yang berbeda dengan perempuan kebanyakan hari ini yang lebih menyenangi tempat berkelas seperti Mcdonald, KFC ataupun semacamnya. Sudahlah biar dia yang memutuskan.

***

Sekarang Raihan pasti sudah di kantin, entah apa yang harus aku katakan. Ah..sudahlah aku terlalu banyak berharap, toh sebelumnya aku sudah pernah ngobrol dengannya, ya.. Walaupun tidak ngobrol berdua. Sekarang aku berjalan menuju pojok belakang kantin mudah-mudahan aku tidak telat.

***

Sinta, dia menuju kemari. Berarti ia membaca secarik kertas itu. Sekarang dia semakin dekat menghampiri tempatku duduk, dipojok belakang kantin. Kakinya mulai menapaki anak tangga, sekarang kulihat ujung bibirnya sedikit terangkat. Ya, memang begitulah pantasnya kau tetap dengan senyumanmu tanpa itu kau bukanlah Sinta yang aku kenal. Sekarang dia duduk di depanku, baiklah Raihan jangan terus kau pecundangi dirimu, bicaralah, jujurlah, jangan kau bungkam nuranimu.

“Sudah lama nunggu ya? Maaf soalnya tadi baru selesai ngumpulin tugas dulu’’ ujar Sinta.

“Santai aja, aku juga baru nyampe” jawabku, hah kenapa kalah cepat selalu dia yang memulai obrolan, kemana nyaliku ? Apa memang karena kehangatan pribadimu hingga membuatku kikuk didepanmu. Rasanya berbeda sekali berhadapan denganmu, berbeda dengan perempuan lainnya yang sering kutemui.

“Oh, ya Raihan. Tadi ada secarik kertas ditanganku, ini kertasnya” Sinta menunjukan secarik kertas yang dimaksud.

  Kutunggu jam istirahat

  Di belakang kantin

“Ada apa? Kok gak biasanya?’’ lanjutnya.

Oh mati aku, tak kukira ia akan bertanya soal secarik kertas itu. Tapi ini memang tujuanku untuk berbicara empat mata dengangannya, dan ini yang aku inginkan dari sejak pertama mengenalnya dua tahun lalu. Tapi jangan sampai mulutku lebih dulu mengungkapkan isi hatiku kalau aku mencintaimu Sinta, jangan,,jangan dulu!! Aku begitu menghormatimu kalau kuucapkan sekarang mungkin kau akan menganggapku menilaimu terlalu rendah. Tapi andai aku bisa melihat isi dadamu, ingin sekali tahu apa kau juga merasakan hal yang sama.

“Tadi ngumpulin tugas apa?” tanyaku

“Tugas mata kuliah metodologi pengembangan masyarakat’’

“Bukannya itu salah satu mata kuliah yang cukup rumit?” tanyaku lagi, semoga saja dengan ini, pertanyaannya tadi teralihkan, oh..aku belum bisa menjawabnya.

“Tidak juga, sebenarnya mata kuliah jurusan kita tidak ada yang rumit. Hanya saja sering dibuat rumit dengan tuntutan tugas. Lihat saja banyak mahasiswa yang sering ketar-ketir mengerjakan tugas, mencari tumpukan buku di perpustakaan hanya untuk dijadikan catatan kaki di makalah agar nilai tidak turun, tanpa benar-benar memahami isi dari apa yang dibaca”

“Bukannya itu bagus, mengerjakan tugas dan nilai tetap terjaga. Itu artinya mahasiswa bisa cepat lulus dan setelah itu mendapatkan pekerjaan’’lanjutku.

“Mungkin benar, tapi semudah itukah Raihan ? Dosen-dosen sering menceritakan kesuksesan alumni-alumni jurusan kita si A, si B, bahkan menghadirkan mereka dalam seminar-seminar jurusan, tapi itu mereka yang mungkin satu dari puluhan mahasiswa yang lulus setiap tahunnya. Lalu bagaimana nasib mereka yang menjadi pengangguran ? Selain itu ruang kelas menjadikan kita untuk mengikuti logika mereka (dosen), mengidealkan manusia menurut imajinasi mereka,  yang sebenarnya lebih kebanyakan ngawur, dan kita dibuat mengangguk menerima”

‘’Sinta, teruskan ceritamu’’ pintaku. Inilah yang kukagumi dari dirimu, dan aku yakin ceritamu yang tak mungkin di dengar dosen-dosen itu adalah jerit kejujuran, yang sebenarnya setiap mahasiswa lainnya juga merasakan namun naif terhadap dirinya. Teruskan..Teruskan Sinta ceritakanlah,  dari sinilah aku bisa mendegar lebih jauh tentangmu, tentang tabir kemunafikan yang sengaja dibungkam dengan kepatuhan buta.

Sinta sesekali menatapku,  mungkinkah dia merasa mendapat tempat bercerita. Dibelakang pojok kantin ini hening hanya beberapa mahasiswa yang lewat, apalagi semenjak bangunan fakultas baru berdiri, memakan lahan yang dulunya sering dipakai mahasiswa untuk berdiskusi. Disana pula dua tahun lalu aku melihatnya, berkenalan dengannya. Ya, saat itu kami masih mahasiswa baru, sama-sama kebingungan beradaptasi dengan dunia perkuliahan, karena bayangan dunia perkuliahan tidak seindah imajinasi anak SMA.

“Dan sadarkah kamu Raihan !” Sinta merubah posisi kedua tangannya dari sedekap, jadi lebih ekspresif  “Sebenarnya banyak sekali hal yang menggelikan di fakultas kita”

“Apa itu?” Belum selesai Sinta melanjutkan ceritanya aku menyambar, seakan dia menarikku. Hah,, memang aku tidak sabaran.

“Hahaha baiklah” dia tertawa, mungkin karena aku nyerobot tidak sabaran. Tapi lihatlah wajahnya, aku baru melihat dia tertawa seperti itu, lepas dan menenangkan.

“Pembelajaran, ya, pembelajaran di kelas. Selalu saja menjenuhkan, aku sering menemukan mereka yang menejelaskan tentang kebebasan tapi nyatanya mengurung kita dalam ruangan berukuran 5×5. Tugas-tugas, hai Raihan aku tidak habis pikir kenapa kita diberi tugas lalu mengumpulkannya dalam bentuk makalah misal dan setelah itu mungkin dibuang oleh mereka. Ini bukan bualan Raihan aku pernah menemukan sebuah skripsi didapur rumah dosen, saat dua minggu yang lalu berkunjung ke salah satu rumah dosen. Bisa kau bayangkan apa mungkin tugas akhir kita juga akan bernasib sama. Mungkin kalau aku terus bercerita tentang kampus termasuk hal-hal barusan, hmm” ia berhenti sejenak seperti sedang menyusun kata-kata, “Apakah aku terlihat cengeng?”

“Maksudnya?” Aku tidak mengerti mengapa Sinta bertanya demikian.

“Apa mungkin ceritaku barusan sebuah keluhan, apa aku terdengar kekanak-kanakan kalau menceritakan kampus dan menuntut dan beberapa perosalannya”

“Tentu tidak, bukankah itu bagus. Sinta, aku jarang mendengar perempuan di jurusan bercerita tentang sisi lain dari kampus ini, rata-rata yang sering kudengar mereka membicarakan lebih tertarik dengan film terbaru di bioskop kemudian berbondong-bondong menontonnya”

“Sudah kuduga” Sinta sedikit tersenyum “Kamu tahu Raihan aku selalu dianggap kekanak-kanakan saat bercerita dengan teman-temanku, mereka selalu menganggap obrolan seperti ini sangat tidak penting. Raihan kamu tahu, sesungguhnya aku ini perempuan yang ingin merasakan kebebasan. Aku ingin berpikir bebas, tapi kamu tahu hal itu selalu terbentur dengan pemikiran mereka yang kolot. Saat sekolah SMP dulu aku pernah membaca buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling. Aku selalu membayangkan andai bisa seperti Mowgli hidup bebas, berpetualang kemanapun ia suka, berteman dengan jenis hewan-hewan yang beragam, tanpa seribu macam aturang yang mengekang.

Tapi biarlah itu hidup dalam imajinasiku, nyatanya mana mungkin ada hal seperti itu didunia nyata. Apalagi aku hanya perempuan, yang dari kecil diajarkan kepura-puraan. Ya, kepura-puraan. Pura-pura menerima segala bentuk keinginan orang tuaku, mereka ingin agar aku kuliah setelah itu mungkin jadi dosen seperti mereka, hah. Lagi-lagi aku tidak bisa menolak. Karena aku hanya perempuan tidak baik menolak kehendak orang tua akan seperti apa coba kalau perempuan tak patuh?”.

“Sinta, aku sepakat denganmu, dan memang benar dunia seperti itu hanya mungkin ada dalam imajinasi, dan kalau aku boleh sarankan jangan coba-coba. Kamu tahu sendiri kenapa aku jarang masuk karena yang kutemukan hanya kejenuhan”.

“Haha,,,iya aku paham” Sinta tertawa lagi, tangan kirinya menutupi mulut seperti akan bersin.

“Mungkin terdengar seperti pembelaan bagiku yang jarang masuk, tapi percayalah akan selalu ada konsekuensi logis, akan selalu ada harga untuk sebuah kebebasan. Aku hanya anak seorang petani miskin yang setiap hari pergi ke sawah, walaupun terdengar rendahan tapi aku sangat menyukai kegiatan itu karena dari sana aku bisa setiap hari ikut membantu pekerjaan bapakku juga bisa berkumpul bersama adik-adik perempuanku. Bagiku itu makna kebebasan bisa merasakan keahagiaan walaupun sederhana. Tapi bapakku selalu bercita-cita agar aku bisa kuliah, jelas akupun sama sepertimu tidak bisa menolak, hanya saja aku tetap mau melanjutkan karena bapakku menitipkan harapan padakku mau bagaimana lagi. Tapi tahukah kamu kenapa sampai hari ini aku masih pergi kuliah ?”.

“Kenapa memangnya” Sinta mengerutkan dahi mulai penasaran.

“Kamu, kamu Sinta alasanku untuk pergi kuliah. Aku hanya masuk di mata kuliah tertentu yaitu mata kuliah dimana aku bisa melihatmu, dan disaat itu mahasiswa yang lain mahasiswa yang lain melihatku sebelah mata kamu hadir manyapaku mengusir kesendirianku”.

Sekarang Sinta diam tanpa kata, mata sayunya menatapku antusias hilang dari wajahnya yang berganti datar. Mungkinkah dia marah dan akan membenciku. Ah, sialan andai bisa kutarik ucapanku.

“Raihan” ucapnya, tiba-tiba ia berdiri serta merogoh sesuatu dari tasnya “ Terimakasih” ia letakan sebuah kertas didepanku dan pergi. Aku tidak mungkin berteriak atau berlari menahannya, adalah sebuah tindakan tolol untuk perempuan sepertinya diperlakukan seperti itu, maaf Sinta. Kuambil kertas yang ditinggalkannya.

Untuk Raihan sahabatku.

Sebelumnya maaaf jika banyak yang belum bisa aku sampaikan melalui coretan ini, karena aku menulisnya hanya 10 menit sebelum mengumpulkan tugas, waktu yang teramat singkat.

Raihan kau ingat ketika kita pertama kali bertemu dua tahun lalu di pangdem, ketika itu aku sedang kebingungan dan tak tahu harus bagaimana menjadi seorang mahasiswi. Memang tidak pernah terbayang sedikitpun dalam benakku untuk kuliah, sedari kecil aku ingin menjadi seniman, aku tidak ingin menjadi dosen seperti kedua orang tuaku yang selalu sibuk.

Namun itu semua kuambil. Ya, lagi-lagi aku selalu kalah dengan kemauan orang tuaku. Aku muak dengan semua itu, aku merasakan kepayahan dalam diriku sebagai perempuan yang ditakdirkan menjadi makhluk lemah tak berdaya.

 Ayahku pernah membetaritahu alasan kenapa dia memberiku nama Sinta katanya dia terobesi dengan tokoh dalam kisah pewayangan yaitu Dewi Sinta perlambang perempuan cantik  yang ditakdirkan untuk Sri Rama. Tapi sepertinya ayahku luput akan sauatu hal, bahwa Dewi Sinta tidak pernah merasa bahagia. Ia menjadi perempuan yang harus berdiri diperebutkan dan menjadi biang terjadinya peperangan antara dua raja, Rahwana dan Sri Rama. Bukankah itu cukup membuktikan ,bukan hanya dalam sejarah melainkan dongenngpun perempuan selalu dianggap makhluk nomor dua yang lemah, bagaikan gundik yang terus menjadi sorotan dan diperebutkan.

Kamu tahu, selama hidupku aku tidak pernah bisa memilih entah karena aku terlalu bodoh.

Tapi tidak mengapa, karena dua tahun lalu semenjak aku menemukan orang sepertimu. Kau memperkenalkanku dengan Laila Majnun. Aku bisa berdialog dengannya, ia berkata padakku bahwa memang tidak mudah menjadi perempuan, kaum kita (perempuan) selalu dijadikan praktek budaknya zaman. Laila bukan hanya dipenjarakan raganya tapi juga cintanya kepada Qais, kebebasannya sengaja dibenamkan, sungguh tidak adil. Tapi ia dengan gagah berani membuktikan cintanya, ia tantang congkaknya manusia di zaman itu ia buktikan kesetiaan (cinta) dirinya tanpa pernah merasa takut, bahkan menebusnya dengan kematian.

Menurutnya, manusia termasuk perempuan oleh Tuhan diberikan perasaan untuk mencintai, tapi itu diingkari oleh manusia melalui adat dan aturan sehingga tabu bagi perempuan untuk mengungkapkan cinta. Perlakuan yang sangat kejam bukan.

Raihan, kau juga memperkenalkannku pada Sarinah. Sarinah juga berkata padakku sebenarnya perempuan bisa setara dengan laki-laki asal percaya dengan kemampuan dirinya sebagai perempuan, dan mau untuk mengambil peran yang sama. Mungkin bagi mereka yang saklek memahaminya peran perempuan seperti Sarinah hanya dianggap ada ketika masa revolusi kemerdekaan jadi mustahil kalau ada Sarinah di zaman ini, malah ada yang beranggapan Sarinah hanya karangan yang dibuat-buat oleh Presiden Sukarno. Hah,,, bukankah itu terdengar lucu Raihan?.

Aku juga sering membaca tulisan-tulisanmu, seminggu yang lalu, dalam tulisanmu kau menjelaskan tentang peran Halide Edib Adivar. Seorang pejuang perempuan Turki juga tokoh pembaharu pemikiran Turki bersama Mustafa Kemal Pasha Atatṻrk, berjuang merontokan konstitusi islam di Turki sebagai dasar hukum yang sudah usang di zaman modern. Dia (Halide Edib Adivar) juga yang memberi panji-panji terhadap perempuan turki untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan turki melawan feodalisme kakaisaran Ottoman yang selama berabad-abad berdiri. Sungguh luar biasa, terimakasih banyak sudah mengenalkan aku dengan mereka.

Kau tahu, semenjak kau memperkenalkan aku dengan mereka, aku semakin membenci kenyataan hidupku terlahir sebagai perempuan tanpa saudara. Tapi bukan berarti aku mengingkari kodratku sebagai perempuan, kau tahu hanya karena aku perempuan dan anak satu-satunya dalam keluargaku. Orang tuaku dengan mudah menentukan segala ketentuan hidupku. Ya..Segala sisi dari hidupku termasuk masa depanku, bahkan mereka sudah men menentukan jodoh untukku. Tapi Laila, Sarinah, dan Halide Edib Adivar mencontohkan dengan jelas bahwa cinta tak sesederhana itu, menjadi perempuan bukan hanya kawin dan beranak, lebih besar dari perempuan diciptakan untuk hal besar.

Sekarang aku mengerti mengapa orang tuaku menyekolahkanku sampai sejauh ini, karena begitulah ketentuan bagi perempuan jika sudah dianggap dewasa, mau tidak mau ia seperti kambing harus segera dikawinka. Raihan, dunia kaumku dibuat sempit dengan tidak pernah bisa memilih menentukan jalan hidupnya sendiri. Mungkin bagi teman-temanku mereka akan senang mendapatkan tawaran seperti ini.

Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan teman-temanku mereka adalah kenyataan pahit dalam kungkungan hidupku.

Raihan, seperti yang kutulis di awal, dalam hidupku aku tidak pernah bisa memilih. Pilihan orang tuaku memintaku untuk kuliah aku menerimanya. Tapi untuk perjodohan, andai Tuhan memberikan satu permohonan padakku, aku lebih memilih berdiri menantang seperti halnya Laila walaupun ia tahu ia akan hanyut dan mati oleh kaummnya, seperti Sarinah yang berani mengambil perannya sebagai perempuan.

Tanpa tuhan memberiku kesempatan untuk setiap pagi melihatmu dipojok kampus mungkin aku tidak akan pernah tahu cerminan kebebasanku.

Sekali lagi, terima kasih banyak.

 

                                                                                                          Sinta.

*Mahasiswa jurusan PMI

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali