Pupuk, Bibit, dan Sembako Ikut Naik, Petani Sleman Meradang

Doc ; Istimewa

Sleman, RHETOR_ONLINE – Pagi itu cuaca Sleman cukup cerah, terlihat dari cara matahari menampakkan sinarnya. Aktivitas warga mulai bergeliat. Sawah-sawah yang terhampar di dusun Pondok, Condongcatur sudah terlihat dijamah oleh para pencangkul dan pengaritnya. Diamati RHETOR, para aktor penggarap tanah itu nampak serius dan semangat menekuni rutinitasnya.

Sembari berjalan menyusuri tanggul kecil dan khasnya udara persawahan, perlahan RHETOR mulai menemui beberapa petani di daerah itu. Salah satu petani yang berhasil diajak ngobrol bernama Sri Suharti.
Sri Suharti adalah seorang buruh tani yang bertempat tinggal di dusun Pondok, Condongcatur, Depok, sleman. Ia mempunyai satu orang anak bernama Novi, berumur 13 tahun. Suaminya hanya seorang buruh bangunan. Kehidupan sehari-hari yang Suharti lalui  sangat sederhana. Menurut pengakuannya, ia dan keluarganya hanya mengandalkan hasil panen untuk kelangsungan hidupnya. Padahal, sawah yang ia garap hanya milik orang lain.
Kini Sri Suharti mulai mengalami kesulitan, ia harus mencari hutang kesana kemari untuk menjamin kebutuhan hidupnya. Hal itu cukup mendasar, mengingat hasil panen yang menjadi andalan keluarga tersebut tidak cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Parahnya, ditengah-tengah kesusahannya itu kebijakan pemerintah justru tak berpihak padanya. Pupuk, bibit serta beberapa kebutuhan hidupnya bertambah mahal pasca naiknya harga BBM. 
”Ya ngene mbak, mulai pontang-panting golek utangan go nambal pendak dino (ya gini mb, mulai montang-manting mencari hutang untuk kehidupan sehari-hari,” keluh Suharti dengan nada melas.
Resah sudah pasti, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memang cukup banyak menimbulkan keresahan di tengah-tengah kalangan rakyat kecil. Salah satu keresahan itu seperti yang diberitakan RHETOR beberapa saat lalu terkait beban berat yang harus ditanggung beberapa pedagang pasar talok.(baca; http://lpmrhetor.blogspot.com/2014/11/dampak-kenaikan-bbm-bebani-pedagang.html)
Kenaikan harga BBM yang oleh pemerintah ditetapkan beberapa minggu lalu memang menghantam keras perekonomian masyarakat kelas menengah. Kenaikan 2000 rupiah ini menimbulkan dampak yang luas diberbagai sektor, khususnya sektor pertanian. Salah satunya adalah naiknya harga pupuk dan bibit yang dialami oleh para petani. Padahal, pupuk dan bibit padi ini salah satu komponen penting dalam pertanian. Tak hanya resah dan gelisah, kini mereka bak menunggu keajaiban ditengah kesusahan guna menjamin kelangsungan hidupnya.
Hal itu diakui Suharti. Ia memaparkan bahwa penghasilan sekali panen tak cukup untuk menjamin kebutuhan hidup sampai pada penen berikutnya. Apalagi, kata Suharti,  pasca BBM naik, harga pupuk dan bibit semakin mahal. Harga pupuk yang awalnya Rp 95.000 per kuintal (1 karung), kini setelah BBM naik menjadi 100.000 per kuintalnya, bibit yang awalnya 25.000/5 kg kini naik menjadi 30.000/5 kg.
Tak hanya bibit dan pupuk, imbas dari kenaikan BBM juga mempengaruhi terhadap naiknya harga sembako. Kenaikan itu tentu turut berpengaruh pada tingginya kebutuhan hidup para petani, termasuk Suharti. Menurutnya, pengeluaran sehari-harinya kini semakin meningkat. Padahal, penghasilan yang ia dapatkan semakin menipis sebab bertambahnya modal yang harus ia tanggung.
 ”Yo ngene mbak, panen setahun pindo tapi kebutuhanne pendak dino (ya gini mbak, panen setahun dua kali tapi kebutuhannya setiap hari),’’ tuturnya saat diwawancarai RHETOR.
Soal bantuan pemerintah yang dijanjikan lewat pengalihan subsidi BBM, Suharti menyatakan belum dapat kepastian. Padahal, ia tak dapat bergantung pada hasil panen yang menurutnya terancam gagal. Ketakmampuan dirinya memberi memberi pupuk secara rutin dan membeli bibit unggul, aku suharti, yang menjadi penyebabnya.
Hari nampaknya mulai beranjak sore. Tak terasa ngobrol sama Suharti sudah panjang lebar. Namun baginya, meninggalkan rutinitas sejenak untuk menyatakan nasibnya bersama sesamanya sebagai petani membuat  cerita miris  itu mengalir bak semilir angin sawah sore itu. Saat RHETOR datang, Keresahan atas kebijakan pemerintah serasa menemukan ruangnya. 
Usaha dan jerih payah telah ia lakukan bersama suami dan sesamanya sebagai petani dengan penuh pengorbanan. Kini, ditengah kondisi perekonomian yang tidak stabil sebab kenaikan BBM, ia hanya bisa bertumpu pada harapan. Harapan atas datangnya nurani dari pemerintah. 
Kartu sakti yang digadang-gadang dapat memberikan jaminan kesejahteraan dituntut Suharti untuk segera di realisasilkan serta pendistribusiannya tepat sasaran. Sebab tak menutup kemungkinan, kartu yang dijadikan tameng bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM itu malah menjadi bumerang bagi kemandirian rakyat. Imbasnya, Aku Suhart, rakyat bukan berlomba-lomba untuk mengembangkan garapan lahan tani, namun sebaliknya, pemerintah seakan mendukung perlombaan rakyat untuk menjadi miskin. Miskin Mental. [Puput Sahara]

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan