Politik Etis Melahirkan Tokoh Terpelajar


Oleh: Dyah Retno

dr. Soetomo (doc: wordpress.com)

 

Kebijakan politik etis yang dikeluarkan oleh pihak kolonial Belanda membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia. Kebijakan Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Kebijakan politik ini membuat perubahan yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Kebijakan-kebijakan politik etis antara lain, Irigasi, Emigrasi, dan Edukasi.
Politik Etis merupakan politik kolonial baru, pertama-pertama diucapkan secara resmi oleh Van de Venter sebagai anggota parlemen. Dalam pidatonya pada 1892 diutarakan keharusan memisahkan keuangan Indonesia dari Negeri Belanda. Van de Venter menulis karangan dalam majalah De Gids berjudul “Hutang Kehormatan” dalam tulisan tersebut menyatakan Belanda memiliki kewajiban untuk mengembalikan hutang budi dengan memasukan kesejahteraan penduduk negeri jajahan. Saran Van de Venter tersebut kemudian dikenal dengan sebutan “ Trias Etika”yang berisi Pendidikan, Irigasi, dan Emigrasi.
Salah satu kebijakan dari politik etis ini, yaitu edukasi, membawa perubahan yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Dari kebiajakan edukasi  ini muncul para tokoh terpelajar dari bangsa kita sendiri. Para pelajar pribumi ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu pelajar yang peduli dengan nasib bangsa ini dan pelajar yang tidak peduli dengan kondisi bangsa ini. Kaum terpelajar yang peduli dengan nasib bangsa ini membuat suatu gebrakan yang baru bagi perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia yang dahulu memakai senjata, kemudian sekarang kaum pelajar ini melakukan perjuangan pemikiran.
Akhirnya setelah diselanggarakannya politik etis, pada tahun 1908 munculah organisasi kebangsaan bernama Budi Oetomo (BO). Meskipun organisasi hanya beranggota suku Jawa saja, namun bisa dikatakan BO menjadi cikal bakal dari kebangkitan nasional. Selang tiga tahun dari berdirinya BO, yaitu tahun 1911 berdirilah Sarekat Dagang Islam (SDI) di kota Solo oleh H. Samanhudi. Dia adalah seorang pedagang batik dari Laweyan Solo. Sarekat Dagang ini didirikan berlandaskan kepada dua hal, yaitu berdasarkan Agama, Agama Islam. Kedua adalah berdasarkan Ekonomi maksudnya, SDI ini didirikan untuk memperkuat pedangang Islam dari pedagang Cina  yang menguasi perdagangan di Nusantara.
Tahun 1912, SDI berubah nama menjadi Sarekat Islam yang diprakarsai oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Diubahnya SDI menjadi SI adalah untuk memperluas anggota SI sehingga tidak hanya terbatas pada pedagang saja. Adapun tujuan SI didirikan ada empat alasan, pertama SI bertujuan untuk memajukan perdagangan. Kedua membantu anggota-anggota SI yang mengalami kesulitan dalam bidang permodalan.  Kemudian tujuan yang ketiga yaitu memajukan kepentingan rohani dan jasmani penduduk asli. Dan yang terakhir yang keempat adalah memajukan kehidupan agama Islam
Tujuan SI ini tidak mengarah ke politik. Meskipun begitu SI tetap gigih selalu memperjuangkan keadilan dan kebenaran terhadap penindasan dan pemerasan oleh pemerintah kolonial. Disamping bertujuan ekonomi  juga ditekankan adanya saling membantu antara anggota SI. Dengan demikain SI berkembang pesat menjadi organisasi pertama di Indonesia yang mempunyai gerakan yang bersifat nasionalis, demokratis danekonomis, serta berasaskan Islam. Karena perkembangan SI yang begitu pesat, sehingga munculah cabang-cabang SI, atau disebut  juga Sarekat Islam lokal. kira-kira ada 56 SI lokal yang tersebar di wilayah Nusantara.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan