Merusak Alam Berarti Menindas Perempuan

Shinta dan Erna pada Diskusi Terbuka Ekofeminisme di Aula Unit 2, UPY, Yogyakarta. Sabtu (11/11).

lpmrhetor.com, YogyakartaSelasa (14/11). Sebut saja Susanti (bukan nama sebenarnya), seorang ibu penjual tempe asal Kabupaten Bantul, yang lebih memilih menggunakan kedelai lokal ketimbang kedelai impor sebagai bahan utama tempenya. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan, menurutnya dengan memilih kedelai lokal, maka ia telah ikut berkontribusi terhadap gerakan menjaga lingkungan, yang juga bagian dari gerakan membela hak-hak perempuan.

Shinta Maharani, Jurnalis Tempo, dalam Diskusi Terbuka Ekofeminisme di Aula Unit 2, Universitas PGRI Yogyakarta Sabtu lalu (11/11), apa yang dilakukan perempuan semacam Susanti adalah bagian dari gerakan ekofeminisme, sebuah gerakan perempuan yang melihat bahwa eksploitasi alam adalah salah satu sumber utama penindasan terhadap perempuan.

Pilihan Susanti terhadap kedelai lokal, adalah juga penolakan terhadap industrialisme yang dinilai banyak merusak alam. Kenyataan bahwa kedelai impor adalah produk industrialisasi memang tidak dapat dipungkiri lagi. Seperti dilansir dari laman resmi Pusat Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biotek LIPI), kedelai impor yang banyak masuk ke dalam negeri adalah hasil industri rekayasa genetik.

Maraknya praktik pengrusakan alam dan lingkungan sekitar, juga semakin massifnya penggunaan teknologi dan industrialisasi mengakibatkan pemiskinan dan penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi. Penderitaan tersebut tentu saja lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan ketimbang laki-laki. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Erna Wati, aktivis perempuan yang juga pegiat Aliansi Peduli Petani (APP).

“Penindasan perempuan itu terjadi karena hancurnya alam,” kata Erna di forum yang sama dengan Shinta.

Erna melanjutkan, penolakan terhadap praktik pengrusakan alam dan industrialisasi harus dimulai dari hal-hal yang sederhana. Ketergantungan perempuan terhadap barang-barang industri juga sedikit demi sedikit harus mulai dihilangkan.

“Yang dilakukan ekofeminis perempuan sebagai bentuk penolakan terhadap industri, dalam hal yang sederhana, adalah dengan mengurangi pemakaian tisu, mengurangi pembelian air mineral, serta menggunakan pembalut ganti pakai,” kata Erna.[]

 

Reporter Magang: Yusika Intan Insiwi

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Menuntut UGM Tuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

UGM dituntut menangani kasus Agni secara serius dan