The Post, film Steven Spielberg yang diangkat dari kisah nyata ini mengangkat peristiwa dilematis The Washington Post dalam menerbitkan berita kebusukan Amerika dan sifat manipulatif Menteri Pertahanan Amerika, McNamara. Informasi ini bersumber dari serangkaian dokumen rahasia negara yang disebut dengan Pentagon Papers. Dokumen itu menjadi Top Secret Departemen Pertahanan AS terkait keterlibatan pemerintah AS dalam Perang Vietnam. Terdiri dari 47 volume yang disusun dalam rentang tahun 1967-1969.
Data-data dalam Pentagon Papers memaparkan analisa mendalam yang menyatakan bahwa negeri Paman Sam sejatinya tidak memiliki kans untuk berjaya dalam Perang Vietnam. Alasan terbesar yang lantas membuat Amerika Serikat tetap bertahan dan enggan menarik pasukan dari medan tempur adalah ketidakrelaannya untuk menanggung rasa malu karena kekalahan.
Film ini melaju dengan gaya yang menyenangkan dan khas. Setiap premis yang muncul di setiap menitnya membawa penonton kepada puncak keakuratan konflik film. Kisah penting Amerika, sejarah jurnalisme, dan politik berhasil muncul beriringan di film dengan porsi yang pantas. Tokoh-tokoh dalam film tersebut juga dilakonkan dengan ciamik oleh dua artis papan atas Hollywood, Tom Hanks dan Meryl Streep. Selain itu, sinematografi, alur yang melaju dan pendalaman karakter film tidak perlu dipertanyakan lagi begitu melihat nama Steven Spielberg di kolom sutradara.
Film ini dibuka dengan adegan perang yang tengah berkecamuk di Vietnam pada tahun 1966 dan terbantainya pasukan Amerika oleh gerilyawan Vietnam. Analis militer Amerika Serikat, Daniel Elllsberg, yang saat itu bertugas mendokumentasikan perkembangan kegiatan militer AS menyimpulkan bahwa, tidak ada harapan perdamaian dari perang ini.
Hal ini dikarenakan Pasukan Amerika sering mengalami pembantaian oleh pasukan Vietnam. Sedang Amerika harus menang terlebih dahulu untuk menerima perdamaian, agar citra baik dan kuatnya tetap terjaga. Namun, hal tersebut berbeda 180 derajat dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan Amerika, Robbert McNamara kepada khalayak publik.
Daniel pun kecewa atas pernyataan Robbert, ia menilai pemerintah AS telah memanipulasi fakta dan membohongi rakyat. Ia juga menilai bahwa kebohongan ini kalau tidak dibeberkan akan terus memakan banyak korban. Beberapa tahun kemudian, Daniel menyalin dokumen rahasia mengenai perang Vietnam ke dalam berkas yang disebut dengan Pentagon Papers. Ia kemudian mengirimkannya ke surat kabar The New York Times (NYT).
Itikad heroik Daniel pun disambut baik oleh pihak The New York Times. Tiga bulan setelah memperoleh dokumen tersebut, The New York Times menerbitkan berita yang bersumber dari dokumen Pentagon pada halaman utamanya. Sehari setelah diterbitkan, berita ini menjadi perbincangan besar oleh media massa di Amerika.
The New York Times memperoleh penjegalan dari pihak pemerintah karena dinilai dapat mengganggu stabilitas nasional serta bersumber dari dokumen ilegal. Karena terancam pidana. The New York Times pun tunduk pada penjegalan tersebut dan memberikan keseluruhan dokumen Pentagon kepada pemerintah.
Sedang di sisi lain, The Washington Post yang dimiliki oleh Katharina Graham berhasil mendapatkan dokumen Pentagon melalui salah seorang redaktur seniornya, Ben Bagdikian. Ben mendapatkan dokumen itu dari sumber yang sama seperti The New York Times, Daniel Ellsberg. Akan tetapi, penerbitan berita terkait Pentagon Papers ditolak oleh Fritz, redaktur senior The Washington Post saat itu.
Menurutnya, menerbitkan berita tersebut dapat membahayakan keberlangsungan surat kabar dan The Washington Post akan tinggal kenangan. Ben Bradlee yang juga redaktur senior di sana tidak sepakat dengan argumen Fritz. Ia mengatakan, apabila pemberitaan The Washington Post berhasil didikte oleh pemerintah, maka pada saat itu juga The Washington Post sudah menjadi kenangan. Pada akhirnya, keputusan sepenuhnya ada di tangan pemilik tunggal The Washington Post, Katharina Graham atau yang biasa dipanggil Kay dan dia yang harus memilih.
Konflik cerita semakin memanas karena ternyata Katharina Graham adalah mantan seorang pebisnis yang banyak memiliki kenalan dari pejabat pemerintah. Status kepemilikan The Washington Post didapat bukan dari kapasitasnya yang mumpuni sebagai kepala lembaga pers, melainkan dari warisan orang tua dan suaminya. Ia menyebut McNamara, tokoh oposisi media massa, sebagai teman lama.
Kedekatannya dengan McNamara dan sosok aslinya sebagai pebisnis menimbulkan dilematis tersendiri baginya ketika menghadapi kasus dokumen Pentagon. Di satu sisi, Kay harus mengemban tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan surat kabar warisan orang tua dan suaminya yang telah meninggal. Tapi di sisi lain, Kay juga ingin bermain aman dan mempertahankan jaringanya dengan politisi serta pemerintah demi kelangsungan perusahaannya.
Kebetulan pula, saat itu The Washington Post baru saja melantai di bursa saham American Stock Exchange. Setelah mengalami dilema yang panjang, akhirnya Kay menyetujui The Washingtong Post untuk mempublikasikan dokumen-dokumen lain yang lebih lengkap dari Pentagon Papers sebagai headline di halaman pertamanya.
Pilihan telah diambil sepaket dengan resiko. Sehari setelah penerbitan itu, pemberitaan The Washington Post dijegal dan diminta untuk menarik kembali beritanya. Dengan tegas dan hormat permintaan pemerintah tersebut ditolak oleh The Washington Post. Setelah penerbitan berita itu pula, The Washington Post mendapat tekanan dari sejumlah pemegang saham. Meski demikian, langkah The Post menerbitkan cerita itu ternyata menjadi sebuah turning point tren pemberitaan di AS.
Sejumlah koran di negara-negara bagian Amerika mengikuti arus pemberitaan utama The Post dengan memuat Pentagon Papers sebagai headline. Arus pemberitaan ini berujung pada demonstrasi di depan pengadilan, ratusan masyarakat Amerika berkumpul menuntut agar hakim membebaskan redaktur-redaktur surat kabar karena telah mempublikasikan informasi rahasia kepada masyarakat.
Peristiwa pembocoran Pentagon Papers berakhir dengan kemenangan bagi surat kabar. Supreme Court yang terdiri dari sembilan hakim agung serta berperan sebagai pengadil tertinggi di Amerika Serikat menilai bahwa NYT dan The Post tidak bersalah. Hal itu dikuatkan oleh pernyataan salah satu hakim agung, Hakim Hugo L. Black.
“Bapak pendiri bangsa telah menyetujui kebebasan pers, dan perlindungan itu pasti ada. Untuk memenuhi peran penting dalam demokrasi, pers hadir untuk melayani yang diperintah, bukan seorang pemerintah,” ujar Black yang ditirukan ulang melalui sambungan telepon oleh sekretaris redaksi The Post, Meg Greenfield.
Media adalah Provokator Berbahaya Bagi Pemegang Otoritas
Mereka yang memegang otoritas selalu didorong oleh kepentingan sendiri. Dan akan lebih senang jika kepentingannya ‘kebetulan’ selaras dengan kesejahteraan bersama, sehingga mereka akan lebih mudah dan logis dalam berdalih dan membiaskan kepentingannya. Agar kestabilan mereka dan rakyat tetap terkendali, para pemegang otoritas itu harus membiaskan dan menyembunyikan kepentingan mereka dari khayalak. Siapa saja yang mencoba membuka kedok kepentingan mereka, mau tidak mau, harus segera disingkirkan.
Informasi adalah hal yang bisa menggerakan manusia untuk melakukan sesuatu. Tanpa informasi, manusia akan kebingungan dalam mengambil langkah. Media sebagai penyumbang informasi termasif kepada masyarakat adalah motif terbesar dari pergerakan massa. Maka jika ada satu hal yang dikhawatirkan pemerintah dari pemicu gejolak massa, hal itu pastilah media. Bagi pemerintah, kunci kestabilan masyarakat adalah ketertundukan media pada pemerintah. Berangkat dari sini lah, kita banyak menemukan konflik-konflik pers dan pemerintah dalam sejarah peradaban manusia.
Setelah menonton film ini secara keseluruhan, saya mengerti bahwa adu kuat media dan pemerintah sudah berlangsung. Setidaknya, sejak satu abad belakangan, penentu kemenangan antara kedua kubu ini adalah reaksi masyarakat. Masyarakat yang tidak bereaksi adalah pucuk cita bagi pemerintah. Mengingat bahwa mereka tidak bisa secara langsung membungkam sebuah lembaga surat kabar karena kita hidup di negara demokrasi.
Peristiwa bersejarah ini harusnya menjadi pelajaran penting bagi para jurnalis setelahnya. Bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Setelah gagal membungkam media dengan hukum, pemerintah akan terus mencari cara lain. Menyingkirkan investor-investor perusahaan surat kabar atau dengan merawat kebodohan masyarakat, sehingga mereka teralihkan untuk tidak menjadi penerima berita.
Saya jadi berpikir bahwa, untuk memenangi pertempuran dengan pemegang otoritas yang egois, tugas jurnalis bukan hanya sekedar menuliskan berita, tetapi bagaimana agar masyarakat menerima berita dan bereaksi atas sebuah berita. Sehingga memikirkan strategi untuk mengambil hati masyarakat, menyajikan dengan pantas dan dapat dipahami masyarakat adalah bagian penting dari jurnalistik praktis.
Pengorbanan Brilian dan Cerdas Untuk Menghentikan Peperangan
Selain keberanian pemilik The Post dalam mengambil keputusan, perbuatan heroik Daniel tidak boleh dilupakan. Tanpa keberaniannya mencuri dokumen rahasia, entah selanjutnya berapa banyak korban jiwa yang akan melayang dalam peperangan tak berarti tersebut. Peperangan atas nama gengsi dan citra Amerika yang dibalut baik dengan nama perang perdamaian nan patriotis. Apakah mereka kelak menyesali peperangan-peperangan itu? atau dalam kasus ini, apakah mereka akan mensyukuri terhentinya peperangan itu?
Tidak kunjung dapat dipastikan apakah mereka melakukan dan merasakan hal itu atau tidak, tapi Dan pasti merasakannya. Ia tidak takut masuk penjara, ia sendiri, dan ia tetap mengarungi pilihannnya. Bahkan pada suatu adegan di film The Post tersebut, Dan bilang bahwa apa artinya satu nyawaku ini dibandingkan nyawa-nyawa yang bisa tetap hidup tanpa harus berperang ke Vietnam. Toh, yang disajikannya adalah kebenaran. Dan paham betul tiga prinsip jurnalisme: kewajiban akan kebenaran berita, kebebasan dari sumber yang diliput, dan jurnalisme harus membuat hal penting menjadi menarik dan relevan.
Film ini membutuhkan fokus lebih ketika menontonnya, mengingat bahwa sebuah peristiwa besar yang dipentaskan ulang dalam 2 jam kurang. Selain itu, pengenalan tokoh film ini dilakukan seiringan dengan berjalannya plot. Sehingga kita akan banyak mengerutkan dahi seraya bertanya-tanya di kepala “ini siapa?” di awal-awal film. Akan tetapi pengenalan tersebut sudah selesai sebelum sampai puncak konflik. Sehingga ketika sampai bagian konflik, penonton tidak lagi berkenalan dengan karakter masing-masing tokoh, akan tetapi penonton diajak merasakan dan memasuki pikiran dilematis pemeran utama.
The Post mengingatkan kembali para juralis untuk mempertahankan elemen-elemen jurnalisme. Film yang berdasarkan pada kisah nyata dalam dunia jurnalistik, yang kaya akan makna pengorbanan dan keberanian dalam mengambil keputusan beserta resikonya.
The Post | 2017 | Sutradara: Steven Spielberg | Penulis: Liz Hannah, Josh Singer | Produksi: Steven Spielberg, Kristie Macosko Krieger, Amy Pascal | Negara: Amerika | Durasi: 116 menit | Pemeran: Meryl Streep, Tom Hanks, Sarah Paulson, Bob Odenkirk, Tracy Letts, Bradley Whitford, Bruce Greenwood, Matthew Rhys.
Bokir, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga.









