Beranda / Berita / Terkini / Gelombang Protes Rakyat: Kritik Atas Kelalaian Negara dan Krisis Representasi Politik

Gelombang Protes Rakyat: Kritik Atas Kelalaian Negara dan Krisis Representasi Politik

lpmrhetor.com – Ribuan massa yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat melakukan aksi demonstrasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI pada Jum’at, (29/08/2025). Aksi tersebut diselenggarakan sebagai bentuk ekspresi ketidakpuasan masyarakat terhadap kelalaian negara dalam menjalankan kewajiban konstitusional. Semestinya negara melindungi warganya dari tindakan sewenang-wenang aparat serta kebijakan elit yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan masyarakat kecil. 

Dalam momentum tersebut, demonstran menyuarakan tuntutan agar negara lebih konsisten dalam menegakkan prinsip keadilan sosial, menjamin perlindungan hak-hak dasar warga negara, serta mengedepankan kebijakan yang inklusif dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Aksi ini sekaligus menjadi cerminan atas meningkatnya kesadaran politik masyarakat dan kritik kolektif terhadap praktik penyelenggaraan kekuasaan yang dinilai telah menyimpang dari prinsip demokrasi dan negara hukum.

Adib, yang berprofesi sebagai pengemudi ojek daring, mengajukan kritik terhadap praktik ketenagakerjaan yang dinilai belum sesuai dengan prinsip keadilan. Ia juga menilai bahwa sejumlah kebijakan pemerintah tidak menunjukkan keberpihakan yang memadai terhadap kepentingan masyarakat.

“Jangan sampai ada kebijakan yang jadi kayak trial and error. Ada kebijakan yang menurut mereka bagus, tapi ketika dilempar ke masyarakat menjadi heboh, terus ditarik lagi. Itukan buang-buang waktu dan anggaran,” keluhnya.

Selaras dengan Adib, seorang warga Bekasi bernama Saipul turut mengungkapkan kekecewaannya terhadap wakil rakyat yang dinilai tidak menjalankan fungsi representasi secara maksimal, serta tidak menunjukkan keberpihakan yang memadai terhadap kepentingan masyarakat. 

Selain itu, ia juga menyoroti perilaku sebagian anggota legislatif yang dianggap tidak mencerminkan etika publik. Khususnya melalui penggunaan ujaran yang tidak pantas di media sosial. 

“Perwakilan rakyat yang tidak membela atau berpihak kepada rakyatnya mending dicopot saja,” ucap Saipul.

Pada saat yang bersamaan, massa aksi berupaya menerobos pintu Gedung DPR sambil meneriakkan kata “pembunuh”. Teriakan bernada kecaman tersebut menjadi bentuk luapan kekecewaan terhadap aparat penegak hukum yang dinilai gagal menciptakan situasi kondusif. Kondisi yang menyebabkan jalannya demonstrasi pada 28 Agustus 2025 menjadi peristiwa yang diwarnai suasana duka.[]

Reporter : Kristiawan Putra Nugraha

Editor : Ruhana Maysarotul Muwafaqoh

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *