lpmrhetor.com- Saat momen peringatan Hari Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (PPHAM) tahun 2023, Solidaritas Perempuan Kinasih (SP Kinasih) menggarisbawahi problem agraria. Hari peringatan yang berlangsung selama 29-30 November 2023 ini dikemas dalam 4 agenda: Bincang Kisah dan Sejarah PPHAM, Solidaritas Persidangan Warga Wadas di Pengadilan Negeri Sleman, Feminist Stage, dan Pameran.
Isu agraria makin menjadi momok bagi perempuan pembela HAM di Indonesia. Sana Ullaili, Ketua Badan Eksekutif SP Kinasih, mengatakan bahwa dari beberapa kesulitan perempuan pembela HAM saat ini, konflik agraria merupakan tantangan yang berat.
“Mereka banyak mengalami situasi yang tidak mudah, mengalami ketidakadilan berlapis dibandingkan para perempuan di luar konflik itu. Karena memang isu-isu agraria itu bukan isu yang semua orang berani dan awareness, karena isu itu sangat berkaitan dengan keamanan dirinya,” keluh Sana.
Rangkaian acara dibuka dengan lokakarya Bincang Kisah dan Sejarah PPHAM di University Club (UC) UGM. Acara tersebut bertujuan mengedukasi perempuan untuk menyuarakan hak-haknya atas perampasan ruang hidup.
“Sebenarnya setiap orang yang menjadi pembela HAM punya hak yang dijamin oleh negara. Nah, ketika ruang-ruang itu dirampas oleh negara maka sebenarnya kita sebagai perempuan pembela HAM berhak mengatakan tidak, Right to say no,” tuturnya.
Di hari kedua, SP Kinasih bersama aksi solidaritas lain, turut mendampingi warga Wadas yang sedang melakukan gugatan hukum di Pengadilan Negeri Sleman.
“Kita juga mengajak seluruh peserta lokakarya untuk memberikan solidaritas kepada pembela HAM di Wadas yang saat ini sedang melakukan gugatan perbuatan hukum,” imbuh Sana.
Setelah persidangan berakhir, agenda dilanjutkan dengan Pameran dan Feminist Stage di UC UGM. Feminist Stage diadakan untuk menggalang solidaritas dari berbagai macam pihak. Pada saat berlangsungnya kegiatan Feminist Stage, peserta dipersilakan untuk berbagi dan menyuarakan situasi ketidakadilan yang dialami perempuan.
“Luar biasa, karena mengingatkan saya dengan zaman dulu. Saya ikut demonstrasi di tahun 90-an, di zamannya Pak Harto mau lengser. Bahkan, dulu saya dikejar sampai kampus. Nah acara ini mengingatkan memori saya ke zaman mahasiswa,” ucap Muryani, peserta Feminist Stage.
Muryani juga merasa bersyukur atas hadirnya organisasi yang mau menaungi dan menyuarakan hak-hak perempuan.
Peringatan Hari PPHAM ini dihadiri oleh perempuan dari berbagai daerah seperti: Kendeng, Kedung Ombo, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, dan Purwokerto.
“Yang pasti teman-teman jaringan yang merepresentasikan organisasi yang bergerak di isu disabilitas, keberagaman gender dan orientasi seksual, isu agraria, isu pangan, isu keberagaman, dan banyak lagi,” tutur Sana.
Dalam kesempatan ini, Sana berharap agar para perempuan tetap terus berjuang meskipun rintangan masih menjamur.
“Nggak perlu takut. Nggak perlu mundur atas berbagai macam rintangan yang dihadapi, karena sejatinya kita tidak sendiri. Banyak perempuan yang berjuang bersama kita untuk kedaulatan. Para perempuan pejuang HAM adalah Ibu Bumi dan Perempuan Ibu Rakyat,” pungkasnya. []
Reporter: Naufal Zabidi
Editor:Hifzha Aulia Azka









