Beranda / Berita / Terkini / Teater ESKA Libatkan Teman Difabel dalam Pentas Kincir Ria, Tegaskan Kebahagiaan Milik Semua

Teater ESKA Libatkan Teman Difabel dalam Pentas Kincir Ria, Tegaskan Kebahagiaan Milik Semua

lpmrhetor.com Teater ESKA menutup pentas produksi ke-37 bertajuk Kincir Ria: Siklus Lupa & Gelak Tawa dengan menegaskan bahwa kebahagiaan dan seni teater merupakan hak semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Pesan tersebut disampaikan melalui manifesto yang diiringi peraga atau penerjemah bahasa isyarat di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026) malam.

Pementasan yang berlangsung selama dua jam sejak pukul 19.30 WIB itu dihadiri banyak penonton, termasuk jajaran dosen UIN Sunan Kalijaga.

Sutradara pementasan, Khuluqul Karim, mengatakan bahwa proses produksi melibatkan teman-teman dari lembaga difabel secara langsung. Mereka berperan dalam mengajari dan melatih tiga aktor Teater ESKA untuk menggunakan bahasa isyarat.

“Iya betul, melibatkan langsung. Ada dua orang yang terlibat di situ untuk mengajari, melatih tiga aktor kami untuk melakukan bahasa isyarat,” ujar Khuluqul.

Pertunjukan ini berangkat dari gagasan bahwa kebahagiaan adalah hak segala bangsa. Gagasan tersebut diuji melalui gambaran kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang, menurut tim produksi, semakin absurd dan penuh kontradiksi. Naskah pementasan ditulis oleh Khuluqul Karim, Rimbun Rahmadhani Emglek, dan Wildan Dzul Haq melalui pembacaan ulang Serat Kalatidha dan konsep cakra manggilingan.

Dalam pertunjukan tersebut, kincir ria menjadi gambaran kehidupan yang membawa manusia naik dan turun tanpa pernah benar-benar sampai ke suatu tujuan. Siklus itu, menurut tim produksi, pada akhirnya berujung pada lupa dan gelak tawa. Lupa membuat peristiwa lama cepat ditinggalkan demi perayaan berikutnya, sementara tawa dapat muncul ketika manusia tidak lagi mengetahui cara menghadapi keadaan yang sebenarnya.

Khuluqul mengungkapkan bahwa proses produksi menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah waktu latihan bahasa isyarat yang berlangsung kurang dari dua pekan serta keterlibatan sejumlah anggota Teater ESKA yang masih baru. Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan melalui pementasan.

“Kebahagiaan itu tidak hanya memberikan panggung pada yang sudah memiliki panggung. Kita mencoba untuk memberikan panggung kepada teman-teman yang baru juga,” ujarnya.

Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., yang hadir menyaksikan pementasan tersebut, turut menyampaikan selamat kepada Teater ESKA. Ia berharap Teater ESKA terus hidup, menginspirasi, dan menjadi bagian dari kekuatan kebudayaan di Indonesia.

Reporter: Rosa Amelia

Editor: Ferypahlavani