lpmrhetor.com – Indonesia memiliki beragam suku, bahasa, agama, adat dan budaya. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa ada lebih dari 300 etnik atau tepatnya 1340 suku bangsa, 748 bahasa daerah, 6 agama resmi, dan puluhan penganut aliran kepercayaan.
Brigadir Jenderal Polisi Drs. Merdisyam, M.Si., menyampaikan bahwa keragaman di Indonesia tidak hanya menjadi kekayaan bangsa saja, tetapi juga dapat memicu konflik SARA. Hal itu diungkapkannya dalam Pengenalan Budaya dan Akademik Kampus (PBAK) di Gedung Prof. Amin Abdullah, UIN Sunan Kalijaga, Rabu (28/08).
Tidak hanya itu, ia menyebutkan bahwa perkembangan IPTEK dan globalisasi juga berpotensi menimbulkan berbagai ancaman di Indonesia. Bahkan dapat menyebabkan munculnya tantangan keberagaman globalisasi, dan kejahatan dimensi baru yang disertai memudarnya nilai luhur kebangsaan, intoleransi, terorisme, serta aksi massa separatis.
“Persaingan antar bangsa menginginkan NKRI menjadi lemah, bubar, terpecah, dan memudarnya nilai-nilai luhur budaya bangsa, ini akibat globalisasi yang tidak di filter dengan baik,” jelasnya.
Merdisyam menambahkan bahwa mahasiswa juga harus berperan dalam menghadapi dinamika integritas bangsa dengan memperkuat demokrasi Pancasila dan mematuhi empat pilar kebangsaan (Pancasila, NKRI, Undang-undang Dasar 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika).
“Menghadapi tantangan dinamika integritas bangsa dan menjaga persatuan, perlu diperkuat Demokrasi Pancasilanya, serta patuh hukum, dan menjaga empat pilar kebangsaan,” ungkap Merdisyam.
Ia menambahi bahwa mahasiswa sebagai akademisi haruslah mengedepankan aspek rasionalitas dan kritis dalam berfikir.
“Mahasiswa belajar, berkembang dan tumbuh di lingkungan akademisi, haruslah mengedepankan aspek rasionalitas, kritis, beretika santun, menjadi generasi patuh hukum serta norma-norma yang hidup di masyarakat, bahkan menjadi Agent of Change,” tutupnya. []
Reporter: Lutfiana Rizqi S
Editor: Isti Yuliana









